Layar monitor LED berukuran dua puluh inci itu memantulkan cahaya biru yang menusuk mataku, tetapi aku tidak peduli. Bagiku, pendaran cahaya itu adalah satu-satunya kejujuran yang tersisa di dunia ini. Di dalam jendela IBM SPSS Statistics versi terbaru yang terbuka, terdapat ribuan baris angka yang telah kurapikan selama berbulan-bulan. Variabel independen, dependen, hingga variabel kontrol—semuanya tersusun rapi seperti barisan prajurit yang siap memberiku kemenangan: gelar sarjana.
Aku mengembuskan napas panjang, membenarkan letak kacamata yang sedikit melorot di pangkal hidung. Bau khas laboratorium komputer—perpaduan antara karpet lembap, pembersih lant** sisa tadi pagi, dan aroma elektronik yang panas—biasanya menenangkanku. Di sini, di pojok Lab Komputer 3, aku merasa punya kendali penuh. Tidak ada Rama yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar, tidak ada drama pertemanan yang melelahkan. Hanya ada aku dan prob***litas.
"Oke, Lulu. *Let’s see the magic*," bisikku pada diri sendiri.
Jempolku bergerak lincah di atas *trackpad*. Aku mengarahkan kursor ke menu *Analyze*, lalu turun ke *Regression*, dan memilih *Linear*. Jantungku berdegup sedikit lebih kencang—sensasi yang biasanya hanya kurasakan saat melihat diskon buku statistika atau saat dosen pembimbing memuji metodologiku. Aku memindahkan variabel-variabel ke kotak yang sesuai, memastikan *Confidence Interval* berada di angka 95%.
Klik. *OK*.
Aku menunggu selama beberapa detik sementara prosesor komputer bekerja. Biasanya, jendela *Output* akan muncul dengan tabel-tabel yang rapi. Koefisien determinasi yang tinggi, nilai p-value di bawah 0,05, dan grafik residual yang tersebar normal. Itulah yang seharusnya terjadi. Itulah yang secara matematis sudah kuprediksi berdasarkan uji coba pra-penelitian minggu lalu.
Namun, saat jendela putih itu muncul, mataku terbelalak.
"Hah? Apa-apaan ini?"
Aku mendekatkan wajah ke layar hingga hidungku hampir menyentuh permukaan monitor. Tabel *Descriptive Statistics* menunjukkan sesuatu yang mustahil. Pada variabel 'Lama Penggunaan Media Sosial', nilai *Mean* yang muncul adalah 740 jam. Aku mengerutkan kening. 740 jam? Dalam satu hari hanya ada 24 jam. Bagaimana mungkin rata-rata responden menggunakan media sosial lebih dari jumlah jam dalam sebulan?
Tanganku mulai terasa dingin. Aku segera menggulir layar ke bawah, menuju tabel *Coefficients*. Nilai Signifikansi-nya menunjukkan angka 0,999. Secara statistik, itu berarti variabelku sama sekali tidak memiliki pengaruh, atau dengan kata lain, penelitianku sampah.
"Nggak mungkin. Minggu lalu p-value-nya 0,021. Datanya valid," gumamku, suaraku mulai bergetar.
Aku kembali ke jendela *Data View*. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba memanggil kembali logika dinginku. Mungkin aku salah mema**kkan data? Mungkin ada salah ketik? Aku melakukan *sorting* berdasarkan nilai tertinggi.
Mataku menangkap deretan angka yang membuat perutku mual. Di baris 45 hingga 60, angka-angka yang seharusnya berada di skala Likert 1 sampai 5, berubah menjadi angka fantastis: 99, 100, 88. Dan di kolom usia, beberapa responden tercatat berusia 250 tahun, 400 tahun, bahkan ada yang tertulis -10 tahun.
"Ini g***," makiku tertahan. Aku mengepalkan tangan hingga buku-buku jariku memutih. "Ini bukan *human error*. Ini sabotase."
Data ini sudah ku-input dengan teknik *double-entry*. Aku menyimpannya dalam *flashdisk* dan akun *cloud* yang terproteksi kata sandi. Tidak mungkin data yang sudah bersih tiba-tiba bermutasi menjadi monster pencilan seperti ini. *Outlier* ekstrem ini tersebar secara sistematis, seolah-olah seseorang sengaja ingin merusak distribusi normal dataku.
Aku mencoba melakukan *Undo*, tapi perintah itu tidak berguna untuk perubahan data seluler yang sudah tersimpan. Aku membuka folder cadangan di Google Drive-ku. Jantungku mencelos. Keterangan di samping file tersebut tertulis: *Last modified: 1 hour ago*.
Satu jam yang lalu? Satu jam yang lalu aku sedang berada di kantin, dipaksa mendengarkan permintaan maaf Rama yang basi karena dia menghilang sepanjang akhir pekan. Komputer lab ini kutinggalkan dalam keadaan terkunci—setidaknya itu yang kuingat.
"Lulu? Belum balik?"
Sebuah suara berat dan serak memecah keheningan lab. Aku tersentak, hampir menjatuhkan tasku dari atas meja. Aku menoleh dan mendapati Reno berdiri di ambang pintu lab. Dia mengenakan jaket *hoodie* hitam yang tampak kebesaran, tangannya memegang obeng dan sebuah *motherboard* tua. Rambutnya berantakan, dan lingkaran hitam di bawah matanya mempertegas kesan sinis yang selalu terpancar dari wajahnya.
"Dataku..." aku terbata, menunjuk layar dengan jari yang gemetar. "Dataku rusak, Ren. Semuanya."
Reno berjalan mendekat, langkahnya malas namun pasti. Dia berdiri di belakangku, sedikit membungkuk untuk melihat layar. Bau kopi pahit dan sedikit aroma rokok menguar dari pakaiannya. Dia tidak langsung bicara. Dia hanya menyipitkan mata, memperhatikan tabel-tabel anomali yang baru saja membuat duniaku runtuh.
"99 di skala Likert?" Reno mendengus pendek, sebuah tawa kering yang lebih mirip ejekan. "Respondenmu ini manusia atau alien dari planet Neptunus?"
"Ini nggak lucu, Reno!" suaraku naik satu oktav. "Ini data skripsiku. Sidangku tinggal dua minggu lagi. Kemarin semuanya normal. Sekarang lihat! Ada nilai negatif di variabel yang nggak mungkin negatif!"
Reno menarik sebuah kursi putar di sebelahku dan duduk dengan sant**, seolah-olah kehancuran masa depanku hanyalah masalah teknis kecil. "Data nggak berubah sendiri, Lu. Komputer itu benda mati paling jujur. Kalau hasilnya sampah, berarti ada yang ma**kin sampah ke dalamnya."
"Maksudmu aku ceroboh?" tantangku, menatapnya tajam.
Reno tidak membalas tatapanku. Jarinya yang panjang dan kurus tiba-tiba merebut *mouse* dari tanganku. Dia tidak membuka SPSS, melainkan membuka terminal *command prompt* dan mulai mengetikkan rentetan kode yang tidak kupahami.
"Aku nggak bilang kamu ceroboh. Aku bilang ada yang sengaja bikin kamu kelihatan ceroboh," ucapnya datar sambil terus mengetik.
Aku terpaku melihat pergerakan tangannya. "Apa yang kamu lakukan?"
"Mengecek *log* akses sistem," jawabnya tanpa menoleh. "Kalau ada yang menyentuh komputer ini saat kamu pergi, mereka pasti ninggalin jejak. Di dunia digital, nggak ada kejahatan yang benar-benar sempurna, Lu. Sekalipun itu cuma manipulasi angka di software statistik jadul ini."
Layar monitor berubah menjadi hitam dengan tulisan-tulisan hijau yang bergerak cepat. Aku menahan napas. Logikaku yang biasanya berjalan linier kini bercampur aduk dengan rasa takut yang mulai merayap. Jika benar ada yang sengaja merusak dataku, siapa? Siapa yang c**up mengerti statistik untuk menghancurkanku dengan cara sehalus ini?
Tiba-tiba, gerakan tangan Reno terhenti. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi, menyilangkan tangan di depan dada.
"Ketemu," katanya singkat.
Aku condong ke depan, mataku mencari-cari jawaban di antara barisan kode itu. "Apa? Siapa?"
Reno menunjuk ke satu baris kode yang menunjukkan alamat IP dan waktu akses. "Seseorang ma**k pakai akun tamu satu jam yang lalu. Dia nggak cuma buka file-mu, dia pakai skrip otomatis buat ganti angka-angka tertentu secara acak tapi di rentang yang ekstrem."
Dia menoleh padaku, matanya yang tajam menatap langsung ke dalam mataku. "Dan tebak apa, Lu? Orang ini nggak cuma pintar statistik. Dia tahu persis di mana kamu simpan file *backup*-mu."
Rasa dingin yang tadi hanya di tangan, kini menjalar ke seluruh tubuhku. Pikiranku langsung melayang pada satu nama. Seseorang yang tahu kata sandiku, seseorang yang tahu betapa berartinya penelitian ini bagiku, dan seseorang yang belakangan ini sering menghabiskan waktu bersama Sarah, rival terberatku di jurusan ini.
"Rama?" bisikku, hampir tak terdengar.
Reno hanya mengangkat bahu, tapi sorot matanya menunjukkan sesuatu yang lebih dari sekadar rasa kasihan. "Mau nangis di sini sampai lab tutup, atau mau aku ajarin cara ngelacak balik siapa yang punya IP ini?"
Aku menatap layar monitor yang masih menampilkan data 'alien' milikku. Pilihan di depanku terasa seperti variabel kontrol yang hilang. Jika aku melaporkan ini, reputasi fakultas bisa hancur karena kebocoran sistem keamanan lab. Jika aku diam, aku gagal. Namun, saat melihat kilat penuh tantangan di mata Reno, aku tahu ada pilihan ketiga.
"Tunjukkan padaku," kataku dengan suara yang kini jauh lebih tegas. "Tunjukkan cara menghancurkan balik orang yang main-main sama data ini."
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!