Hening di Jakarta Selatan itu mahal harganya, tetapi di dalam Kamar 404, keheningan terasa seperti beban berton-ton yang menindih pundak. Gery duduk di tepi tempat tidur, jemarinya terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Jam dinding menunjukkan pukul 02.14 pagi. Lampu meja yang berpendar kekuningan adalah satu-satunya pelindung Gery dari kegelapan yang seolah merayap di sudut-sudut plafon tinggi kamar kost mewah ini.
Sejak kepindahannya tiga hari lalu, Gery tahu dia tidak sendirian. Ada aroma tanah basah yang bercampur dengan bau rambut terbakar yang samar—bau yang muncul setiap kali ia mulai membuka laptop untuk mengerjakan tugas kuliah yang menumpuk. Namun malam ini, aromanya begitu pekat, seolah-olah sesuatu yang busuk baru saja keluar dari liang lahat dan berdiri tepat di belakang tengkuknya.
"Aku tahu kau di sana," bisik Gery. Suaranya bergetar, pecah di tengah udara yang mendadak menjadi sangat dingin. Ia bisa melihat uap tipis keluar dari mulutnya sendiri setiap kali ia bernapas.
Tidak ada jawaban verbal. Namun, bulu kuduk di sekujur lengan Gery berdiri tegak. Sebuah tekanan udara yang berat membuat telinganya berdenging. Perlahan, ia memutar tubuh, menatap ke arah cermin besar yang terpasang di dinding dekat lemari pakaian kayu jati. Cermin itu adalah satu-satunya benda di kamar ini yang selalu membuatnya merasa tidak nyaman; permukaannya terlalu jernih, seolah-olah menyembunyikan dunia lain di baliknya.
Gery berdiri dengan kaki gemetar. Setiap langkah menuju cermin itu terasa seperti berjalan di atas hamparan duri tak kasat mata. Ia berhenti tepat dua meter di depan kaca. Di sana, pantulan dirinya tampak pucat, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang menandakan kurang tidur dan stres berkepanjangan.
"Keluar," tantang Gery, meski suaranya nyaris tenggelam dalam degup jantungnya sendiri yang berpacu liar. "Jangan hanya bersembunyi. Kau yang membuat tugasku selesai kemarin malam, kan? Kau yang menuliskan jawaban ujian di kertas coret-coretku?"
Tiba-tiba, permukaan cermin itu mulai mengabun. Bukan karena uap air panas, karena keran di kamar mandi sedang mati. Embun putih muncul dari tepian bingkai kayu, merambat ke tengah dengan kecepatan yang tidak wajar. Suhu ruangan merosot tajam, membuat Gery menggigil hebat hingga giginya bergemeletuk.
Di tengah kabut putih yang menutupi cermin, sebuah bayangan besar mulai terbentuk. Itu bukan bayangan manusia. Siluet itu terlalu lebar, terlalu tinggi, melampaui batas atas cermin. Gery melihat sepasang mata merah—bukan merah api, melainkan merah gelap seperti darah kental yang sudah lama mengendap—berpendar dari balik kabut di dalam cermin.
Gery ingin lari, tetapi kakinya seolah terpaku pada lant** marmer yang dingin. Matanya terpaku pada permukaan kaca. Sesuatu yang tak terlihat mulai bergerak di atas permukaan embun itu. Terdengar suara gesekan yang m****akkan telinga, seperti kuku tajam yang digoreskan di atas kaca.
*Srit... srit... srit...*
Satu per satu huruf mulai terbentuk di permukaan cermin, seolah-olah ada jari raksasa yang menyapu embun tersebut dari sisi dalam.
**K-I**
Gery menahan napas. Huruf-huruf itu kasar, miring, dan tampak purba.
**A-G-E-N-G**
"Ki Ageng?" Gery mengeja nama itu dengan suara tercekat.
Begitu nama itu terucap, sebuah geraman rendah bergema di seluruh ruangan. Getarannya begitu kuat hingga gelas di atas meja nakas berdenting dan retak. Bayangan di balik cermin itu mendekat, menempelkan sesuatu yang menyerupai telapak tangan raksasa berbulu hitam lebat ke permukaan kaca. Ukuran tangan itu tiga kali lipat tangan Gery, dengan kuku-kuku hitam yang melengkung tajam.
Gery terhuyung ke belakang, jatuh terduduk di lant**. "Apa... apa maumu?"
Cermin itu kembali mengabun, menghapus tulisan sebelumnya. Dengan gerakan yang lebih cepat dan penuh penekanan, tulisan baru muncul:
**KAU INGIN JADI YANG TERBAIK?**
Gery terpaku. Kalimat itu menghantam titik terlemah dalam dirinya. Ambisi yang selama ini ia pendam—keinginan untuk membuktikan pada keluarganya di desa bahwa ia bisa sukses, ketakutannya akan kemiskinan yang mencekik, dan rasa irinya pada teman-teman kampusnya yang kaya—semuanya seolah diaduk-aduk oleh entitas di depannya.
"Ya," jawab Gery, lebih kuat dari sebelumnya. Hasratnya mulai mengalahkan rasa takutnya. "Aku ingin menang. Aku tidak mau pulang sebagai pecundang."
Sosok di dalam cermin itu tampak menyeringai, meski Gery tidak bisa melihat mulutnya dengan jelas. Hawa dingin yang menyiksa perlahan memudar, berganti dengan kehangatan yang aneh dan menyesakkan, seperti dekapan selimut yang terlalu tebal.
Tulisan di cermin berubah lagi untuk terakhir kalinya sebelum kabut itu menghilang sepenuhnya:
**MAKA BERIKAN AKU RUANG. KITA AKAN MENDAKI BERSAMA.**
Gery menatap pantulan dirinya kembali. Bayangan raksasa itu sudah hilang, meninggalkan cermin yang kembali jernih dan berkilau. Namun, saat Gery mendekat untuk menyentuh permukaan kaca, ia menyadari sesuatu yang membuatnya membeku. Di sudut bawah cermin, masih ada bekas goresan kuku yang permanen, mengukir simbol aneh yang tidak ia mengerti.
Tiba-tiba, ponsel Gery di atas meja bergetar hebat. Sebuah notifikasi pesan ma**k dari grup WhatsApp kelasnya.
*“Guys, kalian sudah dengar? Rendy... Rendy kecelakaan malam ini. Dia jatuh dari balkon apartemennya. Katanya posisinya aneh banget, kayak ada yang dorong tapi nggak ada siapa-siapa di CCTV.”*
Rendy. Saingan terberat Gery untuk memperebutkan beasiswa utama tahun ini.
Gery menoleh kembali ke cermin. Ia tidak melihat hantu. Ia melihat jalan pintas menuju puncak yang selama ini ia impikan. Namun, di saat yang sama, ia menyadari bahwa di sudut gelap kamarnya, sesuatu yang besar, hitam, dan berbulu sedang duduk diam, menunggunya untuk kembali tidur agar ia bisa mulai "bekerja".
Gery mengambil napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Ia tidak tahu apakah ia baru saja menyelamatkan masa depannya, atau baru saja menandatangani vonis matinya sendiri. Satu hal yang pasti, Kamar 404 bukan lagi sekadar tempat tinggal; itu adalah ruang perundingan berdarah yang baru saja dimulai.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!