Layar ponselku menunjukkan pukul 17:45. Langit di atas taman belakang fakultas berubah warna menjadi ungu lebam, mirip seperti memar yang kurasakan di dalam dadaku. Aku meremas lembaran kertas hasil *print-out* log aktivitas server lab yang diberikan Reno tadi pagi. Kertas itu terasa dingin, tapi ujung jariku yang memegangnya justru terasa terbakar oleh amarah yang tertahan.
"Lu, tumben banget ngajak ketemu di sini? Aku baru mau ke ruang dekanat buat tanda tangan berkas beasiswa," suara bariton itu terdengar dari belakang.
Aku berbalik. Rama berdiri di sana, tampak sangat normal. Dia mengenakan kemeja flanel biru yang dulu kubelikan sebagai hadiah ulang tahunnya, rambutnya tertata rapi, dan senyum tipis ituβsenyum yang dulu kukira adalah variabel tetap dalam hidupkuβmasih ada di wajahnya. Melihatnya sedekat ini membuat perutku mual, seperti sedang mengamati data pencilan yang merusak seluruh distribusi normal.
"Beasiswa itu penting banget buat kamu, ya, Ram?" suaraku keluar lebih rendah dari yang kuduga. Datar, seperti grafik tanpa fluktuasi.
Rama mengernyit, langkahnya terhenti beberapa meter dariku. "Maksud kamu apa? Ya pentinglah. Kita udah bahas ini berkali-kali. Ini tiket kita buat masa depan."
Aku melangkah maju, menyodorkan kertas yang sudah agak lecek itu ke arahnya. "Kalau gitu, tolong jelaskan kenapa ID pengguna kamu dan Sarah ma**k ke server lab di jam dua pagi, tepat di hari data penelitianku berubah jadi *null*? Kenapa ada perintah *delete* dan *overwrite* yang berasal dari terminal yang biasa kamu pakai?"
Rama terdiam. Matanya memindai baris-baris kode di kertas itu dengan cepat. Aku bisa melihat jakunnya bergerak naik-turun. Sepersekian detik, ada kilat kepanikan di matanya, tapi itu menghilang secepat *pop-up* iklan yang ditutup paksa. Ekspresinya berubah menjadi sesuatu yang asing: dingin dan meremehkan.
"Lulu, Lulu..." dia terkekeh, suara tawa yang kering dan tidak enak didengar. "Kamu ini sudah terlalu stres sama skripsi sampai mulai berhalusinasi, ya? Kamu tahu sendiri sistem lab itu sering *error*. Servernya sudah tua."
"Sistem tidak menciptakan manipulasi *syntax* secara sengaja, Ram. Log ini menunjukkan seseorang sengaja mengubah variabel dependenku," aku menekankan setiap kata, dadaku mulai terasa sesak. "Aku sudah cek *IP address*-nya. Dan Sarah? Kenapa dia ada di sana bersamamu? Apa yang kalian lakukan di lab jam dua pagi?"
Rama menghela napas panjang, seolah-olah dia adalah guru yang sedang menghadapi murid yang bebal. Dia melangkah mendekat, mencoba menyentuh bahuku, tapi aku menghindar. Tangannya menggantung di udara sebelum akhirnya dia ma**kkan ke saku celana.
"Dengar, Lu. Kamu itu perfeksionis yang sakit. Kamu selalu butuh sesuatu buat disalahin kalau hasil kerjamu nggak sesuai harapan," ucapnya dengan nada tenang yang mematikan. "Kamu iri sama Sarah karena dia lebih cepat progresnya dari kamu. Terus sekarang kamu mau narik aku ke dalam fantasi konspirasi kamu ini? Kamu mau hancurin reputasi aku dan Sarah demi kegagalan kamu sendiri?"
"Kegagalanku?" Aku hampir berteriak. "Data itu dimanipulasi, Rama! Aku punya buktinya!"
"Bukti apa? Selembar kertas yang bisa kamu ketik sendiri di Notepad?" Rama mendengus. "Jangan konyol. Kalau kamu bawa ini ke dosen pembimbing, mereka cuma bakal lihat kamu sebagai mahasiswi yang frustrasi dan berusaha menjatuhkan mahasiswa berprestasi lain. Kamu mau kehilangan kesempatan lulus tahun ini? Atau kamu mau beasiswa kita berdua dicabut karena drama nggak jelas ini?"
Aku menatapnya, tidak percaya. Laki-laki di depanku ini bukan Rama yang kukenal. Ini adalah seseorang yang sedang melakukan kalkulasi dingin demi menyelamatkan dirinya sendiri.
"Kamu selingkuh sama dia, kan?" tanyaku, kali ini suaraku bergetar. "Data itu cuma cara kalian buat memastikan Sarah yang dapet predikat lulusan terbaik, bukan aku. Karena kalau aku jatuh, dia yang naik. Dan kamu... kamu cuma pengkhianat yang butuh tumpangan buat sukses."
Wajah Rama mengeras. Dia mencondongkan tubuhnya, menatapku tepat di mata dengan tatapan yang membuatku merasa sangat kecil. "Anggaplah apa yang kamu bilang itu benar secara teori. Terus kenapa? Siapa yang bakal percaya sama kamu, Lu? Kamu itu kaku, aneh, dan nggak punya teman. Sementara Sarah? Dia disukai semua orang. Dia punya koneksi."
Dia berhenti sejenak, memberikan jeda yang menyakitkan. "Dunia ini nggak cuma soal angka di SPSS, Lulu. Ini soal siapa yang pintar mainin narasi. Dan di sini, narasinya adalah kamu yang sedang mengalami gangguan kecemasan dan mulai menuduh orang secara random. Berhenti bertingkah g*** sebelum aku benar-benar laporin perilaku kamu ke jurusan."
Rama berbalik, melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Punggungnya menjauh, meninggalkan aku yang berdiri terpaku di bawah bayang-bayang pohon yang makin menggelap. Udara di sekitarku terasa makin tipis. Hatiku yang biasanya bekerja seperti mesin hitung, kini terasa seperti sirkuit yang kelebihan beban.
Aku merosot duduk di bangku taman yang dingin. Tanganku gemetar hebat saat aku mengambil ponsel dari saku. Aku mencari satu nama di daftar kontakku. Bukan Rama, bukan dosen pembimbingku, melainkan satu-satunya orang yang tidak melihatku sebagai variabel pengganggu dalam sistem mereka.
Jariku berhenti di nama Reno.
Logika lamaku bilang bahwa melaporkan ini melalui jalur resmi adalah prosedur yang benar. Namun, Rama benar tentang satu hal: mereka punya narasi, dan aku hanya punya angka yang bisa mereka hapus kapan saja. Jika mereka ingin bermain kotor dengan memanipulasi data, maka aku harus belajar bagaimana cara meretas narasi mereka dari dalam.
Aku menekan tombol panggil. Sinyal tersambung. Di ujung sana, suara Reno yang sinis dan berat terdengar.
"Halo? Lu? Tumben."
"Reno," kataku, suaraku kini tidak lagi bergetar. Dingin dan tajam seperti kode biner. "Ajari aku cara ma**k ke sistem tanpa meninggalkan jejak. Aku nggak mau cuma memperbaiki data. Aku mau menghancurkan mereka dari dalam *syntax*-nya."
Ada keheningan sejenak di seberang telepon, sebelum Reno menjawab dengan nada yang sulit diartikan. "Selamat datang di sisi gelap, Lulu. Aku tunggu di lab lima menit lagi."
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!