Bau anyir darah yang mulai mengering bercampur dengan aroma kemenyan yang menyesakkan dada memenuhi setiap sudut Kamar 404. Paru-paruku terasa seperti terbakar setiap kali aku menarik napas. Di atas lant** keramik yang dingin, aku telah melingkarkan garam kasar dan bubuk arang, membentuk batas rapuh antara kewarasanku dan maut yang mengint** di balik bayangan.
Tanganku gemetar hebat saat menyalakan sebatang lilin merah di tengah lingkaran. Cahayanya bergoyang-goyang, melemparkan bayangan raksasa ke dinding yang mulai tampak berdenyut seolah-olah semen dan bata itu memiliki jantung.
"Kau pikir segenggam garam dan mantra usang bisa memutus apa yang sudah terikat dengan nyawa, Gery?"
Suara itu tidak datang dari telinga, melainkan bergema langsung di dalam tempurung kepalaku. Berat, parau, dan bergetar dengan kebencian yang purba.
Aku tersentak, nyaris menjatuhkan botol kecil berisi minyak penunggal yang kuterima dari orang pintar di kampung. Di sudut ruangan, bayangan hitam yang biasanya hanya diam di atas lemari kini mulai memadat. Bulu-bulu hitam kasar setajam kawat tumbuh dari kegelapan itu. Sepasang mata merah menyala, sebesar kepalan tangan manusia, menatapku dengan intimidasi yang membuat lututku lemas.
"Aku tidak menginginkan ini lagi, Ki Ageng!" teriakku, suaranya pecah oleh ketakutan yang tak terbendung. "Ambil kembali semua prestasiku! Ambil semua uang di rekeningku! Tapi berhenti membunuh teman-temanku!"
Sosok itu melangkah maju. Lant** kamar berderit tragis di bawah beban tubuhnya yang masif. Tingginya hampir menyentuh langit-langit, membuat kamar kost mewah ini terasa seperti peti mati yang sempit. Ki Ageng menyeringai, memperlihatkan taring-taring kuning yang meneteskan liur kental berbau bangkai.
"Teman-temanmu adalah tumbal yang kau setujui dalam diam setiap kali kau menerima pujian dosenmu," Ki Ageng terkekeh, suara tawanya seperti gesekan batu nisan. "Kau suka menjadi pemenang, Gery. Kau suka melihat mereka merangkak di bawah kakimu. Sekarang, setelah kau kenyang, kau ingin memuntahkannya?"
"C**up!" aku menjerit, tanganku meraih lembar kontrak yang dulu kutanda tangani dengan darah di bawah pengaruh hipnotisnya. Aku mulai merapal kalimat-kalimat pemutus yang sudah kuhafal di luar kepala. Suaraku gemetar, namun aku memaksakan setiap kata keluar.
Ruangan itu tiba-tiba berguncang hebat. Foto-foto di dinding—foto wisuda kakak tingkat yang dulu pernah menempati kamar ini sebelum 'menghilang'—jatuh dan pecah berantakan. Angin kencang yang entah datang dari mana memutar di dalam kamar, memadamkan lilin merahku seketika.
Kegelapan total menyergap.
"Kau lemah," bisik Ki Ageng tepat di telingaku. Aku bisa merasakan hawa panas dari napasnya yang busuk membakar kulit leherku. "Tanpa aku, kau hanya sampah dari desa yang akan membusuk di emperan Jakarta. Kau ingin kembali melarat? Kembali dihina karena tidak punya apa-apa?"
Tangan besar berbulu itu mencengkeram leherku, mengangkat tubuhku hingga kakiku menendang-nendang udara. Oksigen menipis. Penglihatanku mulai berkunang-kunang, dipenuhi bintik-bintik putih. Dalam keputusasaan, aku teringat wajah almarhum Bagas, sahabatku yang ditemukan tewas dengan jantung hilang di kamarnya sendiri seminggu yang lalu. Wajah pucatnya seolah hadir di kegelapan ini, menuntut keadilan.
Rasa bersalah itu berubah menjadi api yang membakar rasa takutku. Dengan sisa tenaga, aku menghujamkan pecahan botol minyak penunggal yang pecah di saku celanaku tepat ke arah yang kupikir adalah lengannya.
Cairan itu mengenai kulitnya. Ki Ageng meraung—suara yang begitu keras hingga kaca jendela kamar 404 pecah berkeping-keping. Aku terhempas ke lant**, terbatuk-batuk mencari udara.
"KAU... MANUSIA TIDAK TAHU DIRI!" raungnya.
Seluruh kamar mulai berubah. Dinding-dindingnya luruh seperti kulit yang membusuk, menyingkapkan pemandangan mengerikan: ribuan tulang belulang manusia tertanam di balik tembok kamar ini. Bau busuknya kini seribu kali lebih tajam. Ki Ageng tidak lagi mencoba merayuku; wujudnya kini murni monster yang murka. Tubuhnya membesar, memenuhi ruangan, sementara tangan-tangan hitam kecil muncul dari lant**, mencengkeram pergelangan kakiku, berusaha menyeretku ma**k ke dalam ubin yang kini melunak seperti lumpur hisap.
Aku merangkak menuju kertas kontrak yang tergeletak di tengah lingkaran arang. Jariku berdarah karena terkena serpihan kaca, namun aku tidak peduli. Aku butuh api. Aku butuh memusnahkan perjanjian itu.
"Jangan berani-berani, Gery!" Ki Ageng menerjang, cakarnya yang panjang menyambar punggungku, merobek kemeja dan kulitku.
Aku menjerit kesakitan, rasa panas menjalar di punggungku, namun tanganku berhasil menggapai korek api yang terjatuh. Dengan gerakan cepat, aku menyalakan pemantik itu tepat di atas kertas yang sudah basah oleh minyak suci dan darahku sendiri.
Api biru berkobar seketika.
Jeritan Ki Ageng kali ini berbeda. Bukan lagi kemarahan, melainkan rasa sakit yang luar biasa. Tubuhnya mulai retak-retak seperti tanah kering yang dipanggang matahari. Cahaya biru dari kertas yang terbakar itu meluas, membentuk gelombang kejut yang menyapu seluruh isi kamar.
"Kau pikir ini berakhir di sini?" suara Ki Ageng melemah, namun penuh dengan ancaman yang membuat bulu kudukku berdiri. "Perjanjian ini tidak ditulis di atas kertas, Gery... tapi di dalam darahmu."
Ledakan cahaya menyilaukan mata membuatku terlempar ke arah pintu. Kepalaku menghantam kosen kayu dengan keras sebelum semuanya menjadi gelap.
Sayup-sayup, aku mendengar suara sirine ambulan dan teriakan penjaga kost dari luar. Namun, di tengah kesadaranku yang mulai menghilang, aku merasakan sesuatu yang dingin merayap di dalam pembuluh darahku. Sesuatu yang berdenyut, seirama dengan detak jantungku sendiri.
Aku membuka mata sedikit, hanya untuk melihat bayangan hitam terakhir sebelum benar-benar pingsan. Bayangan itu tidak menghilang ke udara, melainkan ma**k dan menyatu ke dalam bayanganku sendiri yang terpantul di ubin yang hancur.
Lalu, sebuah suara bisikan lembut—hampir seperti desahan puas—terdengar tepat di dalam dadaku.
"Sekarang, kita benar-benar satu, Gery."
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!