Layar monitor di hadapanku berpendar biru pucat, memantul di lensa kacamataku yang mulai terasa berat. Di dalam Laboratorium Komputer Terintegrasi yang sepi ini, hanya ada dengung konstan dari mesin pendingin ruangan dan bunyi klik mouse yang ritmis. Bau pembersih lant** yang tajam bercampur dengan aroma sisa kopi instan menciptakan atmosfer yang mencekam, seolah-olah ruangan ini sedang bersiap untuk mengadili seseorang.
Reno duduk di sampingku, menyandarkan punggungnya ke kursi ergonomis yang sudah agak robek. Ia tidak bicara, hanya memutar-mutar sebuah *flashdisk* di sela jarinya. Matanya yang tajam tetap tertuju pada barisan kode yang sedang kupindai di layar.
"Data itu tidak mungkin menguap begitu saja, Reno," bisikku, lebih kepada diriku sendiri. Suaraku parau. "Variabel kepuasan pelanggan dan loyalitas merek itu jantung dari skripsiku. Kalau dua variabel itu hilang, seluruh model regresiku akan *error*. Hasilnya jadi tidak signifikan."
Reno mendengus kecil, sebuah tawa sinis yang sudah menjadi ciri khasnya. "Data memang tidak bisa jalan sendiri, Lu. Seseorang pasti membukakannya pintu."
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantung yang mulai tidak beraturan. Jemariku yang gemetar mulai mengetikkan perintah pada terminal sistem server lokal fakultas. Sebagai asisten lab, Reno memberiku akses yang seharusnya tidak dimiliki mahasiswa tingkat akhir biasa. Aku ma**k ke dalam *metadata* file `.sav` milikku yang tersimpan di *drive* bersama laboratorium.
Aku mencari satu hal: *Log* aktivitas terakhir.
"Coba cek *timestamp* hari Rabu jam dua pagi," instruksi Reno pelan, suaranya berat di dekat telingaku. "Waktu itu lab ini seharusnya sudah dikunci."
Aku mema**kkan parameter pencarian. Layar berkedip dua kali sebelum menampilkan daftar entri. Mataku menyipit, berusaha membaca baris demi baris teks putih di atas latar belakang hitam.
"Ketemu," kataku pelan. Napasku tertahan.
Pada pukul 02:14 WIB, seseorang mengakses file skripsiku. Ada perintah *'Drop Variable'* yang dieksekusi secara berurutan. Bukan satu, tapi lima belas kolom data penting dihapus secara permanen dari file utama, lalu file itu disimpan kembali seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ini bukan kecelakaan. Ini adalah eksekusi mati bagi kelulusanku.
"Lihat siapa yang *login*?" tanya Reno, kini ia menegakkan punggungnya, ikut menatap layar dengan serius.
Aku menggerakkan kursor ke kolom 'User ID'. Jantungku terasa seperti dipukul palu godam. Aku mengharapkan satu nama. Aku sudah menyiapkan mental untuk melihat nama Sarah di sana. Sarah, rival akademis yang selalu memandangku dengan tatapan merendahkan. Sarah, yang selalu ingin menjadi nomor satu dengan cara apa pun.
Namun, deretan karakter yang muncul di layar membuat seluruh sendiku terasa lemas.
`User_ID: Rama_Aditya_09`
Aku terdiam. Duniamu mendadak kedap suara. Nama itu bukan milik Sarah. Itu adalah akun milik Rama. Kekasihkuβatau setidaknya, laki-laki yang selama ini mengaku sangat mendukung perjuangan skripsiku.
"Rama?" gumamku, suaraku nyaris hilang. "Nggak mungkin. Rama nggak punya akses ke server ini. Dia mahasiswa Manajemen, bukan asisten lab."
Reno mengambil alih mouse dari tanganku. Gerakannya cepat dan efisien. Ia membuka riwayat koneksi IP yang digunakan akun tersebut. "Dia memang nggak punya akses, tapi akunnya punya. Dan lihat ini, Lu... IP address yang digunakan untuk *login* ini berasal dari Wi-Fi di Apartemen Mentari."
Apartemen Mentari. Tempat tinggal Sarah.
Pecahan-pecahan informasi itu menghantamku seperti badai. Logika yang selama ini kubanggakan mulai menyusun korelasi yang menyakitkan. Sarah tidak bodoh. Dia tidak akan menggunakan akunnya sendiri untuk menyabotaseku. Dia menggunakan akun Rama. Pertanyaannya adalah, bagaimana dia bisa mendapatkan *password* Rama? Apakah Rama memberikannya secara sukarela? Atau mereka sedang bersama di sana, pada jam dua pagi, menertawakan betapa mudahnya menghancurkan masa depanku dengan satu klik 'Delete'?
"Lu, kamu oke?" Reno menyentuh bahuku. Sentuhannya dingin, tapi itu membawaku kembali ke kenyataan.
"Aku... aku merasa seperti outlier, Reno," bisikku getir. "Data yang tidak seharusnya ada dalam distribusi normal kehidupan siapa pun. Aku memercayai variabel yang salah."
"Jangan jadi melankolis dulu," potong Reno tegas. Matanya berkilat. "Lihat lebih teliti. Sarah pikir dia pintar dengan menggunakan akun orang lain. Tapi dia lupa satu hal. Setiap kali seseorang menghapus data di server ini, sistem secara otomatis membuat *shadow copy* sementara yang hanya bisa diakses lewat terminal admin."
Aku menoleh padanya. "Maksudmu, datanya bisa kembali?"
"Datanya bisa kembali," Reno menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang tampak berbahaya di bawah lampu neon lab. "Tapi ada yang lebih menarik. Aku bisa melacak perangkat apa yang digunakan untuk mengirim perintah itu. Dan jika aku bisa membuktikan bahwa perangkat itu adalah milik Sarah meskipun menggunakan akun Rama, kita punya bukti manipulasi sistem yang serius. Itu bisa membuatnya dikeluarkan dari fakultas."
Aku menatap layar lagi. Nama Rama masih terpampang di sana, seolah-olah sedang mengejek kebodohanku. Pengkhianatan ini memiliki koefisien korelasi yang sempurna. Rama yang memberikan kunci, dan Sarah yang melakukan eksekusi. Mereka tidak hanya ingin mengambil hatiku, mereka ingin mematikan otakku.
"Lakukan, Reno," kataku, suaraku kini terdengar berbeda. Tidak ada lagi keraguan. Kaku dan dingin, seperti angka-angka di dalam SPSS. "Kembalikan dataku, tapi jangan tutup jejak mereka."
"Apa rencanamu?"
Aku berdiri, merapikan tas selempangku. Rasa sakit di dadaku kini berganti menjadi kemarahan yang terukur. "Sarah ingin bermain dengan variabel kontrol? Baiklah. Aku akan mengubah seluruh parameter permainannya. Dia pikir dia sudah menghapus masa depanku, tapi dia baru saja memberiku data paling valid untuk menghancurkan miliknya."
Aku berjalan menuju pintu lab, namun langkahku terhenti saat ponselku bergetar di saku. Sebuah pesan WhatsApp ma**k.
Dari: Rama
*Sayang, lagi apa? Semangat ya ngerjain skripsinya. Aku yakin kamu pasti lulus tepat waktu. Love you.*
Aku menatap pesan itu dengan rasa mual yang meluap. Di layar monitor di belakangku, Reno sedang mengetikkan barisan perintah *coding* yang rumit, cahaya biru menyinari wajahnya yang serius.
"Reno," panggilku tanpa menoleh.
"Ya?"
"Bisa kamu buatkan aku satu skrip? Sesuatu yang bisa ma**k ke perangkat Sarah tanpa dia sadari saat dia mencoba membuka file-ku lagi?"
Reno berhenti mengetik. Ia memutar kursinya, menatapku dengan alis terangkat. "Itu sudah ma**k wilayah ilegal, Lu. *Malware* ringan, atau *spyware*?"
"Aku menyebutnya variabel pengganggu," jawabku datar. "Aku ingin tahu apa lagi yang mereka bicarakan di belakangku. Aku butuh semua datanya."
Reno diam sejenak, lalu sebuah senyum miring muncul di wajahnya. "Selamat datang di sisi gelap logika, Lulu."
Aku keluar dari lab dengan langkah pasti, namun di dalam kepala, sebuah hipotesis baru sedang terbentuk. Hipotesis tentang bagaimana rasa sakit bisa dikonversi menjadi sebuah pembalasan yang sangat presisi. Aku tidak akan menangis. Data tidak menangis. Data hanya menunjukkan kebenaran, dan kebenaran itu akan segera memukul mereka tepat di wajah.
Namun, saat aku melewati lorong fakultas yang gelap, satu pikiran merayap di benakku: jika aku melakukan ini, apakah aku masih berbeda dari mereka? Atau aku hanya variabel lain yang sudah terkontaminasi oleh kebencian?
Pertanyaan itu kubiarkan menggantung, sama seperti *error message* yang belum terselesaikan di layar komputer lab tadi. Bagiku sekarang, hanya ada satu hal yang penting: pembersihan data dimulai malam ini.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!