Kamar 404: Perjanjian Hitam di Jakarta Selatan

Bab 2: Bab 2 - Merasakan kenyamanan kamar kost dan mulai meras...

Pengaturan Membaca

Aku menjatuhkan tubuh ke atas ka**r *queen size* yang terasa seperti tumpukan awan. Pegasnya tidak berderit, kain seprainya halus dengan aroma detergen mahal yang menenangkan—sangat kontras dengan ka**r tipis di kosan lamaku yang berbau apek dan keringat. Aku memejamkan mata sejenak, membiarkan punggungku yang pegal karena menggendong ransel berat akhirnya menyerah pada kenyamanan ini.

Hanya lima ratus ribu rupiah per bulan. Di Jakarta Selatan.

Pikiranku masih sulit mencerna keberuntungan ini. Dengan harga segitu, biasanya aku hanya dapat kamar seukuran liang lahat dengan sirkulasi udara yang menyedihkan. Tapi di sini, di Kamar 404, aku punya kamar mandi dalam dengan *shower* air panas, AC yang menderu halus, dan jendela besar yang menghadap ke arah pepohonan rimbun di halaman belakang.

"Terima kasih, Tuhan," bisikku pada langit-langit kamar yang putih bersih. Aku bangkit, mencoba mengenyahkan rasa kantuk yang mulai menyerang. Masih banyak yang harus kukerjakan. Tugas kalkulus yang menumpuk tak akan selesai hanya dengan aku berguling-guling di ka**r empuk ini.

Aku mengeluarkan laptop dan beberapa buku referensi dari tas, lalu menatanya di atas meja kayu jati yang terlihat kokoh di sudut ruangan. Aku meletakkan ponselku tepat di samping lampu meja, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk memba**h muka. Air dingin menyentuh kulitku, memberi kesegaran yang instan. Namun, saat aku bercermin sambil mengelap wajah dengan handuk, aku merasa ada sesuatu yang aneh.

Suhu udara mendadak turun. Bukan dingin AC yang biasa, tapi jenis dingin yang merayap ma**k ke dalam pori-pori dan membuat bulu kuduk berdiri. Aku menggosok kedua lenganku, lalu melangkah kembali ke area utama kamar.

Langkahku terhenti tepat di depan meja belajar.

Ponselku, yang tadi kuletakkan di sisi kanan lampu meja, kini berada di sisi paling kiri, hampir jatuh ke lant**. Aku mengerutkan kening. Apakah aku salah ingat? Tidak, aku yakin sekali menaruhnya di dekat stopkontak karena niatnya ingin mengisi daya.

"Mungkin kesenggol pas ambil handuk tadi," gumamku mencoba rasional.

Aku duduk dan mulai membuka laptop. Layar berpendar terang, menampilkan deretan angka dan rumus yang biasanya membuat kepalaku berdenyut. Tapi anehnya, konsentrasiku terus terganggu oleh suara-suara kecil. *Krak. Sret.* Seperti suara kuku yang menggaruk permukaan kayu, atau suara kain berat yang diseret di atas lant** marmer.

Aku menoleh ke arah lemari pakaian yang besar di sudut ruangan. Pintunya tertutup rapat, tapi aku merasa ada sesuatu yang sedang mengawasiku dari balik celah gelap di bawahnya. Kegelapan di pojok kamar itu terasa lebih pekat, seolah cahaya lampu neon di langit-langit tak mampu menembusnya.

"Gery, fokus," perintahku pada diri sendiri.

Aku mencoba kembali ke layar laptop, namun sudut mataku menangkap pergerakan di atas meja. Buku kalkulusku, yang tadinya tertutup, kini terbuka. Halamannya membalik sendiri dengan cepat, seolah ada tangan tak terlihat yang sedang mencari bab tertentu. *Sret, sret, sret.* Halaman itu berhenti tepat di bab Derajat Integrasi—materi yang paling aku benci dan belum kupahami sama sekali.

Jantungku mulai berdegup kencang. "Angin? Nggak mungkin, AC nggak bakal niup sekeras itu."

Aku menutup buku itu dengan kasar dan menindihnya dengan kamus bahasa Inggris yang tebal. Aku mencoba menenangkan diri, menghirup napas panjang, tapi udara yang ma**k ke paru-paruku terasa sangat dingin, hampir membekukan. Saat itulah aku melihatnya.

Uap putih keluar dari mulutku saat aku mengembuskan napas. Seperti orang yang berdiri di tengah musim salju, padahal ini Jakarta di bulan Oktober yang gerah.

Keheningan di kamar itu tiba-tiba terasa menekan telingaku. Keheningan yang tidak alami. Lalu, terdengar suara tarikan napas yang berat—sangat dekat, seolah berasal dari tepat di belakang leherku. Napas itu berbau tanah basah dan sesuatu yang busuk, seperti bangkai binatang yang tertimbun lama di bawah akar pohon besar.

Aku mematung. Jemariku gemetar di atas *keyboard*. Aku ingin menoleh, tapi tubuhku seolah disemen ke kursi. Dari pantulan layar laptop yang hitam karena ma**k ke mode *sleep*, aku melihat sebuah bayangan besar merayap di dinding belakangku. Bayangan itu tidak berbentuk manusia; ia terlalu lebar, terlalu tinggi, dengan bahu yang seolah menyentuh plafon.

Perlahan, aku memberanikan diri untuk melirik ke arah cermin besar yang tertempel di pintu lemari. Di sana, di balik pantulan diriku yang pucat pasi, aku melihat sesuatu yang mustahil.

Sepasang mata berwarna merah saga, bersinar redup di tengah kegelapan sudut kamar. Mata itu tidak berkedip, menatapku dengan intensitas yang mengerikan. Aku juga melihat siluet lengan yang sangat panjang, ditutupi bulu hitam lebat yang kasar, perlahan menjangkau ke arah bahuku.

Bau tanah basah itu semakin menyengat, memenuhi paru-paruku hingga aku merasa mual. Udara di sekitarku terasa semakin berat, seolah molekul oksigen di kamar ini telah digantikan oleh sesuatu yang lain, sesuatu yang kuno dan berbahaya.

Tepat saat ujung kuku hitam yang panjang itu nyaris menyentuh helai rambut di tengkukku, sebuah suara berat, rendah, dan bergema—seperti suara dua batu besar yang digosokkan—memecah kesunyian.

"Belajarlah, Gery... Aku akan membantumu."

Aku tersentak hebat, kursiku terjungkal ke belakang hingga aku jatuh berdebam ke lant**. Nafasku tersengal-sengal, mataku liar menyapu setiap sudut ruangan.

Kosong.

Suhu kamar perlahan kembali normal. Bau busuk itu menghilang, berganti kembali dengan aroma detergen. Buku kalkulus di atas meja masih tertutup di bawah kamus tebal. Bayangan besar itu pun lenyap seolah hanya imajinasiku.

Namun, saat aku mencoba bangkit dengan tangan gemetar, aku melihat sesuatu di atas meja belajar. Di samping laptopku, terdapat selembar kertas yang tadinya kosong. Kini, di atasnya tertulis sebuah deret rumus kalkulus yang sangat rumit dengan tulisan tangan yang kasar, seolah diukir oleh kuku tajam. Itu adalah jawaban lengkap untuk tugas yang baru saja ingin kukerjakan.

Dan di bawah rumus itu, terdapat satu kalimat singkat yang membuat darahku berdesir dingin:

*Jangan takut. Kita punya janji.*

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca