Kamar 404: Perjanjian Hitam di Jakarta Selatan

Bab 1: Bab 1 - Mendapatkan kamar kost murah karena uang kirima...

Pengaturan Membaca

Terik matahari Jakarta Selatan seolah-olah berusaha mengelupas kulit Gery. Pemuda itu menyeka keringat yang bercucuran dari dahi dengan punggung tangan yang gemetar. Di layar ponselnya yang retak, sebuah notifikasi saldo bank menunjukkan angka yang lebih mirip dengan harga satu porsi martabak spesial daripada biaya hidup seorang mahasiswa di akhir bulan. Tiga puluh dua ribu rupiah. Itu saja sisa dunianya.

Tas ranselnya yang terasa seberat karung semen membuat bahunya nyeri. Ia sudah berjalan menyusuri gang-gang sempit di daerah Tebet hingga Kuningan selama tiga jam, mencari papan pengumuman "Terima Kos" yang tidak menuntut uang muka setinggi langit. Namun, Jakarta Selatan tidak punya belas kasihan bagi perantau dengan dompet tipis.

"Sial," umpatnya lirih, menendang kerikil di pinggir jalan.

Langkahnya terhenti di depan sebuah pagar besi hitam yang menjulang tinggi. Pagar itu tertutup rapat, ditumbuhi tanaman merambat yang begitu lebat hingga hampir menutupi papan kayu kecil yang tergantung miring di sana. Dengan mata menyipit karena silau, Gery membaca tulisan tangan yang mulai memudar: *Terima Kos Putra. Kamar Tersedia. Harga Nego.*

Gery tidak punya pilihan. Ia menekan bel kuno yang tertanam di pilar beton pagar. Bunyi *denging* panjang menggema dari dalam, diikuti oleh kesunyian yang mencekam. Beberapa menit berlalu, Gery hampir berbalik pergi ketika pintu gerbang itu berderit terbuka dengan sendirinya, seolah-olah mesin penggeraknya baru saja terbangun dari tidur panjang.

Di balik pagar, sebuah rumah bergaya kolonial berdiri megah namun kusam. Halamannya ditutupi rumput liar yang dipangkas rapi, memberikan kesan kontradiktif. Sebelum Gery sempat melangkah ke teras, seorang wanita muncul dari balik pintu jati yang besar.

Wanita itu mengenakan kebaya lurik yang sangat rapi, rambutnya disanggul kencang hingga kulit keningnya tampak tertarik ke atas. Wajahnya sepucat kertas, namun bibirnya dipulas gincu merah darah yang mencolok.

"Cari kamar, Mas?" suara wanita itu datar, namun entah bagaimana terdengar seperti bisikan tepat di telinga Gery.

Gery menelan ludah, berusaha mengatur napasnya. "Iya, Bu. Masih ada kamar kosong?"

Wanita itu menatap Gery dari ujung kaki hingga ujung kepala. Matanya yang gelap seolah-olah sedang menghitung setiap sel ketakutan dalam tubuh Gery. "Nama saya Bu Ratna. Panggil saja Ibu. Kamu mahasiswa?"

"Iya, Bu. Semester tujuh. Sedang skripsi."

"Bagus. Anak yang ambisius biasanya betah di sini," Bu Ratna tersenyum kecil. Senyum itu tidak mencapai matanya; hanya sudut bibirnya yang terangkat secara mekanis. "Ikut saya."

Gery mengikuti langkah Bu Ratna yang sangat tenangβ€”nyaris tanpa suara langkah kakiβ€”ma**k ke dalam rumah. Suhu di dalam rumah itu seketika turun drastis. Jika di luar sana Jakarta terasa seperti panggangan, di dalam sini rasanya seperti ma**k ke dalam lemari pendingin yang mati lampunya. Bau kapur barus bercampur aroma bunga kantil yang menyengat memenuhi indra penciumannya.

Mereka melewati lorong panjang dengan lant** tegel bermotif kuno. Gery melihat beberapa pintu kamar yang tertutup rapat, masing-masing memiliki nomor perunggu yang meng***p. Suasana di sana begitu hening, hingga suara detak jam dinding di ruang tamu terdengar seperti dentuman palu.

"Berapa harga sewanya, Bu? Budget saya tidak banyak," Gery memberanikan diri bertanya sebelum mereka sampai ke tujuan.

Bu Ratna berhenti di depan sebuah pintu kayu berwarna gelap di ujung lorong. Ia menoleh perlahan, lehernya seolah berderit kecil. "Lima ratus ribu. Per bulan. Sudah terma**k listrik dan air."

Langkah Gery terhenti. Ia mengerjapkan mata, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Lima ratus ribu? Di tengah Jakarta Selatan yang g*** ini? Kamar kos paling kumuh di belakang pasar saja harganya sudah satu juta ke atas.

"Lima ratus ribu?" Gery memastikan. "Tidak salah, Bu? Ini... fasilitasnya apa saja?"

"Kamar mandi dalam, ka**r empuk, meja belajar, dan... teman sekamar yang sangat membantu," jawab Bu Ratna sambil mengeluarkan kunci besar dari saku kebayanya.

"Teman sekamar? Berarti *sharing room*?" Gery sedikit kecewa, namun angka lima ratus ribu itu terlalu menggoda untuk dilewatkan. "Tapi saya pikir ini kamar sendiri."

"Dia jarang keluar. Dia pendiam. Tapi percayalah, Gery... dia akan memastikan kamu tidak akan pernah merasa kesulitan lagi dengan tugas-tugasmu."

Gery tertegun. Ia belum memberitahu namanya, namun Bu Ratna sudah menyebutnya dengan begitu luwes. Mungkin ia salah dengar? Atau mungkin ia sudah memperkenalkan diri tadi? Pikirannya yang lelah mengabaikan bendera merah yang mulai berkibar di benaknya. Keputusasaan karena tidak punya tempat tinggal malam ini mengalahkan logika sehatnya.

Bu Ratna mema**kkan kunci ke dalam lubang pintu. *Klik.*

Pintu itu terbuka, menyingkap sebuah ruangan yang luasnya tidak ma**k akal untuk harga semurah itu. Kamarnya bersih, dengan jendela besar yang menghadap ke arah pohon beringin raksasa di halaman belakang. Di atas pintu, terpasang pelat kuningan dengan angka yang diukir rapi: **404**.

Gery melangkah ma**k. Ia merasakan sensasi aneh, seolah-olah ia baru saja melewati lapisan tipis air yang dingin. Di sudut ruangan, terdapat sebuah meja kayu jati besar yang tampak sangat kuno, dan di sampingnya, sebuah ranjang dengan sprei putih bersih yang terlihat sangat nyaman.

"Hanya lima ratus ribu?" Gery bertanya lagi, seolah berharap ini bukan mimpi buruk.

"Hanya itu. Tapi ada satu peraturan," Bu Ratna berdiri di ambang pintu, bayangannya memanjang ke dalam kamar, menutupi kaki Gery. "Jangan pernah menyalakan lampu tambahan atau lilin setelah jam dua belas malam. Biarkan kamar ini tetap apa adanya. Bisa?"

Gery mengangguk cepat. "Bisa, Bu. Tentu saja."

"Selamat bergabung di Kamar 404, Gery," ucap Bu Ratna. Sebelum Gery sempat membalas, wanita itu sudah berbalik dan berjalan pergi, menghilang di kegelapan lorong yang seolah menelannya bulat-bulat.

Gery menghela napas lega. Ia melemparkan tasnya ke atas ka**r dan merebahkan dirinya. Ka**rnya terasa sangat empuk, namun anehnya, sangat dinginβ€”seperti menyentuh kulit orang mati. Ia menatap langit-langit kamar yang tinggi, mencoba menenangkan jantungnya yang masih berdegup kencang.

Saat itulah, ia mencium aroma lain. Bukan lagi kapur barus atau bunga kantil.

Aroma itu tercium dari sudut gelap di dekat meja jati. Bau tanah basah yang busuk, bercampur dengan aroma amis yang sangat kuat, seolah-olah ada daging mentah yang dibiarkan membusuk di sana. Gery bangkit duduk, matanya menyipit mencoba melihat ke sudut yang remang-remang itu.

Di sana, di balik bayangan lemari besar, ia melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada di sebuah kamar kos mewah.

Sepasang mata berwarna merah menyala, sebesar bola kasti, menatapnya dari kegelapan yang paling pekat. Mata itu tidak berkedip, memancarkan hawa panas yang membuat bulu kuduk Gery berdiri tegak. Dan kemudian, sebuah suara rendah, berat, dan bergetar seperti geraman binatang buas terdengar memenuhi ruangan, seolah-olah keluar dari dalam dinding itu sendiri.

"Selamat datang... Gery..."

Gery membeku di tempatnya. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat bayangan besar di sudut itu mulai bergerak, perlahan-lahan merayap keluar dari kegelapan, menyingkap sosok berbulu hitam lebat yang tingginya hampir menyentuh plafon kamar.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca