Aroma melati yang memuakkan itu tidak mau hilang dari pangkal hidungnya, meskipun Gery sudah menempuh perjalanan satu jam menggunakan ojek daring ke pinggiran Depok. Di sini, di sebuah gang sempit yang hanya c**up dilewati satu motor, Gery merasa sedikit lebih amanβatau setidaknya, ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri begitu.
Langkahnya gemetar saat ia berhenti di depan sebuah rumah kayu tua dengan cat hijau yang sudah mengelupas. Tidak ada papan nama "Dukun" atau "Paranormal," hanya sebuah pot tanah liat berisi kembang tujuh rupa yang sudah mengering di depan pintu. Gery merogoh saku celananya, meremas secarik kertas berisi alamat yang ia dapatkan dari forum rahasia di internet dengan susah payah.
"Permisi... Abah Rasyid?" suara Gery tercekat di tenggorokan. Ia berdeham, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya.
Pintu berderit terbuka. Seorang pria tua dengan sarung lusuh dan peci miring menatapnya dengan mata yang seolah bisa menembus tulang rusuk Gery. Pria itu tidak tersenyum. Ia hanya mengendus udara di sekitar Gery, lalu wajahnya berubah pucat pasi.
"Kamu membawa bau bangkai yang sangat besar, Nak," bisik Abah Rasyid. Suaranya serak, seperti gesekan amplas pada kayu. "Ma**klah. Sebelum 'dia' menyadari aku sedang melihatnya."
Gery melangkah ma**k ke ruang tamu yang remang-remang. Ruangan itu pengap, penuh dengan aroma kemenyan dan buku-buku kuno yang menjamur. Saat ia duduk di atas tikar pandan, tengkuknya tiba-tiba mendingin. Sensasi itu familiarβseperti ada embusan napas berat yang menggelitik leher belakangnya.
"Saya... saya ingin melepaskan diri, Bah," kata Gery cepat, suaranya bergetar. "Teman-teman saya meninggal. Saya tidak mau lagi. Saya ingin keluar dari kamar itu."
Abah Rasyid duduk bersila di hadapannya, jemarinya yang keriput mulai memutar tasbih kayu. "Kamar 404. Perjanjian itu sudah terikat darah, Gery. Ki Ageng bukan jenis jin penunggu biasa. Dia penguasa yang lapar. Kamu sudah memberinya makan dengan kesuksesanmu, dan sekarang dia menagih bunganya."
Tiba-tiba, telinga Gery berdenging hebat. Suara melengking itu seolah menusuk gendang telinganya hingga ke otak. Di tengah dengingan itu, sebuah suara berat yang sangat ia kenali menggema, seolah-olah berasal dari dalam tempurung kepalanya sendiri.
*Tega sekali kau, Gery... Bukankah aku yang memberimu segalanya?*
Gery mengerang, memegangi kepalanya. "Diam! Pergi!"
"Nak? Ada apa?" Abah Rasyid meraih botol air mineral dan mulai merapalkan doa dengan cepat.
Namun, Gery tidak lagi memegang kendali atas tubuhnya. Tangan kanannya bergerak sendiri, seolah-olah digerakkan oleh benang-benang tak kasat mata. Matanya melotot, menyaksikan tangannya menyambar sebuah asbak kaca tebal di atas meja kayu kecil di sampingnya.
"Gery, lawan! Jangan biarkan dia ma**k!" teriak Abah Rasyid, suaranya tenggelam oleh gemuruh di kepala Gery.
Gery ingin berteriak, tapi lidahnya terasa kelu dan kaku. Dengan tenaga yang bukan miliknya, ia menghantamkan asbak itu ke telapak tangan kirinya sendiri.
*B**K!*
"Argh!" Gery melolong kesakitan. Tulang telapak tangannya terasa retak. Darah segar mulai merembes, tapi tangannya tidak berhenti. Seolah dira**ki keg***an, tangan kanannya kembali mengangkat asbak itu, kali ini mengarah ke pelipisnya sendiri.
*Jangan mencoba berkhianat, budak kecil,* suara Ki Ageng tertawa, sebuah tawa rendah yang menggetarkan dada Gery.
"Berhenti... tolong... berhenti..." Gery terisak, air mata dan keringat dingin bercampur di wajahnya. Ia berusaha menahan tangan kanannya dengan tangan kiri yang sudah hancur, namun tenaganya kalah telak. Ia merasa seperti penumpang di dalam tubuhnya sendiri, menonton dengan ngeri saat ia mulai menyakiti dirinya sendiri.
Abah Rasyid bangkit dan mencoba memegang bahu Gery, tapi sebuah kekuatan tak kasat mata melempar pria tua itu hingga terbentur lemari kayu. Buku-buku berjatuhan, debu beterbangan.
"Dia... dia di sini..." Abah Rasyid terengah, menunjuk ke arah bayangan hitam besar yang mulai memadat di belakang punggung Gery. Bayangan itu tidak memiliki bentuk pasti, hanya dua mata merah sebesar piring kecil yang menyala di kegelapan sudut ruangan.
Gery merasakan kuku-kuku tajam imajiner mulai menyayat kulit lengannya, membentuk pola-pola aneh yang mengeluarkan darah. Rasa perihnya begitu nyata, begitu membakar. Ki Ageng tidak hanya ingin membunuhnya; dia ingin menyiksa Gery karena berani mencari bantuan.
"Abah, tolong!" Gery berteriak saat tangannya sekarang meraih sebuah pecahan kaca dari asbak yang tadi pecah. Ujung kaca yang tajam itu kini mengarah tepat ke lubang telinganya.
"Ambil ini!" Abah Rasyid melemparkan sebuah bungkusan kain kafan kecil ke arah pangkuan Gery. "Genggam! Itu tanah makam keramat! Itu akan melindungimu sementara!"
Dengan sisa kesadaran yang hampir habis karena rasa sakit, Gery menerjang maju, meraih bungkusan itu dengan jemarinya yang bersimbah darah. Saat kulitnya bersentuhan dengan kain putih itu, sebuah ledakan hawa dingin menyambar seluruh tubuhnya. Suara dengingan di telinganya menghilang seketika, digantikan oleh raungan kemarahan yang luar biasa dari sudut ruangan.
Gery tersungkur ke lant**, terengah-engah. Tubuhnya gemetar hebat, luka-luka di lengannya masih berdenyut perih. Ia melihat bayangan hitam itu perlahan memudar, tapi mata merah itu tetap menatapnya dengan kebencian murni sebelum benar-benar hilang.
Abah Rasyid merangkak mendekat, wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua hanya dalam hitungan menit. Ia memegang tangan Gery yang terluka, menatap pola sayatan di lengan pemuda itu.
"Ini bukan sekadar luka," bisik Abah dengan suara bergetar. "Ini peringatan. Dia sudah menandaimu sebagai miliknya sepenuhnya, Gery. Tanah ini hanya bisa menahannya selama beberapa jam."
Gery menatap lengannya yang gemetar. Pola sayatan itu membentuk sebuah angka yang membuatnya mual. *404*.
"Apa yang harus saya lakukan, Bah?" tanya Gery dengan suara nyaris hilang.
Abah Rasyid menatap pintu keluar dengan ngeri. "Lari bukan lagi pilihan. Dia bisa menarikmu kembali kapan saja dia mau. Kamu harus kembali ke kamar itu sebelum matahari terbenam. Ada sesuatu di bawah lant** kamar itu, sesuatu yang mengikat jiwanya ke dunia ini. Kamu harus menghancurkannya, atau kamu akan berakhir seperti teman-temannmu... sebagai tumbal."
Gery menelan ludah. Ia melirik jam di dinding. Pukul empat sore. Jakarta Selatan terasa ribuan mil jauhnya, namun ia tahu, setiap detik yang berlalu adalah langkah menuju liang kuburnya sendiri. Di luar, langit mulai mendung, seolah-olah kegelapan sengaja menjemputnya untuk pulang ke Kamar 404.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!