Jubah toga ini terasa lebih berat dari yang aku bayangkan. Bahannya yang sedikit kasar bergesekan dengan tengkukku, sementara topi persegi di atas kepala ini seolah menjadi pemberat bagi ribuan baris kode dan rumus regresi yang selama empat tahun ini memenuhi otakku. Di dalam aula yang riuh oleh suara kipas angin raksasa dan bisik-bisik orang tua yang bangga, aku duduk tegak. Punggungku kaku, jari-jariku tanpa sadar meraba pinggiran ijazah di dalam map kain berwarna biru tua.
IPK 3,92. Secara statistik, aku telah mencapai puncak signifikansi. Data ini valid, tidak terbantahkan, dan bersih dari bias. Namun, saat namaku dipanggil ke depan dan aku menyalami Dekan, mataku justru menyisir barisan kursi di area teknisi di sudut belakang aula.
Aku mencari satu orang yang tidak mengenakan toga.
Keluar dari gedung aula, hawa panas Jakarta langsung menyergap. Aroma bunga sedap malam dari karangan bunga ucapan selamat bercampur dengan bau aspal yang terpanggang. Aku melihat Rama di kejauhan, berdiri di samping Sarah. Keduanya tampak canggung, berusaha melebur dengan kerumunan, seolah skandal manipulasi data yang hampir menghancurkan masa depanku beberapa bulan lalu tidak pernah terjadi. Rama mencoba menangkap mataku, mungkin ingin mengucapkan sesuatuβpermintaan maaf atau sekadar basa-basiβtapi aku memalingkan muka.
Dalam logikaku, mereka bukan lagi variabel yang relevan. Mereka hanyalah *outliers*, titik data pencilan yang sudah dibuang dalam proses *data cleaning*. Keberadaan mereka tidak lagi memengaruhi hasil akhir penelitian hidupku.
"Berhenti memasang wajah seperti sedang menghitung standar deviasi, Lu. Ini hari kelulusanmu, bukan ujian komprehensif."
Suara serak itu membuatku berputar. Reno bersandar di pilar beton, masih dengan gaya khasnya: kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku dan sebatang rokok yang belum dinyalakan terselip di balik telinga. Dia tidak membawa buket bunga besar atau boneka beruang berpakaian toga. Dia hanya memegang sebuah *flashdisk* kecil yang diikat dengan pita merah lusuh.
"Aku sedang melakukan observasi lingkungan," balasku, mencoba mempertahankan nada datarku, meski jantungku mendadak melakukan deviasi dari ritme normalnya.
Reno melangkah mendekat. "Observasimu selesai. Hipotesis terbukti: Lulu Sang Dewi SPSS akhirnya lulus dengan predikat pujian, sementara para pengkhianat itu tenggelam dalam error yang mereka buat sendiri." Dia menyerahkan *flashdisk* itu padaku. "Ini hadiahmu."
Aku mengernyit, menerima benda kecil itu. "Apa ini? Dokumentasi kecurangan Sarah yang tersisa?"
Reno terkekeh, suara rendahnya tenggelam di antara riuh rendah suara orang-orang yang berfoto. "Bukan. Itu semua *script* Python yang kita rakit di lab dulu. Aku sudah merapikannya. Anggap saja itu kenang-kenangan dari masa-masa kita menjadi detektif data ilegal."
Aku menggenggam *flashdisk* itu erat. Dinginnya logam menyentuh telapak tanganku yang berkeringat. Aku menatap mata Reno, mencari sesuatu di balik tatapan sinisnya yang biasanya. Selama ini, aku selalu menganggap Reno sebagai asisten, rekan kerja, atau sekadar teknisi lab yang kebetulan lewat di saat duniaku runtuh. Namun, saat ini, melihatnya berdiri di hadapanku di tengah hiruk pikuk kelulusan, aku menyadari satu hal yang selama ini sengaja kublur dalam analisisku.
"Reno," panggilku pelan.
"Hm?"
"Dalam statistika, ada yang disebut dengan variabel pengganggu. Sesuatu yang tidak kita ma**kkan dalam model, tapi bisa mengubah seluruh hasil prediksi."
Reno menaikkan sebelah alisnya, seringai tipis muncul di sudut bibirnya. "Dan kau mau bilang kalau aku adalah gangguan itu?"
Aku menarik napas panjang. Oksigen yang ma**k terasa lebih lega dari sebelumnya. "Kau adalah variabel yang tidak pernah aku sangka akan muncul. Kau tidak ma**k dalam rencana studiku, tidak ada dalam target pencapaianku, dan jelas tidak bisa aku hitung dengan rumus apa pun." Aku menjeda, menelan keraguan yang tersisa. "Tapi tanpa variabel itu, model hidupku sekarang... tidak akan valid."
Reno terdiam. Untuk pertama kalinya, aku melihat teknisi lab yang selalu punya jawaban sinis itu kehilangan kata-kata. Dia melangkah selangkah lagi, hingga aku bisa mencium aroma kopi hitam yang selalu melekat pada pakaiannya.
"Lulu," ucapnya pelan, suaranya kini terdengar berbedaβlebih lembut, tanpa perlindungan sarkasme. "Hidup itu bukan SPSS. Kau tidak bisa terus-menerus menekan tombol 'Analyze' dan berharap hasilnya selalu 0,05. Kadang, kau hanya perlu menerima kalau ada *error* yang membuat hasilnya jauh lebih menarik."
Dia mengulurkan tangan, merapikan tali toga yang melintang di bahuku. Sentuhan jarinya yang kasar namun hangat membuatku terpaku. Di titik ini, logikaku menyerah. Aku tidak bisa mengategorikan perasaan ini ke dalam tabel mana pun. Ini bukan korelasi linier yang sederhana; ini adalah sesuatu yang jauh lebih kompleks, penuh dengan prob***litas yang menakutkan sekaligus mendebarkan.
"Lalu, apa langkah selanjutnya?" tanyaku, suaranya sedikit bergetar. "Setelah semua data ini dikumpulkan dan disidangkan?"
Reno tersenyum, tipe senyum yang tidak pernah dia tunjukkan di dalam lab komputer yang gelap. "Kita mulai pengumpulan data baru. Tapi kali ini, tidak perlu ada variabel kontrol. Kita biarkan semuanya berjalan acak."
Aku baru saja akan membalas saat sebuah notifikasi dari ponsel di balik jubah togaku bergetar hebat. Aku merogohnya dan melihat layar. Sebuah email ma**k dari perusahaan analitik data ternama di Singapuraβtempat yang selama ini menjadi impian tertinggiku. Namun, di bawahnya, ada satu pesan WhatsApp dari nomor tak dikenal yang berisi sebuah baris kode pendek.
Mataku menyipit membaca baris kode itu. Itu bukan kode sembarangan. Itu adalah perintah *shutdown* untuk sistem keamanan pangkalan data fakultas yang baru saja diperbarui.
Aku menatap Reno. Dia hanya mengedipkan sebelah mata. "Hadiah kelulusanmu bukan cuma *flashdisk* itu, Lu. Dunia ini jauh lebih luas dari sekadar ruang sidang skripsi. Siap untuk melakukan sedikit eksperimen di lapangan yang sebenarnya?"
Jantungku berdegup kencang. Di satu sisi, ada masa depan cerah yang terjamin di depan mata. Di sisi lain, ada ajakan ma**k ke dalam ketidakpastian yang penuh risiko bersama pria yang baru saja merusak seluruh teori logikaku.
Aku melihat ke arah gerbang kampus, lalu kembali ke arah Reno. Pilihanku sekarang tidak hanya akan menentukan karierku, tapi juga mendefinisikan siapa diriku yang sebenarnya: apakah aku tetap menjadi Lulu yang kaku, atau Lulu yang berani bermain dengan variabel cinta yang penuh error?
Tepat saat itu, ponselku bergetar lagi. Kali ini sebuah pangg***n telepon ma**k dari Dekan. Wajah Reno berubah serius, dan aku tahu, hari tenangku sebagai wisudawan baru saja berakhir sebelum benar-benar dimulai. Ada sesuatu yang salah dengan sistem data kampus, dan sepertinya mereka tahu siapa yang baru saja menyentuhnya.
Lanjutkan Membaca Bab 20 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!