Angka tidak pernah memiliki agenda tersembunyi. Mereka tidak bisa berpura-pura manis di depan, lalu menikam dari belakang. Bagiku, barisan angka di kolom-kolom SPSS adalah kejujuran murni. Itulah sebabnya, menghabiskan malam Jumat di Laboratorium Komputer Komputasi yang pengap lebih ma**k akal daripada menunggu balasan WhatsApp dari Rama yang statusnya *online* tapi hanya memberikan harapan kosong.
Bau ozon dan debu hangat dari tumpukan CPU menyambutku saat aku menarik kursi putar di meja nomor 14. Di depanku, 500 lembar kuesioner fisik menumpuk seperti menara kertas yang siap runtuh. Tugas malam ini sederhana namun sakral: memindahkan data-data itu ke dalam perangkat lunak statistik. Satu kesalahan ketik berarti satu *outlier*, dan satu *outlier* berarti validitas penelitianku akan c****. Aku tidak menoleransi c****.
"Tiga ratus empat puluh dua... Klik. Simpan. Tiga ratus empat puluh tiga... Klik. Simpan," gumamku pelan, seirama dengan ketukan ujung jari pada *numpad* keyboard.
Suara klik-klik yang repetitif itu adalah meditasi bagiku. Namun, saat aku ma**k ke responden nomor 344, kursor di layar monitor berkedip tidak wajar. Gerakannya melambat, menyeret di belakang perintah tetikusku seolah-olah ia sedang berenang di dalam sirup kental. Aku mengernyit.
"Jangan sekarang," bisikku pada monitor datar di depanku.
Aku menekan tombol *Save* dengan agresif. Alih-alih ikon disket kecil yang berputar, layarku justru membeku. Lingkaran biru kecilβlingkaran kematianβberputar tanpa henti. Detak jantungku mulai berakselerasi, melampaui frekuensi normal manusia dalam kondisi istirahat. Aku mencoba menekan *Ctrl+Alt+Del*, tetapi Windows seolah mengabaikan perintahku.
"Butuh bantuan atau mau terus-terusan memelototi layar itu sampai meledak?"
Suara berat dan serak itu datang dari balik partisi di barisan belakang. Aku menoleh tajam. Di sana, di pojok ruangan yang remang-remang, duduk seorang laki-laki yang tadinya kukira hanya bayangan. Ia mengenakan *hoodie* hitam yang lengannya disingsingkan hingga siku, menyingkapkan tangan yang sibuk mengutak-atik jeroan sebuah CPU yang terbuka.
"Ini cuma masalah *cache*," jawabku dingin, mencoba mempertahankan harga diri sebagai mahasiswi dengan nilai A di mata kuliah Statistika Lanjutan. "Aku bisa menanganinya sendiri."
Laki-laki ituβReno, kalau aku tidak salah ingat namanya dari desas-desus anak-anak lab sebagai teknisi paling sinis seantero fakultasβberdiri. Ia berjalan mendekat dengan langkah malas, tangan kirinya memegang obeng kecil. Rambutnya berantakan, dan matanya yang tajam tampak seperti orang yang tidak tidur selama tiga hari berturut-turut.
"Masalah *cache*, katamu?" Reno berdiri di belakang kursiku, memberikan aroma kopi pahit dan logam ke udara di sekitarku. "Coba lihat itu. Layarmu tidak sedang *lagging*. Itu namanya *memory leak* karena kamu membuka terlalu banyak variabel yang tidak perlu. Lagipula, siapa yang masih pakai versi SPSS purba ini kalau bisa pakai skrip R yang lebih efisien?"
Aku mendengus, memutar kursi sedikit untuk menghadapnya. "Versi ini lebih stabil untuk uji reliabilitas. Dan aku tidak butuh ceramah tentang efisiensi dari seseorang yang bahkan tidak memakai seragam lab dengan benar."
Reno hanya mengangkat bahu, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang menyebalkan. "Stabilitas itu cuma ilusi buat orang yang takut variabelnya berantakan. Coba geser."
"Apa?"
"Geser, Lulu. Sebelum komputer ini benar-benar *crash* dan data 500 respondenmu itu menguap jadi partikel debu."
Bagaimana dia tahu jumlah respondenku? Aku tidak sempat bertanya karena Reno sudah membungkuk, melewati batas ruang personal yang biasanya kujaga dengan ketat. Tangannya yang dingin menyentuh punggung tanganku yang masih memegang tetikus, memaksaku untuk melepaskannya. Aku terpaku. Ada getaran aneh yang tidak bisa kujelaskan secara matematis saat kulitnya bersentuhan dengan kulitku.
Reno tidak menggunakan tetikus. Jarinya menari di atas keyboard dengan kecepatan yang mengerikan. Ia ma**k ke dalam terminal *command prompt*, mengetikkan barisan perintah yang tidak kupahami. Layar monitor yang tadinya biru statis tiba-tiba berubah hitam dengan tulisan-tulisan hijau yang mengalir deras seperti hujan di film *Matrix*.
"Kenapa kamu melakukan itu? Itu bukan cara standar memperbaiki SPSS!" seruku panik.
"Karena standarmu itu membosankan," sahut Reno tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Dan... tunggu sebentar."
Gerakan jari Reno mendadak berhenti. Matanya menyipit, menatap barisan angka yang muncul di layar hitam itu. Aku ikut condong ke depan, mencoba membaca apa yang dia lihat. Di sana, di antara barisan data mentah yang sedang dipulihkan, aku melihat sesuatu yang janggal.
Ada sebuah *syntax* tersembunyi. Sebuah perintah otomatis yang tidak pernah kuma**kkan. Perintah itu tertulis: *IF (Respondent_ID > 0) THEN Data_Manipulation_Mode = ACTIVE.*
"Apa itu?" suaraku bergetar.
Reno menarik kursi di sebelahku, wajahnya tidak lagi sinis, melainkan berubah menjadi sangat serius. "Ini bukan *error* biasa, Lulu. Seseorang sudah ma**k ke akun labmu dan memasang *backdoor*. Siapa pun itu, dia bukan hanya ingin membuat komputermu rusak. Dia sedang mengubah setiap data yang kamu ma**kkan secara *real-time* tanpa kamu sadari."
Duniaku rasanya berputar. Aku menatap tumpukan kuesioner di meja. Jika data yang kuma**kkan selama empat jam terakhir sudah dimanipulasi, berarti semua analisisku akan menjadi sampah. Reputasiku, skripsiku, kelulusanku... semuanya berada di ujung tanduk.
"Siapa yang punya akses ke akunmu?" tanya Reno, suaranya kini lebih rendah, hampir seperti bisikan.
Bayangan Sarah, teman satu bimbinganku yang selalu bertanya tentang progres penelitianku, melintas di kepala. Dan Rama... Rama sering meminjam laptopku dengan alasan mengerjakan tugas.
Sebelum aku bisa menjawab, layar monitor tiba-tiba berkedip merah terang. Sebuah pesan muncul di tengah layar, menutupi semua pekerjaan kami: *DO NOT PLAY WITH THE DATA, LULU.*
"Reno, apa yang terjadi?" aku mencengkeram lengan *hoodie*-nya tanpa sadar.
Reno tidak menjawab. Ia kembali mengetik dengan brutal, tetapi sebuah bunyi 'pip' panjang terdengar dari dalam CPU, dan seketika itu juga, laboratorium menjadi gelap total. Listrik padam hanya di barisan mejaku. Di tengah kegelapan itu, hanya ada satu sumber cahaya: layar ponsel Reno yang menyala, memperlihatkan sebuah notifikasi ma**k dari nomor yang sangat kukenal.
Pesan itu bukan untuk Reno, tapi untukku, yang entah bagaimana bisa terhubung ke sistem lab yang sedang diretasnya. Sebuah pesan singkat dari Rama: *Lulu, jangan terlalu kaku dengan angka. Kadang, kebenaran perlu sedikit dimodifikasi.*
Napas duniaku seolah berhenti. Di sampingku, Reno menoleh, cahanya ponselnya menyinari wajahnya yang kini terlihat sangat waspada. "Sepertinya," bisik Reno, "musuhmu bukan cuma sekadar perangkat lunak yang rusak."
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!