Dingin pendingin ruangan di Aula Seminar Fakultas Ekonomi pagi ini terasa lebih menusuk dari biasanya, atau mungkin itu hanya manifestasi dari debar jantungku yang berdetak dengan ritme yang tidak sinkron. Aku duduk di barisan ketiga, menggenggam pulpen hingga buku jariku memutih. Di depan sana, di bawah sorotan lampu panggung yang terang benderang, Sarah berdiri dengan angkuh. Ia mengenakan blazer krem yang sangat pas di tubuhnya, memegang pointer laser seolah itu adalah tongkat kerajaan.
Di layar proyektor besar di belakangnya, terpampang judul penelitian yang seharusnya milikku: *“Analisis Komparatif Perilaku Konsumen: Variabel Kepercayaan dan Loyalitas dalam Ekosistem Digital.”*
Tentu saja, datanya sempurna. *R-square* yang tinggi, nilai signifikansi di bawah 0,05, dan grafik yang menunjukkan tren linier tanpa cela. Semua itu adalah hasil kerja keras berbulan-bulan yang ia curi dariku, dibantu oleh Rama yang duduk di barisan belakang dengan senyum bangga yang memuakkan.
"Demikian presentasi saya. Data ini membuktikan bahwa loyalitas bukan sekadar angka, melainkan korelasi yang nyata antara ekspektasi dan realitas," ucap Sarah, menutup sesinya dengan senyum manis yang diarahkan langsung pada dewan penguji.
Dosen penguji, Pak Broto, mengangguk-angguk puas. "Luar biasa, Saudari Sarah. Data Anda sangat bersih. Hampir terlalu bersih untuk ukuran mahasiswa tingkat akhir. Ada pertanyaan dari audiens sebelum kita ma**k ke sesi tanya jawab penguji?"
Inilah saatnya.
Aku menarik napas panjang, membiarkan oksigen memenuhi paru-paruku yang terasa menyempit. Aku berdiri, perlahan namun pasti. Saat Sarah melihatku, senyumnya sedikit goyah, namun ia dengan cepat menguasai diri. Ia merasa di atas angin karena ia pikir aku sudah kalah.
"Saya, Lulu," suaraku terdengar datar, mekanis, persis seperti algoritma yang sering kurakit bersama Reno di lab komputer. "Saya punya satu pertanyaan teknis terkait validitas data di slide nomor empat belas."
Sarah mengerutkan kening, mencoba tetap terlihat tenang. "Silakan, Lulu. Bagian mana yang kurang jelas?"
"Anda menyebutkan bahwa tidak ada *outlier* yang signifikan dalam data mentah Anda. Namun, jika kita melihat distribusi normalnya, ada anomali kecil di variabel 'X2'. Bisakah Anda membuka file *Syntax* SPSS Anda dan menjalankan fungsi *Log History* untuk memastikan tidak ada manipulasi pada *input* awal?"
Hening sejenak. Pak Broto menaikkan kacamatanya, tertarik. "Itu permintaan yang ma**k akal. Silakan, Sarah, tunjukkan pada kami bagaimana Anda mengolah data mentahnya secara langsung."
Wajah Sarah mulai memucat. Ia melirik Rama di belakang, namun pria itu hanya bisa menatap dengan bingung. Sarah tertawa kecil, suara yang dipaksakan. "Tentu saja, tapi itu hanya akan membuang waktu. Semuanya sudah saya rangkum di lampiran..."
"Prosedur akademik menuntut transparansi, Sarah," potong Pak Broto tegas. "Buka filenya."
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Sarah berjalan ke laptop. Ia tidak tahu bahwa semalam, saat ia meninggalkan laptopnya sejenak di perpustakaan, Reno telah menyisipkan sebuah skrip otomatis ke dalam file `.sps` miliknya melalui akses *remote* yang kami buat. Skrip itu bersifat pasif, hingga seseorang memicu perintah *Run* pada bagian log.
Sarah mengklik folder, membuka aplikasi SPSS yang berat itu, dan menuju ke jendela *Syntax*. Ia berpikir ia hanya akan menunjukkan barisan kode standar. Begitu kursornya menekan tombol *'Run All'*, jantungku terasa berhenti berdetak.
*Klik.*
Layar proyektor tidak menampilkan tabel distribusi yang diharapkan. Sebaliknya, layar itu berkedip dua kali, lalu sebuah jendela terminal berwarna hitam muncul di tengah-tengah presentasi yang elegan itu. Barisan teks berwarna merah mulai bergulir dengan kecepatan tinggi, seperti air terjun digital yang tak terbendung.
*WARNING: DATA INCONSISTENCY DETECTED.*
*FILE SOURCE: LULU_FINAL_THESIS_BACKUP.SAV*
*MODIFICATION DETECTED: USER ‘SARAH_ADMIN’ AT 02:14 AM, 14th OCTOBER.*
*ACTION: CHANGING VARIABLE ‘X’ VALUES FROM 2.4 TO 4.8 TO ACHIEVE SIGNIFICANCE.*
Suara bisik-bisik mulai menjalar di ruangan seperti api di atas rumput kering. Aku melihat mata Sarah membelalak lebar, bibirnya terbuka tapi tak ada suara yang keluar. Di layar, skrip Reno terus bekerja, menampilkan perbandingan *side-by-side* antara data asli yang ia curi dariku dan data palsu yang ia presentasikan.
"Apa... apa ini?" suara Pak Broto meninggi, penuh ketidakpercayaan.
Layar proyektor kini menampilkan tangkapan layar log perubahan yang lebih spesifik. Di sana, tertulis jelas jalur direktori asalnya: *C:/Users/Sarah/Downloads/Rama_Shared/Lulu_Skripsi_Final.*
Nama Rama terpampang jelas di sana sebagai perantara. Aku menoleh ke belakang, melihat Rama yang kini wajahnya seputih kapas, mencoba menyelinap keluar dari pintu aula, namun langkahnya terhenti oleh tatapan tajam asisten dosen yang berjaga di pintu.
"Ini bukan punya saya! Ini virus! Laptop saya diretas!" teriak Sarah histeris, mencoba menutup paksa laptopnya, namun skrip itu telah mengunci sistemnya. Gambar terakhir yang muncul di layar proyektor adalah sebuah grafik perbandingan yang menunjukkan bahwa 80% data Sarah adalah fabrikasi.
Aku tetap berdiri diam, menatap Sarah yang kini mulai terisak di depan podium. Tidak ada rasa puas yang melonjak seperti yang kubayangkan. Yang ada hanyalah rasa hampa yang dingin. Logika dataku benar, pengkhianatan mereka bisa dibuktikan secara matematis, namun melihat kehancuran di depan mataku membuat variabel perasaanku mengalami *error*.
Pak Broto berdiri, wajahnya merah padam karena merasa dibohongi. "Saudari Sarah, sesi ini dihentikan. Ikuti saya ke ruang Dekat sekarang juga. Dan Saudara Rama, jangan berani-berani meninggalkan gedung ini."
Sarah terduduk di lant** panggung, blazer kremnya kini tampak kusut. Ia menatapku dengan kebencian yang murni, air mata merusak riasannya yang sempurna. Di tengah kekacauan itu, aku merasakan sebuah getaran di saku ponselku.
Sebuah pesan singkat dari Reno: *"Logic wins, Lulu. Tapi bersiaplah, karena setelah ini, angkamu tidak akan pernah sama lagi."*
Aku melihat ke arah proyektor yang masih menampilkan log manipulasi data itu. Rahasia besar fakultas kini te******* di depan semua orang. Aku telah memicu bom nuklir akademik, dan saat debunya mengendap nanti, aku tidak yakin apakah aku masih memiliki tempat untuk kembali.
Pandanganku beralih pada pintu aula yang terbuka lebar. Pak Dekan baru saja ma**k dengan wajah yang jauh lebih menyeramkan daripada Pak Broto. Aku tahu, ini bukan lagi sekadar soal skripsi yang dicuri. Ini adalah awal dari perang yang lebih besar.
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!