Kamar 404: Perjanjian Hitam di Jakarta Selatan

Bab 3: Bab 3 - Menyelesaikan tugas kuliah yang sangat sulit da...

Pengaturan Membaca

Matanya perih, seolah ada butiran pasir yang sengaja diselipkan di balik kelopak setiap kali ia berkedip. Gery melirik jam digital di sudut kanan bawah layar laptopnya. Pukul 01.15 pagi. Di atas meja kayu jati yang terlalu mewah untuk kamar seharga lima ratus ribu sebulan itu, tumpukan jurnal kalkulus dan modul analisis struktur bangunan berserakan seperti reruntuhan pasca-gempa.

Ia memijat tengkuknya yang kaku. Tugas dari Profesor Handoko bukan sekadar tugas biasa; itu adalah tiket penentu apakah beasiswanya akan dipertahankan atau ia harus angkat kaki dari Jakarta Selatan dan kembali ke kampung halaman dengan label "gagal". Rumus-rumus di layar tampak mulai menari, meliuk-liuk seperti cacing tanah yang kepanasan, mengejek ketidakberdayaan otaknya yang sudah mencapai titik nadir.

"Sedikit lagi, Gery. Cuma tinggal simulasi bebannya saja," bisiknya pada diri sendiri, suaranya parau dan kering.

Ia meraih gelas plastiknya, hanya untuk menemukan bahwa kopinya sudah dingin dan menyisakan ampas hitam yang pekat. Hening di kamar 404 terasa berbeda malam ini. Bukan hening yang menenangkan, melainkan hening yang berdenyutβ€”seolah dinding-dinding kamar ini sedang bernapas pelan di balik bayang-bayang lampu meja yang remang.

Tiba-tiba, suhu di ruangan itu merosot tajam. Bulu kuduk Gery meremang. Bau tanah basah yang sangat kuat, bercampur aroma anyir yang samar, menusuk penciumannya. Ia menoleh ke arah sudut kamar yang gelap, tempat sebuah lemari tua besar berdiri tegak. Di sana, kegelapan tampak lebih padat, seolah-olah bayangan itu memiliki massa.

"Siapa?" Gery bertanya dengan suara bergetar. Tidak ada jawaban. Hanya derit halus dari lant** kayu yang seolah tertekan beban berat.

Kelopak mata Gery terasa seberat timah. Ia mencoba bangkit untuk mencuci muka, namun tubuhnya justru terasa ditarik kembali ke kursi. Kesadarannya mulai memudar, tersedot ke dalam pusaran kantuk yang tidak wajar. Sebelum matanya benar-benar terpejam, ia merasa melihat sebuah tangan besar dengan kuku hitam panjang dan bulu lebat meluncur pelan dari kegelapan menuju keyboard laptopnya.

Gery ingin berteriak, tapi lidahnya kelu. Dunia menjadi hitam.

Ia terbangun dengan sentakan hebat saat cahaya matahari pagi menyeruak ma**k melalui celah gorden yang tidak tertutup rapat. Gery tersedak napasnya sendiri, jantungnya berdegup kencang seolah habis berlari maraton. Ia masih terduduk di kursi kerja, namun lehernya tidak sesakit yang ia bayangkan. Justru sebaliknya, ia merasa sangat segar, seolah baru saja tidur di ka**r hotel berbintang selama sepuluh jam.

"Sial, aku ketiduran!" umpatnya panik.

Ia segera menatap layar laptop yang masih menyala. Gery sudah bersiap untuk melihat layar kosong atau pesan galat karena baterai yang habis. Namun, apa yang ia lihat justru membuatnya membeku.

Di layar itu, dokumen tugasnya yang tadinya hanya berisi pengantar berantakan, kini telah lengkap. Delapan puluh halaman. Grafik-grafik yang rumit telah terplot dengan presisi matematis yang mustahil dikerjakan oleh mahasiswa tingkat tiga sekalipun. Analisis strukturnya begitu mendalam, menggunakan teori-teori tingkat lanjut yang bahkan belum pernah dibahas di kelas Profesor Handoko.

"Ini... ini mustahil," gumam Gery. Jemarinya gemetar saat men-scroll dokumen itu.

Setiap baris kode, setiap perhitungan beban, semuanya sempurna. Tak ada satu pun kesalahan ketik. Namun, yang membuat jantung Gery hampir melompat keluar adalah gaya penulisannya. Itu jelas bukan gaya bahasanya. Kalimat-kalimatnya terasa dingin, lugas, dan seolah ditulis oleh sesuatu yang sudah melihat peradaban manusia tumbuh dan hancur berkali-kali.

Gery menoleh ke arah meja. Gelas kopinya yang tadi penuh ampas kini kosong melompong, bersih seolah baru dicuci. Dan di samping laptopnya, terdapat sehelai rambut panjang, kasar, dan berwarna hitam pekat yang melingkar membentuk simbol yang tidak ia kenali.

"Sudah bangun, Tuan Muda?"

Suara itu tidak datang dari telinganya, melainkan bergema langsung di dalam tempurung kepalanya. Berat, rendah, dan bergetar seperti suara reruntuhan batu di dalam gua.

Gery melompat dari kursinya, menatap sekeliling kamar yang tampak kosong. "Siapa? Siapa di sana?!"

Dari sudut kamar, bayangan hitam itu kembali memadat. Kali ini, Gery melihatnya lebih jelasβ€”sepasang mata merah menyala yang bersinar dari balik kegelapan lemari. Sosok itu besar, menjulang hingga menyentuh plafon kamar, dengan bulu-bulu legam yang menutupi sekujur tubuhnya yang kekar. Aroma tanah kuburan yang kuat langsung memenuhi paru-paru Gery.

"Tugasmu sudah selesai," sosok itu melangkah maju, namun kakinya tidak bersuara. Ki Ageng menampakkan wajahnya yang mengerikan; taring yang mencuat dan kulit yang menyerupai kulit pohon tua yang terbakar. "Bukankah itu yang kau inginkan? Kesuksesan tanpa keringat?"

Gery menyandarkan punggungnya ke tembok, napasnya memburu. Ketakutan itu nyata, mencekik lehernya hingga ia kesulitan menelan ludah. Namun, di saat yang sama, ada satu bagian kecil di otaknya yang berbisik: *Tugas itu sempurna. Kau akan menjadi yang terbaik di kampus.*

"Apa... apa maumu?" tanya Gery dengan suara mencicit.

Ki Ageng menyeringai, memperlihatkan deretan gigi yang kuning dan tajam. "Jangan takut, Gery. Aku hanya teman sekamarmu yang baik. Aku tidak butuh uangmu. Aku hanya butuh... sedikit pengakuan."

Sosok itu kemudian menghilang, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang. Gery jatuh terduduk di lant**, menatap laptopnya yang masih menyala terang. Di layar, kursor berkedip-kedip tepat di bawah kalimat penutup tugasnya yang tertulis: *Selesai dengan Sempurna.*

Gery tahu ia harus lari. Ia tahu ia harus menghapus file itu dan pergi dari kamar 404 saat itu juga. Namun, saat tangannya menyentuh mouse, ia justru menekan tombol *Save* dan mengirimkan dokumen itu ke email Profesor Handoko.

Ambisi itu, untuk pertama kalinya, terasa lebih kuat daripada rasa takutnya. Gery tidak menyadari bahwa di saat ia menekan tombol *Send*, di kejauhan, ia mendengar suara tawa tertahan yang bukan berasal dari manusia, dan di ponselnya, sebuah pesan ma**k dari ibunya di kampung terbaca: *Gery, bapakmu tiba-tiba pingsan di sawah. Dokter bilang jantungnya bermasalah.*

Perjanjian itu baru saja dimulai, dan pembayaran pertamanya telah ditagih.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca