Layar laptop itu memancarkan radiasi cahaya biru yang mulai membuat mataku perih, namun aku tidak bisa berpaling. Di hadapanku, jendela IBM SPSS Statistics 25 masih terbuka, menampilkan deretan angka yang seharusnya menjadi prioritas utamaku malam ini. Namun, kursor itu tidak bergerak pada kolom *Variable View*. Mataku justru terpaku pada layar ponsel yang tergeletak di samping touchpad, menampilkan sebuah profil Instagram yang seharusnya tidak kusentuh jika aku ingin menjaga kewarasanku.
Rama sudah menghilang selama empat puluh delapan jam. Secara statistik, prob***litas dia kehilangan ponsel, mengalami kecelakaan tanpa ada kabar di berita, atau mendadak amnesia adalah di bawah lima persen. Prob***litas yang lebih tinggi—dan yang paling menyakitkan untuk diakui secara logika—adalah dia sengaja menghindar. Dia melakukan *outlier* dalam rutinitas komunikasi kami.
Tanganku yang dingin meraih ponsel. Aku menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungku yang ritmenya mulai berantakan, tidak beraturan seperti data *skewed* yang tidak bisa dinormalkan. Aku membuka *Story* milik Sarah.
Hanya butuh tiga detik bagi duniaku untuk runtuh secara matematis.
Di sana, di sebuah kafe *rooftop* yang baru buka di pusat kota, Sarah mengunggah foto segelas *cockt**l* dengan latar belakang cahaya kota yang buram. Namun, bukan minumannya yang menarik perhatianku. Di sudut kanan bawah foto, ada sebuah tangan pria yang mengenakan jam tangan kulit berwarna cokelat gelap dengan goresan kecil di dekat angka sembilan.
Aku mengenal jam itu. Aku yang membelikannya sebagai hadiah ulang tahun ke-22 Rama tahun lalu. Jam itu adalah konstanta dalam hidupku, sebuah penanda keberadaan Rama yang seharusnya ada di sisiku, bukan di meja yang sama dengan perempuan yang mencoba menyabotase penelitianku.
Dadaku terasa sesak, seolah-olah oksigen di sekitarku tiba-tiba mengalami defisit. Aku menutup laptop dengan bunyi *b**k* yang menggema di kamar kosku yang sepi. Logika kaku yang selama ini kubanggakan mendadak terasa tumpul. Aku tidak butuh uji korelasi untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Hubungan antara hilangnya Rama dan keberadaan Sarah di foto itu adalah hubungan linear yang sempurna.
Aku tidak meneleponnya. Aku tahu dia tidak akan mengangkatnya. Aku mengirimkan satu pesan singkat, titik koordinat kafe tersebut, dan satu kalimat: *“Aku di depan kafe ini dalam dua puluh menit. Keluar, atau aku yang ma**k ke dalam.”*
Aku tidak benar-benar di sana saat mengirim pesan itu, tapi aku segera menyambar jaket dan mengunci pintu. Motor matic-ku melaju menembus angin malam yang menusuk tulang. Pikiranku berputar pada variabel-variabel pengkhianatan. Kenapa Sarah? Dari ribuan populasi perempuan di kampus ini, kenapa harus rival yang terang-terangan ingin menjatuhkanku?
Saat aku tiba di depan kafe, napas duniaku terasa berat. Aku berdiri di dekat tiang lampu jalan, tanganku gemetar di dalam saku jaket. Lima menit kemudian, sesosok pria keluar dari pintu kaca kafe dengan langkah terburu-buru. Wajahnya yang biasanya tenang dan memikat kini tampak pucat di bawah lampu jalan yang kekuningan.
“Lulu? Kamu kok... kamu tahu dari mana aku di sini?” Suara Rama terdengar pecah, ada nada defensif yang langsung bisa kudeteksi.
Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku menyodorkan ponselku, menampilkan tangkapan layar *Story* Sarah. “Jam tangan itu, Ram. Kamu bahkan tidak repot-repot melepasnya saat sedang berselingkuh dengan orang yang paling ingin melihatku gagal.”
Rama mengusap wajahnya kasar. Dia mencoba melangkah mendekat, tapi aku mundur satu langkah secara otomatis. Jarak di antara kami sekarang bukan sekadar jarak fisik, tapi sebuah diskontinuitas yang tidak bisa disambung lagi.
“Lu, dengerin dulu. Ini nggak seperti yang kamu lihat. Aku sama Sarah cuma... kita lagi bahas soal data lab. Dia bilang ada masalah sama akses server, dan dia minta tolong aku—”
“Bahas data lab jam sepuluh malam di *rooftop* kafe dengan minuman beralkohol?” potongku dengan nada datar yang kupaksakan. “Ram, aku mungkin payah dalam membaca emosi orang, tapi aku sangat ahli dalam membaca pola. Kamu menghilang dua hari, tidak membalas pesanku, tapi kamu punya waktu untuk 'membahas data' dengan Sarah?”
“Kamu terlalu paranoid, Lu! Gara-gara skripsi itu, kamu jadi melihat semua orang seperti angka yang mau menipu kamu!” suara Rama meninggi, sebuah taktik pengalihan standar untuk menutupi rasa bersalah.
Aku menatapnya lurus-lurus. Mataku terasa panas, tapi aku menolak untuk menangis di depannya. Bagiku, air mata adalah variabel pengganggu yang hanya akan mengaburkan objektivitas.
“Sarah memanipulasi data penelitianku, Ram,” kataku pelan, suaraku bergetar meski aku berusaha keras menahannya. “Dia mengubah angka-angkanya. Dia membuat hasil ujiku jadi tidak valid. Dan sekarang aku tahu kenapa dia bisa melakukannya dengan begitu mudah. Dia punya akses ke akun lab-ku, kan? Dan siapa lagi yang punya kata sandiku selain kamu?”
Hening menyergap. Rama terdiam, matanya tidak berani menatapku. Keheningan itu adalah konfirmasi paling akurat yang pernah kuterima. Bukan hanya pengkhianatan hati, ini adalah sabotase masa depan.
“Kamu memberikan akses itu padanya?” bisikku. Kecewa adalah kata yang terlalu sederhana untuk mendeskripsikan apa yang kurasakan. Ini adalah erosi total pada fondasi kepercayaanku.
“Aku nggak tahu dia bakal melakukan itu, Lu! Dia bilang cuma mau lihat referensi metodemu!” Rama mencoba meraih tanganku, tapi aku menepisnya dengan kasar.
“Logikamu c****, Rama. Dan kebohongannya terlalu banyak untuk dianggap sebagai *sampling error*,” kataku sambil memutar badan.
Aku melangkah menjauh, meninggalkan Rama yang masih meneriakkan namaku di trotoar. Di bawah lampu jalan yang berpijar redup, aku menyadari satu hal yang lebih mengerikan dari pengkhianatan Rama. Jika Sarah bisa ma**k ke dalam sistem dataku sesuka hati melalui Rama, maka seluruh bab penelitian yang telah kususun selama enam bulan terakhir hanyalah tumpukan sampah digital yang tidak bisa dipercaya.
Saat aku menghidupkan mesin motor, sebuah notifikasi ma**k ke ponselku. Bukan dari Rama.
*Reno: "Lulu, jangan buka file skripsimu lewat koneksi umum. Seseorang baru saja mencoba melakukan overwriting pada file syntax-mu dari alamat IP yang sama dengan lokasi kafe di tempatmu sekarang. Datang ke lab sekarang, atau semuanya hilang."*
Tanganku mencengkeram stang motor dengan kuat. Permainan ini jauh lebih kotor daripada sekadar urusan patah hati. Sarah tidak hanya menginginkan pacarku; dia menginginkan kehancuran akademikku. Dan satu-satunya orang yang saat ini berdiri di sisi logikaku adalah si teknisi lab sinis yang bahkan tidak menyukai cara kerjaku.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!