Lampu neon di langit-langit kamar 404 berkedip-kedip gelisah, melemparkan bayangan panjang yang tampak seperti jemari hitam yang berusaha menggapai kaki Gery. Bau kemenyan yang bercampur dengan aroma amis samarβseperti daging mentah yang dibiarkan terlalu lama di suhu ruanganβmasih menggantung di udara. Ki Ageng tidak ada di sana, atau setidaknya, sosok tinggi berbulu lebat itu tidak menampakkan wujudnya. Namun, Gery bisa merasakan tatapan tak kasat mata yang mengawasi setiap gerak-geriknya dari sudut remang.
Gery menyeka keringat dingin di dahi dengan punggung tangan yang gemetar. Di atas meja belajarnya, tumpukan diktat kuliah dan laptop mahal hasil "bantuan" Ki Ageng tampak seperti monumen keberhasilan yang dibangun di atas tanah kuburan. Kematian Rendy, teman satu jurusannya yang ditemukan tewas mengenaskan dua hari lalu, terus menghantuinya. Rendy adalah saingan terberatnya untuk mendapatkan beasiswa bergengsi, dan kini, hambatan itu hilang begitu saja.
"Siapa sebenarnya kamu, Ki Ageng?" bisik Gery, suaranya parau.
Ia tidak bisa lagi diam. Rasa penasaran yang bercampur horor mendorongnya untuk bangkit. Selama ini, ia selalu menghindari bagian bawah tempat tidur jati yang tampak terlalu kokoh untuk ukuran kost mahasiswa itu. Dengan napas tertahan, Gery berlutut. Lant** parket di bawah ranjang itu terasa lebih dingin, seolah es membeku di bawah permukaannya.
Tangannya meraba-raba dalam kegelapan hingga jemarinya menyentuh sesuatu yang keras dan kasar. Sebuah kotak kayu kecil, tertutup debu tebal, tersembunyi di balik salah satu kaki ranjang yang menempel ke dinding. Gery menariknya keluar. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rongga dadanya seirama dengan detak jarum jam dinding yang terasa kian nyaring.
Kotak itu tidak dikunci. Saat tutupnya terbuka, aroma apak kertas tua menyeruak. Di dalamnya bukan emas atau jimat, melainkan tumpukan kartu identitas mahasiswa dan beberapa lembar foto yang sudah menguning di bagian pinggirnya.
Gery mengambil satu kartu paling atas. *Andra Pratama. Teknik Sipil. Angkatan 2015.*
Ia mengambil kartu berikutnya. *Satria Wijaya. Ekonomi. Angkatan 2018.*
Ada sekitar lima kartu di sana. Semua wajah di foto itu memiliki satu kesamaan: mata yang penuh ambisi namun tampak kuyu, seolah-olah cahaya kehidupan mereka sedang diisap perlahan. Gery meraih ponselnya, jemarinya menari di atas layar, mengetikkan nama-nama itu di mesin pencari.
Hasilnya membuat darah Gery serasa berhenti mengalir.
*Andra Pratama: Mahasiswa Berprestasi yang Hilang Secara Misterius Saat KKN.*
*Satria Wijaya: Ditemukan Tewas di Kamar Kos, Diduga Gagal Jantung di Usia 21 Tahun.*
Tidak ada satu pun dari mereka yang lulus. Tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar menikmati "kesuksesan" yang dijanjikan. Mereka semua berakhir menjadi catatan kaki dalam berita kriminal atau berita duka.
"Mereka tidak pergi, Gery..."
Suara itu bukan berasal dari telinganya, melainkan bergema langsung di dalam kepalanya. Berat, rendah, dan bergetar seperti geraman binatang buas.
Gery tersentak hingga kotak kayu itu terlepas dari genggamannya, isinya berhamburan di lant**. Ia menoleh ke arah lemari pakaian besar yang pintunya sedikit terbuka. Di sana, di antara bayangan baju-baju mahalnya, sepasang mata merah menyala menatapnya dengan lapar.
"Ki... Ki Ageng?" suara Gery mencicit.
Sosok itu perlahan keluar dari bayang-bayang. Tubuhnya yang besar membuat plafon kamar terasa rendah dan menekan. Bulu-bulu hitamnya tampak berdiri, dan hawa panas yang menyengat tiba-tiba memenuhi ruangan.
"Mereka lemah," lanjut Ki Ageng. Kini mulutnya yang dipenuhi taring tidak bergerak, namun suaranya memenuhi setiap sudut ruangan. "Mereka ingin puncak, tapi tidak sanggup membayar harganya. Kau berbeda, bukan? Kau haus akan pengakuan. Kau benci kemiskinan lebih dari kau mencint** nyawamu sendiri."
Gery mundur hingga punggungnya menab**k tembok dingin. "Apa yang kau lakukan pada mereka? Di mana mereka sekarang?"
Ki Ageng tertawa, sebuah suara parau yang terdengar seperti gesekan batu nisan. "Mereka adalah pupuk bagi pohon kesuksesanmu, Gery. Seperti temanmu itu... siapa namanya? Rendy? Darahnya membuat namamu semakin bersinar di kampus, bukan?"
"Aku tidak memintamu membunuhnya!" teriak Gery, meski dalam hati ia tahu itu bohong. Ia pernah membatin betapa mudahnya hidup jika Rendy tidak ada.
"Perjanjian ini tidak butuh kata-kata lisan yang manis, Anak Muda. Ia butuh keinginan hitam yang kau simpan di dasar hatimu." Ki Ageng melangkah maju. Lant** kayu di bawah kakinya berderit protes. "Kau ingin tahu sejarah kamar ini? Kamar ini adalah altar. Dan kau adalah pendeta sekaligus korbannya. Pilihannya hanya satu: terus mendaki, atau jatuh dan menjadi salah satu dari mereka di dalam kotak itu."
Tiba-tiba, lampu kamar mati total. Kegelapan pekat menyergap. Gery hanya bisa mendengar napasnya sendiri yang memburu dan suara cakram keras yang menggaruk lant** kayu, mendekat ke arahnya.
Dalam kegelapan itu, Gery meraba lant**, berusaha mencari kartu-kartu identitas tadi, namun tangannya justru menyentuh sesuatu yang basah dan hangat. Saat kilat dari luar jendela menyambar, memberikan cahaya sepersekian detik, Gery menjerit tertahan.
Di atas lant**, kartu-kartu identitas itu telah berubah. Foto-foto mahasiswa di dalamnya kini berganti menjadi foto dirinya sendiriβGeryβdengan berbagai ekspresi: Gery yang sedang tertawa, Gery yang sedang menangis, dan satu kartu paling bawah menunjukkan foto Gery dengan mata tertutup rapat dan wajah pucat pasi, persis seperti mayat di kamar jenazah.
Di bawah foto itu, tertulis tanggal yang sangat ia kenal. Besok.
"Waktumu untuk membayar cicilan pertama sudah tiba, Gery," bisik suara itu tepat di belakang telinganya, dibarengi dengan hembusan napas berbau bangkai yang membuat bulu kuduknya berdiri kaku.
Gery mencoba berlari menuju pintu, namun gagang pintu kamar 404 terasa panas membara, mengunci dirinya di dalam bersama rahasia-rahasia berdarah yang baru saja ia bongkar. Di balik kegelapan, ia menyadari satu hal: ia bukan penghuni kamar ini. Ia adalah persembahan yang sedang menunggu giliran untuk disajikan.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!