Lampu neon di langit-langit Lab Komputer Terpadu berkedip dua kali sebelum akhirnya menyala dengan dengung statis yang tipis. Udara dingin dari AC sentral menyapu tengkukku, namun keringat dingin tetap merembes di balik kemeja flanel yang kukenakan. Aku menarik kursi putar di meja nomor 14, tempat favoritku karena posisinya paling pojok dan jauh dari jangkauan CCTV yang sering kali hanya menjadi pajangan.
Jemariku bergerak cepat, menari di atas kibor yang sedikit lengket. Aku mema**kkan kata sandi, menunggu logo Windows berputar dengan lambatβseolah-olah perangkat keras ini sengaja mengulur waktu untuk menyembunyikan kenyataan pahit dariku. Begitu desktop terbuka, aku langsung menuju folder tersembunyi dengan label 'Final_Project_Lulu'.
Mataku menyipit. Ada sesuatu yang janggal. *Date modified* pada file utama `.sav` milikku menunjukkan waktu pukul 14:30. Padahal, seingatku, aku terakhir kali menyentuh file itu pagi tadi pukul 09:00 sebelum kelas Metodologi Penelitian dimulai.
"Tidak mungkin," bisikku pelan. Suaraku menggantung di udara lab yang sunyi, hanya ditemani deru kipas CPU yang bekerja keras.
Aku membuka file SPSS tersebut. Jantungku berdegup kencang, frekuensinya melampaui batas normal distribusi normal manapun. Saat layar data muncul, duniaku seolah berhenti berputar. Kolom variabel 'Independen_X' yang berisi data survei tiga ratus responden telah berubah total. Angka-angka yang tadinya membentuk pola korelasi signifikan kini menjadi acak, penuh dengan *outliers* yang tidak ma**k akal. Lebih buruk lagi, beberapa sintaks yang sudah kususun berbulan-bulan hilang tanpa jejak.
Aku mencoba menarik napas dalam-dalam, mencoba memanggil kembali logika statistika yang selama ini menjadi peganganku. Dalam dunia data, tidak ada efek tanpa sebab. Tidak ada *error* tanpa malfungsi sistem atau intervensi manusia. Dan ini bukan malfungsi sistem.
"Siapa..." gumamku, jemariku gemetar saat mengklik kanan pada file dan melihat *Properties*. Riwayat akses menunjukkan bahwa file ini telah dibuka melalui akun tamu, namun jalur eksekusinya dilakukan secara manual, bukan melalui proses *auto-save*.
Tiba-tiba, suara gesekan sepatu di lant** granit luar lab memecah keheningan. Bunyinya terburu-buru, seperti seseorang yang sedang berusaha melarikan diri dari sesuatu. Aku tersentak, instingku mengambil alih. Aku meninggalkan komputernya dalam keadaan menyala dan setengah berlari menuju pintu kaca lab yang buram.
Begitu aku mendorong pintu, aku melihat sekelebat bayangan di ujung lorong yang remang-remang. Rambut panjang yang dikuncir kuda, tas bahu bermerek yang talinya berwarna emas, dan langkah kaki yang berisik karena hak sepatu setinggi lima senti.
Itu Sarah.
Dia tidak menoleh, tapi bahunya tampak tegang. Dia berjalan hampir seperti berlari menuju tangga darurat, bukan lift. Ada kepanikan dalam gestur tubuhnya yang biasanya anggun dan tenang. Aku mematung di ambang pintu, tanganku masih memegang gagang besi yang dingin.
"Sarah?" panggilku, pelan, hampir tidak terdengar oleh diriku sendiri.
Dia tidak berhenti. Justru langkahnya makin cepat. Hilang di balik pintu besi tangga darurat yang menutup dengan dentuman keras, bergema di sepanjang koridor fakultas yang mulai sepi karena jam kuliah sudah usai.
Aku bersandar pada dinding, merasakan lututku lemas. Otakku mulai melakukan pemrosesan data secara otomatis. Sarah tidak punya urusan di lab ini sore ini. Dia adalah asisten dosen di lab komunikasi, bukan statistik. Dan kenapa dia harus terlihat seperti baru saja mencuri sesuatu?
Logikaku mencoba mencari pembelaan. *Mungkin dia hanya lewat. Mungkin dia mencari orang lain.* Namun, variabel-variabel di kepalaku tidak bisa berbohong. Data penelitianku rusak tepat setelah dia berada di sekitar sini. Hubungannya dengan Ramaβyang belakangan ini makin sering menghilang dengan alasan 'rapat organisasi'βmulai berkelebat di pikiranku seperti *slide* presentasi yang rusak.
Aku kembali ma**k ke dalam lab dengan langkah gont**. Layar monitor masih menyala, menampilkan angka-angka c**** yang menertawakan kerja kerasku selama tiga tahun. Aku merasa seperti sedang melihat bangkai dari masa depanku sendiri.
"Ini bukan sekadar *error*," kataku pada keheningan. "Ini sabotase."
Aku terduduk di depan layar, menatap kursor yang berkedip-kedip menanti perintah. Air mata mulai menggenang, mengaburkan pandanganku terhadap angka-angka di layar, tapi aku segera menyekanya dengan kasar. Menangis tidak akan mengembalikan nilai *p-value* yang hancur.
Tiba-tiba, sebuah jendela *pop-up* kecil muncul di sudut kanan bawah layar. Pesan sistem sederhana, namun c**up untuk membuat bulu kudukku berdiri.
*Remote Access Connection Terminated.*
Jantungku mencelos. Seseorang baru saja memantau aktivitas layarku secara jarak jauh dari komputer lain di jaringan ini. Seseorang yang mungkin masih ada di gedung ini, melihatku menyadari kehancuran dataku.
Aku menoleh ke sekeliling lab yang gelap. Di antara deretan komputer yang mati, aku merasa ada sepasang mata yang mengawasiku dari balik kegelapan. Aku bukan lagi pengamat data yang memegang kendali; aku adalah subjek eksperimen yang baru saja ma**k ke dalam jebakan yang tidak kuketahui parameternya.
Suara langkah kaki kembali terdengar, tapi kali ini bukan dari arah lorong. Suara itu berasal dari dalam lab, di balik partisi meja server yang menjulang tinggi di ujung ruangan. Seseorang berdehem pelan, suara yang sinis namun terasa sangat familier.
"Kalau mau menangis, jangan di depan monitor. Uap air matamu bisa merusak komponen *motherboard*."
Aku tersentak dan berbalik. Di sana, bersandar pada rak server dengan tangan bersedekap, berdirilah Reno. Teknisi lab yang terkenal paling tidak ramah seantero fakultas, menatapku dengan tatapan datar yang sulit diartikan. Di tangannya, dia memegang sebuah *flash drive* berwarna merah menyala.
"Lo melihat apa yang dia lakukan, kan?" tanyaku dengan suara serak.
Reno tidak menjawab. Dia hanya berjalan mendekat, bayangannya memanjang di bawah pendar lampu lab yang pucat. "Pertanyaannya bukan apa yang gue lihat, Lulu. Tapi apa yang mau lo lakukan setelah tahu bahwa angka-angka kesayanganmu itu sudah dikhianati?"
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!