Lampu neon di Laboratorium Komputer 3 berkedip redup, menciptakan ritme monoton yang seolah mengejek detak jantungku yang tidak keruan. Bau khas ruangan berpendingin udara yang bercampur dengan aroma samar plastik terbakar dan kopi instan basi menyeruak ma**k ke paru-paruku. Di sudut ruangan, dikelilingi oleh tumpukan CPU yang dibongkar paksa, Reno sedang duduk membungkuk. Cahaya biru dari monitor ganda memantul di kacamata berbingkai hitamnya, membuatnya tampak seperti hantu di tengah makam sirkuit.
Aku meremas tali tas selempangku hingga buku-buku jariku memutih. Logikaku mengatakan bahwa mendekati Reno adalah sebuah anomali. Dia bukan variabel yang bisa kuprediksi. Namun, data skripsiku yang berantakan—hasil sabotase halus Sarah—adalah sebuah *error* sistemik yang tidak bisa kuperbaiki sendiri. Aku butuh bukti digital. Aku butuh *log* aktivitas server.
"Sepuluh menit lagi lab tutup, Lu. Kalau mau meratapi nasib, mending di kantin saja. Di sini tidak ada tisu, cuma ada kabel LAN," suara Reno datar, bahkan tanpa mengalihkan pandangan dari baris-baris kode hijau yang mengalir di layarnya.
Aku melangkah maju, sepatuku berdecit pelan di atas lant** vinil. "Aku tidak sedang meratapi nasib, Reno. Aku sedang mencari kebenaran yang tersembunyi di balik *timestamp*."
Reno akhirnya menoleh. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kerja yang sudah mengelupas kulit sintetisnya. Ekspresinya sinis, salah satu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum meremehkan yang sudah sangat kukenal. "Kebenaran? Terdengar sangat puitis untuk seseorang yang biasanya hanya bicara soal deviasi standar dan koefisien korelasi."
Aku mengabaikan sindirannya dan berdiri tepat di samping mejanya, c**up dekat untuk melihat keringat tipis di pelipisnya. "Seseorang ma**k ke akun labku dua malam lalu. Mereka mengubah sintaks SPSS-ku. Hasilnya terlihat normal secara kasat mata, tapi kalau diuji reliabilitasnya, semuanya sampah. Aku tahu itu Sarah, tapi aku butuh bukti bahwa IP address-nya berasal dari komputer di gedung ini saat aku tidak ada."
Reno terkekeh, suara tawa yang kering dan pendek. "Dan kau pikir aku akan memberikan data log server fakultas begitu saja? Itu ilegal, Sayang. Aku bisa dipecat dari posisi asisten lab, dan kau bisa diskors karena mencoba meretas data privasi."
"Ini bukan meretas jika aku hanya meminta akses untuk akunku sendiri!" sahutku lebih keras dari yang kumaksudkan. Napas mencekat di tenggorokan. "Rama dan Sarah... mereka pikir mereka bisa menghapus jejak begitu saja. Aku tidak bisa membiarkan mereka menang hanya karena aku tidak punya akses ke *back-end*."
Reno terdiam. Matanya yang tajam mengamati wajahku, seolah sedang melakukan *scanning* untuk mencari celah kebohongan. Dia meraih sebuah obeng kecil dan memutar-mutarnya di antara jari-jarinya dengan tangkas. Suasana menjadi sangat hening, hanya ada suara dengung kipas server yang berat.
"Aku bisa membantumu," katanya pelan, suaranya kini terdengar berbeda—lebih berat dan penuh perhitungan. "Aku bisa melacak siapa yang duduk di meja nomor empat belas pada jam dua pagi hari Rabu kemarin. Aku bahkan bisa menarik rekaman *keylogger* kalau kau mau."
Mataku berbinar. "Benarkah? Terima kasih, Reno. Aku tahu kau—"
"Jangan senang dulu," potongnya cepat. Ia memutar kursinya sepenuhnya menghadapku, menyilangkan kaki. "Prinsip dasar ekonomi, Lu. Tidak ada *free lunch*. Kau ingin aku mempertaruhkan kepalaku untuk membalas dendam pada mantan pacarmu yang br****** itu? Maka kau harus memberiku sesuatu yang sepadan."
Aku mengerutkan kening. "Uang? Aku tidak punya banyak, tapi aku bisa menyisihkan uang kiriman bulan ini."
Reno mendengus geli. "Aku tidak butuh uangmu. Aku punya proyek sampingan—sebuah algoritma *high-frequency trading* yang sedang kubangun. Masalahnya, aku teknisi, bukan ahli statistik. Aku punya ribuan baris data mentah yang berantakan dan butuh pembersihan tingkat lanjut serta pemodelan prediktif yang presisi. Aku butuh otakmu, Lu. Otakmu yang kaku tapi jenius dalam melihat pola di tengah kekacauan angka."
Aku tertegun. "Kau ingin aku membantu proyek kodingmu?"
"Bukan cuma membantu. Aku ingin kau membangun kerangka logikanya. Aku butuh kau merancang variabel kontrol yang bisa meminimalkan risiko *error* dalam fluktuasi pasar yang tidak ma**k akal. Ini jauh lebih rumit daripada sekadar menghitung korelasi antara motivasi belajar dan indeks prestasi mahasiswa yang biasa kau kerjakan," tantangnya dengan tatapan yang provokatif.
Aku menimbang-nimbang. Membantu Reno artinya aku harus menghabiskan lebih banyak waktu di laboratorium ini, bergelut dengan angka-angka yang jauh lebih berbahaya daripada data skripsiku. Namun, bayangan wajah sombong Sarah dan pengkhianatan Rama melintas di benakku seperti slide presentasi yang rusak. Rasa sakit itu berubah menjadi bahan bakar.
"Berapa lama?" tanyaku tegas.
Reno tersenyum, kali ini sebuah senyum yang terlihat hampir tulus, namun tetap menyimpan misteri. "Sampai sistem ini stabil. Bisa seminggu, bisa sebulan. Tergantung seberapa cepat kau bisa beradaptasi dengan caraku bekerja."
"Baik. Berikan aku log itu sekarang, dan aku akan mulai mengerjakannya besok," kataku sambil mengulurkan tangan.
Reno tidak langsung menyambut tanganku. Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah *flashdisk* berwarna hitam legam. Ia menggoyang-garkannya di depan mataku.
"Kesepakatan tercapai. Tapi ada satu hal lagi, Lu," Reno memajukan wajahnya, suaranya nyaris berbisik di telingaku. "Begitu kau ma**k ke dalam sistemku, tidak ada jalan keluar. Kau tidak hanya akan melihat data pasar, kau akan melihat sesuatu yang mungkin tidak ingin kau ketahui tentang bagaimana universitas ini mengelola dana risetnya. Masih berani?"
Jantungku mencelos. Ini bukan sekadar proyek koding biasa. Aku menatap mata Reno, mencari keraguan di sana, tapi yang kutemukan hanyalah kegelapan yang dalam dan tekad yang dingin. Aku menarik napas panjang, lalu menyambar *flashdisk* itu dari tangannya.
"Variabel apa pun yang kau berikan, aku akan menyelesaikannya," jawabku mantap, meski tanganku sedikit gemetar.
Reno menyeringai. "Bagus. Selamat datang di sisi gelap logika, Lulu. Sekarang, ayo kita lihat siapa sebenarnya yang sedang bermain-main dengan skripsimu."
Ia mulai mengetik dengan kecepatan yang luar biasa. Di layar, jendela-jendela hitam dengan baris teks putih bermunculan satu per satu. Saat sebuah baris kode berhenti dan menampilkan sebuah nama akun pengguna serta durasi *login*, napas daku tertahan. Nama yang muncul di sana bukan hanya Sarah. Ada nama lain yang membuat seluruh duniaku seolah berhenti berputar.
"Itu tidak mungkin..." gumamku lirih, menunjuk ke arah layar.
Reno berhenti mengetik dan menoleh padaku dengan tatapan prihatin yang jarang ia tunjukkan. "Sepertinya korelasi pengkhianatan ini jauh lebih luas dari yang kau duga, Lu."
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!