Bau tajam bensin menyeruak, menusuk hidung hingga dadaku terasa sesak. Tanganku gemetar hebat saat meremas botol plastik terakhir, mengucurkan cairan bening itu ke atas ka**r busa yang sudah bertahun-tahun menjadi saksi bisu ambisi butaku. Cairan itu merembes cepat, menenggelamkan bantal dan guling yang sering kali terasa dingin meski cuaca Jakarta Selatan sedang terik-teriknya.
Aku mundur selangkah, menatap sekeliling Kamar 404. Ruangan ini tidak lagi terasa seperti tempat beristirahat. Dinding-dindingnya yang lembap seolah bernapas, berdenyut pelan mengikuti detak jantungku yang berpacu liar. Di sudut gelap dekat lemari tua, aku bisa merasakan kehadiran itu. Hawa dingin yang janggal, bau rambut terbakar yang samar, dan tatapan mata merah yang tidak pernah benar-benar pergi.
"Maafkan aku, teman-teman," bisikku lirih. Bayangan wajah merekaβRian, Maya, dan yang lainnyaβmelintas seperti potongan film rusak. Mereka adalah tumbal bagi IPK sempurna dan tawaran kerja di perusahaan multinasional yang kini terasa seperti sampah di mataku.
Aku merogoh saku celana, mengeluarkan korek api gas murahan. Jempolku berkali-kali meleset saat mencoba memutar rodanya. Keringat dingin bercampur bensin di tanganku membuat segalanya terasa licin.
*Ctek. Ctek.*
Api kecil muncul. Cahayanya menari-nari, memantul di bola mataku yang memerah karena kurang tidur. Di saat itulah, suhu ruangan merosot tajam. Napasku menguap di udara, putih dan tipis.
"Kau pikir ... ini akan mengakhirinya, Gery?"
Suara itu bukan berasal dari telinga, melainkan bergema langsung di dalam tengkorakku. Berat, parau, dan bergetar seperti gesekan batu besar. Ki Ageng. Sosok itu perlahan memisahkan diri dari bayangan lemari. Tubuhnya yang besar, berbulu hitam lebat setinggi langit-langit, membungkuk paksa agar bisa berdiri di dalam ruangan sempit ini. Aroma busuk bangkai menyeruak, mengalahkan bau bensin yang menyengat.
"Aku harus menghentikannya," suaraku bergetar, namun penuh tekad yang tersisa. "Perjanjian ini batal!"
"Perjanjian ini tertulis dengan darah di atas napasmu," Ki Ageng menyeringai, memperlihatkan taring-taring kuning yang menjijikkan. "Kau tidak bisa membakar apa yang sudah menyatu dengan jiwamu."
Tanpa menunggu lebih lama, aku menjatuhkan korek api itu ke genangan bensin di lant**.
*Wush!*
Api langsung menyambar. Si jago merah merambat cepat, menjilati kaki tempat tidur dan merayap ke dinding. Dalam hitungan detik, Kamar 404 berubah menjadi neraka kecil. Asap hitam mengepul, memenuhi paru-paruku dengan rasa pahit yang mencekik. Aku segera berbalik, meraba-raba mencari gagang pintu di balik kabut asap yang mulai menebal.
Namun, pintu itu tidak ada.
Aku meraba dinding yang panas membara, tapi jemariku hanya menyentuh beton yang seolah meleleh dan berubah menjadi tekstur kulit yang kasar. Aku berbalik dengan panik. Di tengah kobaran api yang kian membesar, Ki Ageng berdiri tegak. Dia tidak terbakar. Api itu justru tampak seperti peliharaan yang menari-nari di sekeliling tubuh raksasanya.
"Ke mana kau akan pergi, Budakku?" Ki Ageng melangkah maju. Setiap pijakannya membuat lant** kost yang tua ini bergetar.
"Lepaskan aku!" teriakku, terbatuk-batuk karena asap yang mulai menyiksa kerongkongan. Pandanganku mulai kabur. Oksigen di ruangan ini habis dilahap api, tapi entah mengapa aku tidak kunjung pingsan. Rasa sakitnya nyata, tapi kematian terasa sangat jauh.
Tiba-tiba, tangan besar berbulu itu mencengkeram leherku. Kuku-kukunya yang tajam menusuk kulit, tapi yang kurasakan bukan hanya perih, melainkan dingin yang membekukan tulang. Ki Ageng mengangkatku hingga kakiku menendang-nendang udara. Di sekeliling kami, realitas mulai retak. Dinding-dinding kamar yang terbakar seolah melar, berubah menjadi gerbang kegelapan yang tak berujung.
"Kau membakar rumahku, maka kau harus memberiku rumah baru," Ki Ageng mendekatkan wajahnya yang mengerikan. Mata merahnya berpijar terang, seolah ingin menyedot seluruh kesadaranku. "Tubuhmu adalah tempat menginapku yang paling sempurna."
"Tidak... tidak akan!" aku meronta, memukul-mukul lengannya yang sekeras batang pohon jati tua.
Kobaran api di sekeliling kami tiba-tiba berubah warna menjadi hitam pekat. Suara gemeretak kayu terbakar berubah menjadi rintihan ribuan jiwa yang tersiksa. Aku merasa tubuhku mulai tertarik, bukan ke luar pintu, melainkan ke dalam bayangan Ki Ageng yang membesar memenuhi seluruh ruangan.
Lant** di bawah kakiku runtuh, tapi bukannya jatuh ke lant** bawah kost, aku merasa terhisap ke dalam pusaran kegelapan yang dingin. Api yang tadi membakar kulitku kini terasa menjauh, digantikan oleh kehampaan yang luar biasa luas.
"Ikutlah denganku ke tempat di mana ambisi tak pernah mati, Gery," bisik Ki Ageng tepat di telingaku.
Kesadaranku mulai meredup. Cahaya terakhir dari Kamar 404 yang terbakar mengecil menjadi satu titik cahaya di atas sana, seperti lubang sumur yang sangat dalam. Aku berusaha menggapainya, namun cengkeraman di leherku menarikku semakin dalam ke bawah, ke tempat di mana matahari tidak pernah berani menampakkan diri.
Tepat sebelum semuanya menjadi gelap total, aku mendengar suara sirine pemadam kebakaran di kejauhan, sangat jauh, seolah suara itu berasal dari dunia yang berbeda. Dan di saat itulah, aku menyadari satu hal yang lebih mengerikan daripada api: aku belum mati, tapi aku sudah tidak lagi berada di dunia manusia.
Kegelapan itu kini mulai merayap ma**k ke dalam mulutku, mengisi rongga dadaku, dan menggantikan detak jantungku dengan sesuatu yang lain. Sesuatu yang lapar.
"Selamat datang di rumah yang sebenarnya," suara Ki Ageng terdengar sangat dekat, hampir seperti berasal dari dalam pikiranku sendiri.
Lalu, sebuah tarikan keras menyentak seluruh jiwaku, dan aku pun berhenti berteriak. Namun, rasa sakit yang baru saja dimulai ini jauh lebih buruk daripada terbakar hidup-hidup. Karena kini, aku bisa merasakan sesuatu yang lain mulai mengambil alih kendali atas tanganku sendiri.
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!