Udara di dalam ruang rapat Senat lant** tiga ini terasa lima derajat lebih dingin daripada suhu yang tertera di panel AC. Mungkin itu hanya halusinasiku, atau mungkin karena sistem saraf simpatikku sedang bekerja lembur, memompa adrenalin ke seluruh pembuluh darah hingga ujung jariku terasa beku. Aku meremas map cokelat di pangkuanku. Di dalamnya bukan sekadar kertas, melainkan bukti otentikβsebuah korelasi nyata antara pengkhianatan emosional dan manipulasi digital.
"Saudari Lulu Anindita, silakan menempati kursi saksi."
Suara Dekan yang berat dan berwibawa memecah keheningan yang menyesakkan. Aku berdiri, melangkah pelan menuju kursi kayu di tengah ruangan yang dikelilingi oleh meja-meja berbentuk U. Di sisi kiri, Sarah duduk dengan wajah pucat namun dagu yang masih terangkat tinggi, sementara Rama berada di sebelahnya, menunduk dalam-dalam seolah sedang mencoba menghitung butiran debu di lant** marmer.
Aku tidak menoleh pada mereka. Fokusku tertuju pada barisan kursi penonton terbatas di belakang. Di sana, Reno duduk bersandar dengan tangan terlipat di dada. Dia tidak tersenyum, tapi tatapan matanya yang tajam seolah mengirimkan transmisi kekuatan yang tidak bisa terbaca oleh sensor mana pun. Dia mengangguk sekali. *Execute the plan, Lu,* bisik sorot matanya.
"Berdasarkan laporan yang ma**k, telah terjadi manipulasi data penelitian tingkat lanjut pada skripsi Saudari Sarah yang melibatkan akses ilegal ke basis data laboratorium," Profesor Handoko, ketua komite etik, memulai sesi dengan nada datar yang mengerikan. "Saudari Lulu, silakan paparkan temuan Anda."
Aku menarik napas panjang, membiarkan oksigen memenuhi paru-paruku sebelum membuka map. Aku tidak memulai dengan tangisan atau makian. Aku memulai dengan apa yang paling aku kuasai: angka.
"Pada tanggal 14 Mei, pukul 23.45, terjadi entri data yang tidak lazim pada variabel kontrol penelitian saya," suaraku terdengar lebih stabil dari yang kuduga. Aku membagikan salinan *log activity* yang sudah kucetak. "Seseorang menggunakan akun administrator lab untuk mengubah nilai signifikansi p-value dari 0.052 menjadi 0.048 agar data tersebut terlihat valid secara statistik. Metadata menunjukkan kode akses tersebut milik Rama, namun IP Address yang digunakan berasal dari asrama putri, tepatnya dari perangkat milik Sarah."
Aku bisa mendengar tarikan napas tertahan dari salah satu anggota komite. Sarah bergeser gelisah, jemarinya meremas rok kainnya hingga kusut.
"Kenapa Anda begitu yakin ini dilakukan secara sengaja untuk merugikan Anda, bukan sekadar kesalahan teknis?" tanya Profesor Handoko lagi.
Inilah bagian yang paling aku benci. Bagian di mana statistik bertemu dengan realitas yang memuakkan.
"Karena manipulasi ini tidak hanya terjadi sekali," lanjutku, suaraku sedikit bergetar kali ini. "Setiap kali saya memperbaiki *syntax* penelitian saya, Sarah selalu memiliki salinan yang identik dengan sedikit modifikasi agar terlihat lebih 'orisinal' miliknya. Hal ini hanya bisa terjadi jika ada seseorang yang memberikan kunci akses 'pintu belakang' ke penyimpanan pribadi saya. Dan orang itu adalah Rama."
Aku akhirnya menoleh ke arah Rama. Dia mengangkat wajahnya, dan untuk sesaat, aku melihat bayangan pria yang dulu pernah menjanjikanku masa depan di sela-sela waktu belajar kami. Sekarang, dia hanya terlihat seperti variabel pengganggu yang harus dibersihkan dari model regresiku.
"Rama, apakah benar Anda memberikan kata sandi server laboratorium kepada Sarah?" tanya Dekan langsung.
Rama bungkam. Keringat membasahi pelipisnya. "Saya... saya hanya ingin membantu Sarah. Dia terancam drop-out karena datanya selalu *error*," bisiknya parau.
"Dengan cara menghancurkan jerih payah kekasihmu sendiri?" Suara itu bukan berasal dari meja komite. Itu dari belakang. Reno.
Profesor Handoko mengetukkan palu, memperingatkan audiens untuk tenang, namun kerusuhan kecil sudah terjadi di kepalaku. Rasanya seperti melihat seluruh kehidupan pribadiku dibedah di bawah mikroskop. Semua orang di ruangan ini sekarang tahu bahwa aku adalah wanita bodoh yang dikhianati oleh kekasihnya sendiri demi rival akademisnya. Reputasiku sebagai 'Si Jenius Data' yang tak tersentuh runtuh, digantikan oleh label 'Korban' yang menyedihkan.
"C**up!" Sarah tiba-tiba berdiri, wajahnya memerah padam. "Lulu memang pintar, tapi dia kaku! Dia memperlakukan semua orang seperti angka! Rama tidak tahan dengannya! Aku tidak mencuri datamu, Lulu, aku hanya... mengambil apa yang seharusnya tidak disia-siakan olehmu."
Aku merasakan hantaman di dadaku. Logikaku mencoba memproses kalimat itu, tapi yang keluar justru rasa perih yang nyata. Ruangan itu mendadak gaduh. Para dosen berbisik-bisik, melemparkan pandangan menghakimi ke arah kami bertiga. Drama picisan ini telah menodai kesucian ruang etik.
"Data tidak pernah berbohong, Sarah," kataku, suaraku kini sangat rendah namun tajam. "Manusia bisa memanipulasi perasaan, janji, bahkan selingkuh di belakang punggung orang lain. Tapi jejak digital tidak memiliki emosi. Dia tetap di sana, menunggu untuk ditemukan. Kamu tidak hanya gagal dalam statistik, kamu gagal sebagai manusia."
Profesor Handoko menghela napas berat, menandatangani sebuah berkas di depannya. "Komite telah melihat c**up bukti. Manipulasi data adalah pelanggaran berat tingkat satu. Kami akan merapatkan sanksi diskualifikasi skripsi untuk Saudari Sarah dan skorsing untuk Saudara Rama. Sidang ini ditunda sementara untuk pengambilan keputusan akhir."
Saat palu diketuk, aku merasa seluruh tenagaku menguap. Aku segera membereskan kertas-kertasku dengan tangan gemetar. Aku ingin keluar dari sini. Aku ingin lari dari tatapan kasihan para dosen dan tatapan benci Sarah.
Saat aku melangkah menuju pintu exit, Rama mencoba mencegatku. "Lu, tunggu. Aku bisa jelaskan..."
Aku tidak berhenti. Aku bahkan tidak menoleh. Namun, sebuah tangan kokoh menghalangi langkah Rama. Reno berdiri di depanku, menjadi tameng yang tak tertembus.
"Analisisnya sudah selesai, Rama. Hasilnya signifikan: kamu bukan lagi bagian dari variabel hidupnya," ucap Reno dengan nada dingin yang membuat Rama terdiam seribu bahasa.
Reno kemudian berbalik, menatapku dengan binar yang sulit diartikan. Dia menyentuh pundakku sekilas, memberikan kehangatan yang kontras dengan dinginnya ruangan tadi. Kami berjalan keluar menuju koridor yang panjang.
"Kamu melakukannya dengan hebat," puji Reno saat kami sudah berada di luar jangkauan telinga orang lain.
"Aku merasa seperti baru saja menelanjangi diriku sendiri di depan umum," sahutku lesu, menyandarkan punggung di tembok koridor yang dingin. "Semua orang tahu sekarang. Aku adalah 'data' yang c****."
Reno berhenti melangkah, memutar tubuhnya menghadapku. Dia menatapku lurus-lurus, matanya mengunci pandanganku. "Lu, dalam pemrograman, kadang kita butuh *crash* total untuk tahu bagian mana dari sistem yang harus ditulis ulang dari nol. Kamu bukan c****. Kamu baru saja melakukan *debugging* besar-besaran."
Aku mencoba tersenyum, tapi gagal. Ponselku bergetar. Sebuah notifikasi muncul di layar. Itu adalah email dari Biro Akademik dengan subjek: *Tindak Lanjut Laporan Kecurangan - Update Status Skripsi*.
Tanganku kembali gemetar saat menyentuh layar ponsel. Aku tahu sanksi untuk mereka sudah jelas, tapi ada satu hal yang mengganjal di benakku sejak tadi. Jika data skripsiku sudah terkontaminasi oleh manipulasi Sarah sejauh ini, apakah aku masih punya c**up waktu untuk memperbaikinya sebelum batas akhir kelulusan bulan depan? Ataukah kemenangan di ruang etik ini sebenarnya adalah kekalahan telat bagi masa depanku sendiri?
"Reno," bisikku sambil menatap layar ponsel dengan pucat. "Ada yang aneh dengan lampiran ini."
Lanjutkan Membaca Bab 19 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!