Tanganku gemetar, bukan karena takut, melainkan karena aliran adrenalin yang terasa seperti sengatan listrik di bawah kulitku. Di atas meja kayu yang permukaannya sudah mulai terkelupas, lembar kertas ujian itu tergeletak dengan angka '100' yang ditulis tebal menggunakan spidol merah. Sebuah angka yang selama tiga tahun kuliah ini hanya menjadi angan-angan yang menggantung terlalu tinggi untuk kugapai.
"Luar biasa, Gery. Saya tidak pernah melihat analisis semendalam ini dari mahasiswa tingkat tiga." Suara Pak Burhan yang berat dan biasanya sarkastis, kini terdengar seperti melodi paling indah di telingaku.
Aku menoleh, mendapati Pak Burhan berdiri di samping mejaku sambil merapikan kacamatanya. Beliau menepuk bahuku—sebuah gestur yang biasanya hanya ia berikan pada anak-anak emas fakultas yang orang tuanya menyumbang gedung. "Pertahankan. Jika kamu terus seperti ini, kursi asisten dosen sudah pasti milikmu semester depan."
Aku mengangguk kaku, memaksakan sebuah senyum sopan. "Terima kasih, Pak. Saya hanya mencoba yang terbaik."
Di sudut mata, aku bisa merasakan tatapan tajam dari rekan-rekan sekelasku. Ada decak kagum, tapi lebih banyak lagi aroma kecemburuan yang menguar di udara yang pengap oleh AC tua ruang kelas ini. Di barisan depan, Fandi—rival abadiku yang selalu duduk di peringkat pertama—terlihat mematung. Punggungnya tegang, dan tangannya meremas pulpen hingga buku-bukunya memutih.
Aku seharusnya merasa bersalah, atau setidaknya merasa aneh. Bagaimana mungkin aku, si mahasiswa medioker yang sering mengantuk di kelas, tiba-tiba bisa menjawab soal-soal teori ekonomi makro yang bahkan membuat mahasiswa paling jenius pun sakit kepala? Namun, tiap kali keraguan itu muncul, bayangan kamar 404 kembali melintas. Aku teringat bau tanah basah yang menyengat, hawa dingin yang menusuk tulang, dan suara berat Ki Ageng yang membisikkan jawaban-jawaban itu ke telingaku saat aku tertidur tadi malam.
*“Keberhasilanmu adalah milikku, Gery. Dan milikku adalah milikmu,”* bisikan itu seolah bergema kembali di liang telingaku sekarang, meski ruangan ini ramai dengan bisik-bisik mahasiswa.
"Gery, lo pake jimat apaan?" tanya Rian, teman duduk di sebelahku, sambil menyenggol lenganku. Wajahnya menunjukkan seringai bercanda, tapi matanya menyelidiki. "Dukun mana yang lo datengin di Jaksel? Masa iya mendadak jadi Einstein?"
Aku tertawa hambar, menyembunyikan telapak tanganku yang mulai berkeringat dingin ke bawah meja. "Cuma belajar lebih keras aja, Yan. Lo tahu kan gue butuh beasiswa."
"Belajar keras atau main kasar?" Tiba-tiba suara ketus terdengar dari arah depan. Fandi sudah berdiri, mengemasi tasnya dengan gerakan kasar. Wajahnya pucat pasi, namun matanya yang memerah menatapku dengan kebencian yang tidak ditutup-tutupi. "Gue tahu lo nggak mungkin bisa dapet nilai segitu jujur, Ger. Gue kenal otak lo."
"Jaga mulut lo, Fan," balasku, merasakan gelombang amarah yang aneh bangkit dari dalam dadaku. Amarah ini terasa panas, asing, seolah bukan berasal dari diriku sendiri. "Nilai gue murni hasil usaha gue."
Fandi hendak membalas, namun kalimatnya terputus oleh suara batuk yang kering dan parau. Ia memegangi lehernya, wajahnya yang tadi pucat kini mulai berubah menjadi keunguan. Matanya melotot, seolah-olah ada sesuatu yang menyumbat jalan napasnya dari dalam.
"Fan? Lo oke?" Rian bangkit dari kursinya, tampak khawatir.
Fandi tidak menjawab. Ia mencoba melangkah menuju pintu kelas, tapi kakinya lunglai. Suara dentuman keras terdengar saat tubuhnya menghantam lant**, menjatuhkan beberapa kursi di sekitarnya. Seluruh kelas mendadak sunyi, lalu meledak dalam kepanikan.
"Fandi! Pak, Fandi pingsan!" teriak salah satu mahasiswi di barisan depan.
Pak Burhan segera berlari mendekat, mencoba memberikan pertolongan pertama. Aku tetap terpaku di kursiku, tak mampu bergerak. Dari jarak sedekat ini, aku bisa melihat sesuatu yang membuat darahku membeku. Di leher Fandi yang tersingkap, terdapat bekas merah kehitaman, menyerupai bekas cekikan tangan yang sangat besar. Dan yang lebih mengerikan lagi, dari saku jaket Fandi, merayap keluar seekor lipan hitam besar yang langsung menghilang di balik bayangan meja.
Bau itu kembali. Bau tanah kuburan dan kemenyan yang samar, bercampur dengan aroma amis darah.
Aku menoleh ke arah jendela kelas yang tertutup rapat. Di pantulan kaca yang gelap, aku tidak hanya melihat bayanganku sendiri. Di belakang kursiku, samar-samar terlihat sosok tinggi besar dengan bulu-bulu hitam legam yang lebat. Mata merahnya yang berpijar menatap langsung ke arahku, memberikan seringai yang memperlihatkan taring-taring kuningnya. Sosok itu tidak melakukan apa-apa, ia hanya berdiri di sana, mengawasi kemenanganku.
"Ambulans! Cepat panggil ambulans!" teriak Pak Burhan panik.
Beberapa mahasiswa mengerumuni Fandi yang mulai kejang-kejang. Mulutnya mengeluarkan busa putih bercampur bercak kemerahan yang kental. Di tengah kegaduhan itu, aku merasakan sebuah tangan dingin—sangat dingin hingga rasanya seperti es—menyentuh pundakku.
Aku tersentak dan menoleh, tapi tidak ada siapa-siapa di belakangku. Hanya ada kursi kosong. Namun, di atas meja ujianku, tepat di samping angka '100' yang membanggakan itu, kini muncul noda tanah basah yang masih segar, membentuk pola telapak tangan yang tak proporsional besarnya.
Jantungku berdegup kencang, menghantam rongga dadaku seperti palu. Aku memandang Fandi yang kini sedang digotong keluar oleh beberapa orang asisten lab, tubuhnya terkulai lemas tak berdaya. Ia adalah orang terbaik di angkatan kami, penghalang utamaku untuk mendapatkan beasiswa penuh dan posisi bergengsi itu. Kini, dia tumbang.
Kemenangan yang tadi terasa manis, mendadak berubah menjadi rasa tembaga yang pahit di pangkal lidahku. Aku teringat ucapan Ki Ageng di kamar 404: *“Setiap permintaan ada harganya, Gery. Dan kau sudah menandatanganinya dengan keberadaanmu di kamar ini.”*
Aku meraih tas pribadiku dengan tangan gemetar, mengabaikan tatapan bertanya-tanya dari Rian. Aku harus pergi. Aku harus kembali ke kost. Aku perlu bicara dengan *dia*. Namun, saat aku melangkah keluar kelas, aku menyadari satu hal yang membuat bulu kudukku meremang hebat.
Setiap orang yang berpapasan denganku di koridor kampus, seolah-olah menjauh. Bukan karena mereka segan, tapi karena mereka semua menutup hidung, seolah-olah aku membawa aroma busuk bangkai yang sangat menyengat kemanapun aku melangkah. Dan di telingaku, suara tawa rendah Ki Ageng terus bergema, merayakan tumbal pertama yang baru saja ia ambil untukku.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!