Hujan deras mengguyur Jakarta Selatan malam itu, mengubah aspal jalanan menjadi cermin hitam yang memantulkan lampu-lampu neon kota yang gelisah. Aku melangkah ma**k ke dalam gedung kost dengan perasaan yang tak menentu. Sepatuku yang basah meninggalkan jejak lembap di lant** marmer lobi yang dingin. Setiap kali aku melewati cermin besar di koridor menuju lant** empat, aku sengaja memalingkan wajah. Aku tidak sanggup melihat pantulan mataku sendiri; ada sesuatu yang asing di sana, sesuatu yang lahir dari ambisi dan genangan darah teman-temanku.
Bau tanah basah dan kemenyan yang pekat menyambutku bahkan sebelum aku memutar kunci Kamar 404. Begitu pintu terbuka, hawa dingin yang tidak wajar menyergap tengkukku, membuat bulu kuduk berdiri tegak. Ruangan itu gelap, hanya menyisakan keremangan dari lampu jalan yang menembus jendela.
Di sudut kamar, di atas ranjang yang seharusnya kosong, sesosok bayangan raksasa sedang berjongkok. Ki Ageng. Tubuhnya yang hitam legam dan berbulu lebat seolah menyerap seluruh cahaya di ruangan itu. Sepasang matanya yang merah menyala seperti bara api menatapku tajam, menembus lapisan harga diriku yang paling dalam.
"Kau pulang terlambat, Gery," suara itu bukan berasal dari pita suara manusia. Itu adalah getaran yang merayap dari lant**, naik ke tulang kakiku, dan berdentum di dalam dadaku.
"Banyak urusan di kantor, Ki," jawabku dengan suara bergetar. Aku meletakkan tas laptopku di meja dengan tangan yang gemetar. "Proyek baruku disetujui. Semua orang memujiku. Bukankah itu yang kau inginkan?"
Sosok itu bergerak pelan. Suara gesekan kuku-kuku panjangnya di atas sprei terdengar seperti pisau yang menggores kain. "Bukan apa yang *aku* inginkan, tapi apa yang *kau* minta. Kesuksesan butuh bensin, dan bensin itu adalah nyawa. Kau sudah tahu hukumnya."
Aku menelan ludah. Bayangan wajah Aris dan Bayuβdua temanku yang tewas dalam kecelakaan tragis beberapa bulan terakhirβmelintas di benakku. Aku berusaha mengenyahkannya. "Siapa lagi? Siapa lagi yang harus hilang agar aku tetap di puncak?"
Ki Ageng berdiri, tingginya hampir menyentuh langit-langit kamar yang tinggi. Ia melangkah mendekat, bau busuk daging mentah mulai memenuhi rongga hidungku. Ia tidak menjawab dengan kata-kata. Sebaliknya, ia menunjuk ke arah meja rias kecil di sudut ruangan, tempat aku meletakkan bingkai foto yang baru saja kupasang kemarin.
Jantungku seakan berhenti berdetak. Di dalam bingkai itu, ada foto Maya. Maya, perempuan yang menemaniku sejak aku masih tinggal di kosan kumuh pinggiran Jakarta. Maya yang selalu percaya padaku saat aku tidak punya apa-apa selain mimpi kosong.
"Tidak," bisikku, suaraku nyaris hilang. "Jangan dia. Siapa pun, tapi jangan Maya."
Ki Ageng tertawa. Suaranya terdengar seperti tumpukan tulang yang bergeser. "Pengorbanan yang paling manis adalah yang paling berharga bagimu, Gery. Semakin besar rasa sakitnya, semakin tinggi kau akan mendaki. Bukankah kau takut kembali melarat? Bukankah kau benci dipandang rendah oleh keluargamu?"
"Aku bisa memberikan yang lain! Aku punya relasi, teman kerja yang rakus, siapa saja!" aku berteriak, air mata mulai menggenang. Aku merasa seperti binatang yang terpojok.
"Perjanjian ini tidak mengenal negosiasi ulang," Ki Ageng mendekatkan wajahnya yang mengerikan ke telingaku. Nafasnya terasa panas dan berbau belerang. "Malam ini, dia akan datang menemuimu, bukan? Dia ingin merayakan promosimu."
Aku tersentak. Aku memang sudah berjanji pada Maya untuk makan malam di kamar ini malam ini. Aku ingin menunjukkan padanya bahwa hidup kami sudah berubah, bahwa aku sudah berhasil. Aku tidak menyadari bahwa keberhasilanku adalah undangan kematian baginya.
Tiba-tiba, ponselku di atas meja bergetar. Layarnya menyala, menampilkan nama 'Maya' dengan emot***n hati di sampingnya. Di bawah cahaya remang-remang, getaran ponsel itu terdengar seperti lonceng kematian.
"Dia sudah di depan gerbang," bisik Ki Ageng, lalu perlahan sosoknya memudar, menyatu dengan bayang-bayang di sudut ruangan, namun kehadirannya tetap terasa seperti beban beton yang menindih dadaku.
Aku menyambar ponselku dengan panik. Jariku dengan gemetar menekan tombol panggil kembali, berniat menyuruhnya pulang, menyuruhnya lari sejauh mungkin dariku dan gedung terkutuk ini. Namun, saat ponsel itu menempel di telingaku, yang terdengar hanyalah suara statis yang berisik, disusul oleh suara geraman rendah yang sangat kukenal.
*Tok... tok... tok...*
Suara ketukan pintu depan terdengar lembut, namun di telingaku, itu terdengar seperti dentuman palu hakim yang menjatuhkan vonis mati.
"Gery? Ini aku, Maya. Aku bawain makanan kesukaan kamu," suara lembut Maya terdengar dari balik pintu. Begitu ceria, begitu tulus, sama sekali tidak menyadari maut yang sedang mengint** di dalam kegelapan kamarku.
Aku berdiri mematung di tengah ruangan. Di satu sisi, ada pintu menuju koridorβpintu menuju Maya, menuju satu-satunya kepingan kemanusiaan yang tersisa dalam diriku. Di sisi lain, ada bayang-bayang Ki Ageng yang mengawasi dari sudut, mengingatkanku pada jurang kemiskinan yang siap menelanku jika aku melanggar perjanjian ini.
Aku melangkah menuju pintu, tanganku meraih gagang pintu yang terasa sedingin es. Aku bisa mendengar deru nafas Maya di balik sana. Namun, saat jemariku menyentuh logam dingin itu, aku melihat bayanganku sendiri di kaca jendela. Bayanganku tidak lagi memiliki wajah yang kukenal; wajah itu tampak haus, tampak rakus, dan di belakang bayanganku, Ki Ageng sudah membuka mulutnya lebar-lebar, siap menyantap apa pun yang ma**k ke dalam ruangan ini.
"Gery? Kamu di dalam kan? Kok pintunya dikunci?" suara Maya terdengar agak bingung sekarang.
Aku menarik nafas panjang, berusaha menahan isak tangis yang menyesakkan tenggorokan. Aku tahu apa yang harus kulakukan, tapi apakah aku sanggup melakukannya? Jika aku membukakan pintu ini, aku akan kehilangan cintaku. Jika aku membiarkannya pergi, aku akan kehilangan segalanya yang telah kubangun dengan tumbal nyawa.
Tepat saat aku hendak memutar kunci, lampu di seluruh koridor luar tiba-tiba padam. Aku mendengar Maya menjerit kecil karena terkejut.
"Gery! Lampunya mati! Tolong buka pintunya!"
Aku memutar kunci dengan cepat, namun sebelum aku sempat menarik gagangnya, sebuah tangan besar yang dingin dan berbulu mencengkeram pergelangan tanganku dari belakang, menahan pintu itu agar tetap tertutup.
"Biarkan dia ma**k sendiri, Gery," bisik suara itu tepat di tengkukku. "Biarkan dia melangkah ke dalam takdirmu."
Gagang pintu mulai berputar dari luar. Maya memiliki kunci cadangan yang kuberikan minggu lalu. Jantungku berpacu g***-g***an saat aku melihat celah pintu mulai terbuka perlahan, menampakkan cahaya remang-remang dari koridor yang kosong, sementara di dalam kamar ini, kegelapan mutlak sudah bersiap untuk menerkam.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!