Cahaya biru dari monitor LED setinggi dua puluh inci itu terasa seperti sembilu yang menyayat korneaku. Jarum jam di dinding lab komputer lant** tiga sudah melewati angka dua pagi. Suasana sunyi senyap, hanya menyisakan dengung rendah dari mesin pendingin ruangan dan bunyi klik mouse yang repetitif—ritme hidupku selama tiga jam terakhir.
Aku menarik napas panjang, menghirup aroma kopi instan dingin yang sudah kehilangan seleranya. Di depanku, baris-baris angka dalam *spreadsheet* SPSS menari-nari seperti ejekan. Aku mencoba melakukan *data cleaning* untuk ke sekian kalinya. Jari-jariku bergerak lincah di atas keyboard, menghapus entri yang jelas-jelas merupakan *outlier*, mencoba mengembalikan distribusi normal yang telah dikacaukan secara paksa.
"Ayo, Lulu. Logika tidak pernah kalah," bisikku pada diri sendiri, lebih sebagai mantra penguat daripada keyakinan.
Aku menjalankan uji reliabilitas. Klik. *Analyze. Scale. Reliability Analysis.*
Hasilnya muncul di jendela *output*. *Cronbach's Alpha: 0.342.*
Jantungku mencelos. Angka itu merah, atau setidaknya terasa merah di mataku. Syarat minimal agar sebuah kuesioner dianggap reliabel adalah 0.6. Angka 0.3 berarti data ini sampah. Ini bukan sekadar eror manusia saat pengisian kuesioner; ini adalah sabotase yang terstruktur. Sarah tidak hanya mema**kkan data palsu, dia menyuntikkan 'virus' statistik yang merusak korelasi antar variabel secara total.
Aku mencoba menghapus variabel yang paling bermasalah. Satu per satu. Namun, semakin banyak yang kuhapus, semakin mengecil jumlah sampelku hingga tidak lagi memenuhi syarat minimum untuk diuji. Keringat dingin mulai merembes di tengkukku, membuat kemeja flanel yang kukenakan terasa lembap dan tidak nyaman.
"Sial," umpatku pelan. Suaraku parau, pecah di tengah ruangan yang hampa.
Aku menyandarkan punggung ke kursi putar yang keras, memijat pangkal hidungku yang berdenyut. Pikiranku melayang pada Rama. Bagaimana bisa dia memberikan kata sandi akun labku pada Sarah? Apakah setiap ciuman dan janji manis yang dia berikan padaku hanya sekadar distraksi agar Sarah bisa dengan leluasa ma**k ke sistemku? Pengkhianatan itu rasanya seperti variabel pengganggu yang tidak bisa kukontrol—merusak seluruh model penelitian hidupku.
"Masih belum menyerah, Si Paling Data?"
Sebuah suara berat dan serak memecah keheningan. Aku tersentak, hampir menjatuhkan botol minumku. Di sudut ruangan, di balik bayang-bayang rak server yang berkedip-kedip, Reno muncul. Dia mengenakan *hoodie* hitam pudar dengan tudung yang disampirkan di bahu. Matanya yang tajam menatapku dengan tatapan sinis yang sudah menjadi ciri khasnya sejak kami pertama kali bertemu di depan pintu lab yang terkunci minggu lalu.
"Aku sedang bekerja, Reno. Jangan ganggu," balasku ketus tanpa menoleh.
Reno berjalan mendekat, langkah sepatunya terdengar berat di atas lant** vinil. Dia berdiri di belakang kursiku, kedua tangannya dima**kkan ke dalam saku celana kargo. Dia tidak berkata apa-apa selama beberapa detik, hanya menatap layar monitorku yang penuh dengan tabel frekuensi.
"Kau mencoba menjahit kain yang sudah dibakar menjadi abu, Lu," katanya dingin. "Secara manual? Kau akan butuh waktu seribu tahun untuk membersihkan residu manipulasi Sarah. Dia menggunakan skrip untuk mengacak-acak baris datamu. Kau tidak bisa melawannya hanya dengan fungsi *delete* dan *re-entry*."
"Aku punya cadangan," kataku defensif, jemariku gemetar saat membuka peramban. "Aku selalu menyimpan semuanya di Cloud. Google Drive, Dropbox, semuanya punya salinan asli sebelum Sarah menyentuh PC lab ini."
Reno menaikkan sebelah alisnya, tidak terlihat terkesan. "Silakan. Coba saja."
Aku mengabaikan nada bicaranya yang merendahkan. Aku ma**k ke akun Google Drive-ku dengan gerakan tergesa. Tanganku terasa dingin saat mengetikkan kata sandi. Aku menemukan folder berjudul 'SKRIPSI_FINAL_DATA'. Di dalamnya, ada file .sav yang kuunggah dua minggu lalu—sebelum kekacauan ini dimulai.
*Last modified: 2 hours ago.*
Napas seolah berhenti di tenggorokanku. Mataku terpaku pada keterangan waktu itu. Dua jam yang lalu? Aku tidak menyentuh file Cloud ini sejak dua minggu yang lalu.
"Tidak mungkin..." gumamku.
Aku mengunduh file itu dengan sisa-sisa harapan yang kian menipis. Begitu file terbuka di SPSS, duniaku seolah runtuh. Kolom-kolom yang seharusnya berisi angka 1 sampai 5 untuk skala Likert kini berubah menjadi angka-angka acak tak ma**k akal. 99, 666, 0. Bahkan ada beberapa sel yang diisi dengan teks: *'COBA LAGI, LULU'.*
Darahku mendidih, namun di saat yang sama, rasa takut yang dingin menjalar ke sekujur tubuh. Ini bukan sekadar sabotase di komputer lab. Mereka—Sarah, dan mungkin Rama—telah meretas akun pribadiku. Mereka menutup semua pintu pelarian. Mereka ingin aku gagal total. Mereka ingin aku tidak lulus semester ini.
"Data Cloud-mu juga sudah 'terinfeksi'," suara Reno terdengar tepat di samping telingaku, kali ini tanpa nada mengejek, lebih seperti sebuah observasi teknis yang datar. "Mereka tidak hanya ingin merusak hasil penelitianmu, Lu. Mereka ingin menghapus eksistensimu dari basis data fakultas ini."
Aku menatap layar yang kini hanya menampilkan pesan ejekan dari Sarah. Mataku terasa panas, tapi aku menolak untuk menangis di depan Reno. Aku adalah mahasiswi statistika terbaik di angkatanku. Aku tidak boleh hancur karena beberapa baris data yang rusak.
"Bagaimana mereka bisa tahu kata sandiku?" tanyaku, lebih kepada diri sendiri.
"Rama tahu tanggal lahir kucingmu? Nama kecil ibumu? Atau mungkin, kau c**up bodoh untuk menggunakan kata sandi yang sama untuk semua akunmu?" Reno berjalan menuju mejanya yang berantakan dengan kabel-kabel LAN.
Aku terdiam. Aku memang menggunakan pola kata sandi yang serupa untuk kemudahan akses. Sebuah kesalahan logika yang sangat amatir bagi seseorang yang mengaku perfeksionis.
"Aku harus melaporkan ini ke Dekan," kataku sambil berdiri, kursi di bawahku berderit keras. "Ini kriminal. Manipulasi data penelitian adalah pelanggaran berat."
Reno tertawa pendek, tawa yang kering dan tidak enak didengar. "Dan apa buktinya? Kau punya log aktivitas? Kau punya rekaman CCTV yang menunjukkan Sarah mengetik di depan komputermu? Tanpa itu, kau hanya akan terlihat seperti mahasiswi frustrasi yang gagal mengolah data lalu mencari kambing hitam. Reputasi fakultas dipertaruhkan, Lu. Mereka lebih suka mendiamkanmu daripada mengakui sistem keamanan mereka bobol oleh mahasiswi egois seperti Sarah."
Aku merosot kembali ke kursi. Kata-kata Reno menghantamku tepat di ulu hati karena aku tahu dia benar. Di dunia akademis, tanpa bukti digital yang tak terbantahkan, aku hanya seorang pecundang yang kalah dalam permainan angka.
"Lalu aku harus apa?" tanyaku, suaraku nyaris hilang di antara dengung komputer. "Data asliku hilang. Cadanganku hancur. Aku tidak punya waktu untuk menyebar kuesioner ulang."
Reno berhenti memutar-mutar kabel di tangannya. Dia berbalik, menatapku dengan binar aneh di matanya—campuran antara tantangan dan niat jahat yang terselubung.
"Ada cara lain untuk mendapatkan datamu kembali," katanya pelan, melangkah mendekat ke arahku hingga bayangannya menutupi meja kerjaku. "Tapi itu melibatkan tindakan yang akan membuat prinsip kaku-mu itu retak berkeping-keping. Kita tidak akan memperbaiki data itu, Lu. Kita akan 'menjemput' data asli yang Sarah sembunyikan di server pribadinya."
Dia mengulurkan sebuah *flashdisk* berwarna hitam pekat kepadaku.
"Pertanyaannya, apakah kau c**up berani untuk keluar dari variabel kontrolmu dan menjadi sedikit... tidak reliabel?"
Aku menatap *flashdisk* itu, lalu menatap layar monitorku yang masih menampilkan kalimat *'COBA LAGI, LULU'*. Pilihan di depanku hanya dua: menyerah pada kehancuran yang sudah dirancang Sarah, atau melangkah ma**k ke dalam kegelapan yang ditawarkan Reno.
Tanganku perlahan terangkat, ujung jariku menyentuh permukaan dingin *flashdisk* itu. Saat itu juga, aku tahu bahwa korelasi hidupku tidak akan pernah sama lagi.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!