Bau sangit itu tidak pernah benar-benar pergi. Meski aku sudah menyabuni tubuhku berkali-kali hingga kulitku memerah dan perih, aroma rambut terbakar dan asap tebal yang menyesakkan dada seolah telah menyatu dengan pori-poriku. Di cermin kecil yang retak di sudut kamar kost baruku—sebuah ruangan sempit tiga kali tiga meter di daerah Palmerah—aku menatap bayanganku sendiri.
Wajahku tampak lebih tirus. Lingkaran hitam di bawah mataku menyerupai lebam, sisa dari malam-malam tanpa tidur yang kuhabiskan dengan terjaga, menunggu sesuatu yang mungkin akan muncul dari balik pintu. Aku menyentuh bekas luka bakar di bahu kiriku yang kini mulai mengering dan mengelupas. Itu adalah kenang-kenangan dari Kamar 404. Sebuah tanda permanen bahwa aku pernah melangkah ma**k ke dalam sarang i**** dan nyaris tidak keluar hidup-hidup.
"Gery? Kamu di dalam?" Suara ketukan pelan di pintu kayu yang lapuk itu mengejutkanku. Tubuhku tersentak, tanganku tanpa sadar meraih pisau lipat yang selalu kusimpan di bawah bantal.
"Ya, Bu Mirna?" jawabku setelah berhasil menetralkan napas. Itu hanya ibu kos, seorang wanita tua yang baik hati, jauh berbeda dari sosok penjaga kos misterius di Jakarta Selatan dulu.
"Ini ada sedikit nasi uduk. Kebetulan Ibu masak agak banyak," katanya dari balik pintu.
Aku membuka pintu sedikit, hanya c**up untuk menerima piring plastik berisi nasi dan tempe orek. Aku memaksakan senyum tipis. "Terima kasih, Bu. Repot-repot sekali."
"Nggak apa-apa, Le. Kamu itu pucat sekali sejak pindah ke sini seminggu lalu. Jangan terlalu banyak pikiran, ya? Kuliah itu memang berat, tapi kesehatan nomor satu."
Aku mengangguk pelan, menunggu sampai langkah kaki Bu Mirna menjauh di koridor yang remang. Begitu sepi kembali menyergap, aku menutup pintu dan menguncinya dengan tiga slot tambahan yang sengaja kupasang sendiri. Aku duduk di lant**, meletakkan nasi uduk itu di samping laptop tua yang layarnya sudah bergaris-garis.
Hidupku sekarang kembali ke titik nol. Tidak ada lagi apartemen mewah, tidak ada lagi uang bulanan jutaan rupiah yang muncul secara ajaib di rekeningku, dan yang paling penting, tidak ada lagi Ki Ageng. Sosok raksasa berbulu itu seharusnya sudah lenyap bersama kobaran api yang melahap seluruh isi kost terkutuk itu. Aku melihatnya sendiri—bagaimana atap bangunan itu runtuh, menimbun segala perjanjian hitam yang pernah kami buat di atas tumpukan mayat teman-temanku.
Aku mencoba menyuap nasi ke mulutku, tapi rasanya hambar. Pikiranku melayang pada almarhum Dimas dan rintihan terakhirnya. Rasa bersalah itu seperti parasit yang menggerogoti jiwaku dari dalam. Aku selamat, tapi aku tidak merasa menang.
Malam mulai merayap naik. Suara bising knalpot motor dari jalan raya di luar sana biasanya membantuku merasa bahwa aku masih berada di dunia nyata, di antara manusia-manusia hidup. Namun, malam ini, suara-suara itu seolah teredam oleh kesunyian yang ganjil di dalam kamarku sendiri.
Aku mencoba menyalakan lampu meja, namun bohlamnya berkedip sekali lalu mati total.
"Sial," gumamku. Aku meraih ponsel untuk menyalakan senter, tapi tanganku membeku.
Di sudut kamar yang paling gelap, tepat di atas tumpukan kardus pakaianku yang belum sempat dirapikan, aku melihat sesuatu. Awalnya aku mengira itu hanya bayangan pakaian yang menggantung, tapi bayangan itu terlalu pekat. Terlalu hitam, bahkan untuk sebuah ruangan tanpa cahaya.
Udara di sekitarku mendadak berubah menjadi dingin yang menggigit, jenis dingin yang membuat tulang-tulangku ngilu. Dan kemudian, bau itu muncul.
Bukan lagi bau sangit api, melainkan bau tanah basah yang bercampur dengan aroma melati busuk. Bau yang sangat kukenal. Bau kehadiran Ki Ageng.
"Tidak mungkin," bisikku, suaranya bergetar hebat. "Kamu sudah mati. Semuanya sudah berakhir!"
Aku mundur hingga punggungku menab**k tembok yang lembap. Jantungku berpacu seperti genderang perang. Di dalam kegelapan itu, dua titik cahaya kemerahan muncul. Kecil, redup, namun penuh dengan kebencian yang murni. Titik itu tidak setinggi biasanya—tidak setinggi sosok raksasa yang dulu mendominasi Kamar 404. Kali ini, ia tampak lebih kecil, lebih meringkuk, seolah sedang memulihkan diri dari luka yang parah.
*"Kau pikir... api bisa menghanguskan hutang?"*
Suara itu bukan terdengar di telingaku, melainkan bergema langsung di dalam tempurung kepalaku. Suara parau yang dalam, seperti gesekan batu besar di dasar sumur.
"Aku sudah memberikan segalanya! Teman-temanku... mereka semua mati karena aku! Apa lagi yang kau mau?" teriakku histeris, tidak peduli jika Bu Mirna atau penghuni kos lain mendengarku.
Bayangan hitam itu bergetar, seolah tertawa tanpa suara. Perlahan, sosok itu mulai memudar, menyatu kembali dengan kegelapan malam, namun hawa dinginnya tidak pergi. Ia tetap di sana, mengendap di sela-sela lant**, bersembunyi di balik lemari, mengawasi setiap gerak-gerikku.
Aku jatuh terduduk di lant**, memeluk lututku erat-erat. Aku memang berhasil keluar dari gedung itu, tapi aku menyadari satu kenyataan pahit yang membuat bulu kudukku berdiri: Perjanjian itu tidak terikat pada bangunan. Perjanjian itu terikat pada darahku.
Saat aku mencoba mengatur napas, ponselku yang tergeletak di lant** bergetar. Sebuah notifikasi pesan ma**k dari nomor yang tidak kukenal. Dengan tangan gemetar, aku membukanya.
Hanya ada satu baris kalimat di sana:
*“Selamat atas pekerjaan barumu di firma hukum besok, Gery. Aku akan memastikan jalanmu tetap mulus. Seperti biasa.”*
Ponsel itu jatuh dari genggamanku. Esok adalah hari pertamaku magang di salah satu firma hukum bergengsi di Jakarta, sebuah posisi yang kudapatkan melalui aplikasi yang kukirim berbulan-bulan lalu. Aku mengira itu adalah hasil kerja keras murniku setelah semua teror ini berakhir.
Ternyata, cengkeraman itu belum lepas. Ki Ageng tidak sedang menghantuiku untuk membunuhku. Ia sedang menunggu untuk menagih tumbal berikutnya demi kesuksesan yang baru saja akan kumulai.
Di tengah kegelapan kamar, aku menyadari bahwa pelarian ini hanyalah awal dari babak yang lebih mengerikan. Aku tidak benar-benar bebas; aku hanya baru saja berpindah ke sangkar yang lebih luas.
Lalu, terdengar suara gesekan kuku tajam di balik dinding kayu tepat di belakang kepalaku. *Sret... sret... sret...*
Aku memejamkan mata rapat-rapat, namun sebuah bisikan halus mampir di telingaku, kali ini begitu nyata hingga aku bisa merasakan hembusan napas dinginnya.
"Siapa yang akan kau korbankan kali ini, Gery?"
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!