Keringat dingin memba****i dahi Gery, mengalir melewati pelipis dan jatuh tepat di atas permukaan koper kainnya yang sudah usang. Tangannya gemetar hebat saat ia mencoba menarik ritsleting tas itu. Di dalam sana, ia hanya mema**kkan beberapa helai baju, laptop, dan dompet. Masa bodoh dengan buku-buku teks mahal atau sepatu bermerek yang ia beli dari bonus "prestasi" gaibnya. Ia hanya ingin pergi. Detik ini juga.
"C**up," bisik Gery pada kesunyian yang mencekam. Suaranya pecah, hampir menyerupai isak tangis. "Gue nggak mau lagi. Pers**** dengan beasiswa, pers**** dengan karier."
Bau anyir sisa semalam—bau yang menyerupai daging busuk bercampur kemenyan—masih menempel kuat di dinding Kamar 404. Setiap kali Gery menarik napas, dadanya terasa sesak seolah-olah oksigen di ruangan itu telah digantikan oleh abu jenazah. Ia menyampirkan tas ranselnya ke bahu, lalu menyambar kunci kamar.
Ia melangkah menuju pintu kayu jati yang biasanya tampak elegan, namun kini terlihat seperti gerbang menuju liang lahat. Gery memutar kunci. Klik. Suara mekanis itu seharusnya menjadi melodi kebebasan, namun saat ia menarik gagang pintu, benda itu tidak bergeming.
Gery mengerutkan kening. Ia mencoba lagi, kali ini dengan sentakan yang lebih keras. Pintu itu tetap kaku, seolah-olah telah menyatu dengan kusennya, menjadi bagian utuh dari dinding beton.
"Jangan bercanda," geram Gery. Ia mulai menendang pintu itu, namun suara benturannya tidak bergema seperti kayu kosong. Bunyinya tumpul, seakan ia sedang menendang sebongkah daging yang padat.
Gery berbalik, matanya liar mencari jalan keluar lain. Jendela. Ya, jendela besar yang menghadap ke arah jalanan Jakarta Selatan yang gemerlap. Ia berlari ke sana, menyibak gorden beludru abu-abu yang mendadak terasa berat dan basah. Gery tercengang. Di balik kaca bening itu, tidak ada pemandangan lampu kota atau siluet gedung perkantoran. Yang ada hanya kegelapan total—hitam yang begitu pekat hingga seolah-olah cahaya pun ditelan habis di sana.
"Tolong!" Gery menggedor kaca jendela dengan kepalan tangannya. "Siapa pun di luar, tolong!"
Tiba-tiba, suhu di dalam kamar merosot tajam. Napas Gery membentuk uap putih di udara. Di sudut mata kirinya, bayangan di pojok ruangan mulai bergeliat. Bukan bayangan benda, melainkan gumpalan hitam yang perlahan membentuk siluet manusia.
"Kau mau pergi ke mana, Gery?"
Suara itu bukan berasal dari telinga, melainkan bergetar langsung di dalam tempurung kepalanya. Berat, serak, dan penuh dengan vib**si yang membuat perutnya mual. Ki Ageng tidak menampakkan wujud raksasanya, namun kehadirannya memenuhi setiap inci ruang udara.
"Gue mau berhenti! Ambil semuanya balik! Gue nggak mau kesuksesan ini kalau harus bayar pakai nyawa teman-teman gue!" teriak Gery ke arah kegelapan.
Tiba-tiba, suara tawa lirih terdengar dari bawah tempat tidur. Gery melompat mundur hingga punggungnya menempel pada pintu yang terkunci. Dari kolong ranjang, sebuah tangan yang pucat dan membiru merayap keluar. Jari-jarinya panjang, dengan kuku-kuku yang terlepas dan menyisakan luka menganga.
Itu adalah tangan Raka. Gery mengenalinya dari bekas luka bakar di punggung tangan sahabatnya itu—korban pertama setelah perjanjian dimulai.
"Gery... dingin..." bisik sebuah suara dari balik punggungnya.
Gery memutar tubuhnya dengan cepat, namun tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya pintu yang tertutup rapat. Namun, saat ia melihat ke bawah, ia melihat cairan kental berwarna merah kehitaman mulai merembes dari sela-sela bawah pintu. Darah itu tidak mengalir biasa; ia bergerak merayap seperti makhluk hidup, menjalar naik ke kaki celana Gery.
"Pergi! Pergi kalian!" Gery meronta, menepis darah yang mulai membasahi sepatunya.
Di sudut lain, bayangan Sarah—gadis yang baru minggu lalu ditemukan tewas di lift kampus—muncul. Wajahnya hancur, sebelah matanya menggantung di pipi, namun mulutnya masih bisa membentuk senyuman mengerikan yang memamerkan deretan gigi yang patah.
"Katanya kita teman, Gery," bisik sosok Sarah sambil berjalan menyeret kakinya yang patah. "Kenapa cuma kamu yang naik ke puncak? Sini, temani kami di bawah..."
"Enggak! Gue nggak tahu ini bakal terjadi! Ki Ageng yang melakukannya!" Gery berteriak histeris, tangannya menutupi telinga.
Tiba-tiba, seluruh lampu di kamar itu meledak secara bersamaan. Byar! Kegelapan total menyergap. Gery jatuh terduduk, mendekap lututnya di tengah kehampaan. Dalam kegelapan itu, ia merasakan sebuah tangan besar, berbulu kasar dan berbau tanah kuburan, mendarat dengan lembut di bahunya. Sentuhan itu tidak kasar, namun beratnya seolah mampu meremukkan tulang belikatnya.
"Kontrak itu tidak ditulis di atas kertas, Gery," suara Ki Ageng kembali bergema, kali ini begitu dekat hingga Gery bisa merasakan embusan napas dingin di tengkuknya. "Kontrak itu terukir di ambisimu. Setiap kali kau menerima pujian dari dosenmu, setiap kali kau melihat saldo bankmu bertambah... kau sendiri yang mengunci pintu ini."
"Gue mau keluar... tolong..." Gery terisak, egonya hancur total.
"Boleh," bisik Ki Ageng. "Pintu itu akan terbuka. Tapi kau tahu aturannya. Untuk membatalkan janji yang sudah ditenun, harus ada pengganti yang setara. Nyawa dibayar nyawa. Sukses dibayar hancur."
Gery merasakan tekanan di bahunya menguat. Di depannya, dalam kegelapan yang pekat, seberkas cahaya muncul dari arah cermin besar di dinding. Di dalam cermin itu, Gery tidak melihat pantulan dirinya. Ia melihat wajah ibunya di kampung, sedang duduk di kursi kayu tua sambil memegang tasbih, mendoakan kesuksesan putra tunggalnya di Jakarta.
Lalu, sebuah bayangan hitam besar muncul di belakang ibunya di dalam cermin, dengan tangan raksasa yang siap mencekik leher wanita tua itu.
"Pilih, Gery," suara Ki Ageng terdengar seperti lonceng kematian. "Kau yang tinggal di sini selamanya bersama korban-korbanmu, atau ibumu yang akan membukakan jalan keluar untukmu malam ini?"
Gery menatap bayangan ibunya dengan mata membelalak. Ia mencengkeram gagang pintu yang tadi terkunci, dan kali ini, gagang itu terasa panas membara, seolah-olah mulai mencair di bawah telapak tangannya. Pintu itu sedikit berderit terbuka, menampakkan lorong kost yang panjang dan tak berujung, namun di dalam cermin, kuku-kuku hitam Ki Ageng mulai menyentuh kulit leher ibunya.
Langkah kaki Gery tertahan di ambang pintu. Satu langkah lagi, ia bebas. Namun, satu detik lagi, ia mungkin akan menjadi yatim piatu.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!