Udara malam Jakarta Selatan yang biasanya lembap dan menyesakkan, kali ini terasa seperti es yang menyayat kulit Gery. Ia sengaja berjalan kaki keluar dari area kos mewah itu, menjauhi aroma dupa dan kemenyan yang entah mengapa mulai merembes dari sela-sela lant** parkir marmer. Langkahnya membawanya ke sebuah warung kopi kecil yang hampir tutup di pojok gang gelap, sekitar dua ratus meter dari gerbang gedung kosnya.
Di sana, seorang lelaki tua dengan jaket lusuh dan topi pet yang sudah pudar warnanya sedang menyeruput kopi hitam. Gery mengenalinya. Itu Pak sardi, mantan penjaga malam gedung itu yang tiba-tiba berhenti bekerja dua minggu setelah Gery pindah.
"Pak Sardi?" sapa Gery lirih. Suaranya bergetar, hampir tertelan deru mesin motor yang lewat.
Lelaki tua itu menoleh. Matanya yang keruh menatap Gery dari atas ke bawah, lalu ia mendengus pelan, seolah melihat seseorang yang sedang berjalan menuju tiang gantungan. "Masih hidup kamu, Le?"
Gery duduk di bangku kayu panjang di sebelah Pak Sardi. Tangannya gemetar saat ia merogoh saku untuk mengambil korek api. "Maksud Bapak apa?"
Pak Sardi tidak menjawab langsung. Ia menatap ke arah gedung kos yang menjulang megah di kejauhan, terlihat seperti nisan raksasa di bawah sinar bulan. "Kamar 404 itu bukan buat ditinggali, Gery. Itu kandang. Kamu itu cuma ternak yang sedang digemukkan sebelum disembelih."
Jantung Gery mencelos. "Saya... saya pikir ini keberuntungan. Ki Ageng membantu saya. Nilai saya, karier magang saya..."
"Ki Ageng?" Pak Sardi tertawa, sebuah suara kering yang terdengar seperti gesekan amplas. "Dia tidak memberi, dia meminjamkan. Dan bunganya adalah nyawa. Kamu lihat teman-temanmu yang jatuh sakit atau kecelakaan? Itu bukan kebetulan. Itu adalah angsuran pertama."
Gery merasa mual. Bayangan wajah teman sekelasnya yang tewas dalam kecelakaan tragis minggu lalu terlintas di benaknya. "Bagaimana cara saya berhenti, Pak?"
Pak Sardi memegang bahu Gery. Cengkeramannya kuat, seolah berusaha menyalurkan sisa-sisa keberanian. "Jangan kembali ke sana malam ini. Lari. Pulang ke kampungmu. Jangan bawa apa pun yang kamu beli dengan uang atau keberuntungan dari kamar itu. Tinggalkan semuanya."
Baru saja Gery hendak menanyakan det**l lebih lanjut, bulu kuduknya berdiri hebat. Angin kencang tiba-tiba bertiup, memadamkan lampu neon warung kopi itu. Bau busuk daging terbakar menyeruak, mengalahkan aroma kopi hitam. Pak Sardi mendadak pucat, matanya membelalak menatap sesuatu di belakang Gery.
"Dia... dia sudah di sini," bisik Pak Sardi dengan suara tercekat, sebelum tiba-tiba ia tersedak seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekik lehernya.
Gery berbalik, tapi tidak ada siapa-siapa. Namun, ia bisa merasakan kehadiran itu. Sebuah energi berat yang menindih dadanya hingga ia sulit bernapas. Ketakutan yang murni memacu adrenalinnya, membuat Gery lari sekencang mungkin kembali menuju gedung kosβbukan karena ingin, tapi karena kakinya seolah digerakkan oleh benang-benang gaib.
Begitu ia sampai di depan pintu kamar 404, pintu itu terbuka sendiri dengan derit yang memilukan.
Di dalam, ruangan itu gelap gulita, kecuali sepasang mata merah yang menyala di pojok plafon. Bau hutan basah dan anyir darah memenuhi ruangan. Gery mencoba berteriak, tapi lidahnya terasa kaku, terpaku ke langit-langit mulut.
"Kau mencoba pergi, Gery?" Suara itu bukan terdengar di telinga, melainkan bergema langsung di dalam tengkoraknya. Berat dan bergetar, membuat tulang belulangnya terasa linu.
Ki Ageng turun dari kegelapan. Sosoknya yang setinggi dua setengah meter, dipenuhi bulu hitam lebat dan kasar, kini berdiri tepat di depan Gery. Hawa panas memancar dari tubuh makhluk itu.
"Penjaga tua itu bicara terlalu banyak," geram Ki Ageng. "Apakah kau lupa siapa yang mengeluarkanmu dari selokan kemiskinan? Apakah kau lupa rasa lapar yang mencekikmu sebelum kau bertemu denganku?"
Tiba-tiba, dinding kamar 404 berubah. Gery tidak lagi melihat tembok bercat putih mahal, melainkan pemandangan mengerikan. Ia melihat bayangan dirinya sendiri di masa depan, duduk di kursi direktur, tapi di bawah kakinya bukan lant**, melainkan tumpukan mayat teman-temannya yang membusuk. Di sana ada ibunya, ayahnya, semuanya menatap Gery dengan mata kosong yang menuduh.
"Tidaaak!" Gery akhirnya berhasil berteriak.
"Kau miliku, Gery," Ki Ageng mendekatkan wajahnya yang mengerikan. Taring-taringnya yang kuning menyembul di antara bibir yang hitam. Makhluk itu mengulurkan tangan cakarnya yang besar, lalu dengan perlahan menggores dada Gery. Perihnya luar biasa, tapi yang lebih menyakitkan adalah rasa dingin yang menjalar ke jantungnya.
Gery jatuh berlutut. Kepalanya berdenyut hebat. Ia mulai melihat halusinasiβsuara tawa Pak Sardi yang berubah menjadi jeritan, bayangan uang kertas yang berubah menjadi potongan daging manusia, dan bisikan-bisikan ribuan jiwa yang menuntut balas.
"Setiap langkah suksesmu adalah satu nyawa yang kau ambil," bisik Ki Ageng tepat di telinga Gery. "Dan malam ini, kau telah melanggar kesetiaan. Haruskah aku mengambil nyawa ibumu sebagai denda?"
Gery menangis histeris, mencakar lant** marmer hingga kuku-kukunya berdarah. Siksaan mental itu jauh lebih dahsyat daripada luka fisik mana pun. Ia merasa jiwanya ditarik keluar, dipilin, dan dibuang ke dalam sumur kegelapan yang tak berdasar.
Di tengah siksaan itu, Gery melihat sebuah bayangan kecil di sudut ruangan yang tidak pernah ia sadari sebelumnya. Sebuah bungkusan kain kafan tua yang terkubur di bawah ubin yang retak tepat di bawah tempat tidur. Bungkusan itu bergetar, memancarkan aura merah yang pekat.
Ki Ageng menyadari arah pandangan Gery. Kemarahan makhluk itu meledak. Seluruh isi kamar terlempar, kaca jendela pecah berantakan. Gery terlempar ke dinding, tubuhnya lemas tak berdaya. Namun, di sisa kesadarannya, ia tahu satu hal: bungkusan itu adalah jantung dari perjanjian ini.
"Kau tidak akan pernah bisa menyentuhnya, budak kecil," geram Ki Ageng sambil mencengkeram leher Gery, mengangkat tubuh pemuda itu hingga kakinya menggantung di udara.
Napas Gery tersengal. Pandangannya mulai mengabur. Tepat saat ia merasa ajalnya tiba, pintu kamar 404 digedor dengan sangat keras dari luar, diiringi suara teriakan yang tak ia kenali, yang membuat Ki Ageng mendesis kesakitan dan melepaskan cengkeramannya. Gery terjatuh ke lant**, terbatuk darah, sementara Ki Ageng mundur ke dalam bayang-bayang dengan raungan murka yang menggetarkan seluruh gedung.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!