Udara dingin dari pendingin ruangan di Kamar 404 berembus lembut, membelai tengkukku yang terasa kaku setelah tiga jam mendekam di depan laptop. Aku menyandarkan punggung ke kursi kerja ergonomis yang harganya mungkin setara dengan tiga bulan uang kiriman Ibuku di kampung. Di atas meja, segelas kopi susu hangat masih mengepulkan uap, bersanding dengan tumpukan diktat Makroekonomi yang biasanya membuat kepalaku berdenyut nyeri.
Namun malam ini, semuanya terasa berbeda. Setiap baris kalimat, setiap kurva rumit, dan setiap rumus yang sebelumnya tampak seperti aksara kuno yang mustahil dipahami, mendadak mengalir ma**k ke dalam otakku seolah-olah ditiupkan oleh angin sepoi-sepoi.
"Bagaimana, Gery? Bukankah ilmu itu menjadi seringan bulu jika kau tahu cara menangkapnya?"
Suara itu tidak datang dari telingaku. Suara itu bergetar langsung di dalam tempurung kepalaku, rendah, serak, dan berwibawa. Aku melirik ke arah sudut kamar yang gelap, di mana bayangan hitam besar tampak menyatu dengan tirai beludru. Ki Ageng. Sosok itu tidak menampakkan wujud penuhnya malam ini, hanya sepasang mata merah redup yang sesekali berkedip di balik kegelapan.
"Ini luar biasa," bisikku, tak mampu menyembunyikan binar kagum di mataku. "Aku bahkan belum membaca bab terakhir, tapi aku sudah tahu jawabannya. Seolah-olah jawabannya sudah ada di sana, menunggu untuk ditulis."
Aku merasa seperti penguasa di kamar ini. Fasilitas mewah, koneksi internet super cepat, dan kehadiran 'pembimbing' spiritual yang menjamin masa depanku. Kost seharga 500 ribu ini adalah anugerah terbesar dalam hidupku yang penuh kesi****. Aku teringat masa-masa di kost lamaku yang sempit, panas, dan berbau apek, di mana aku harus berbagi kamar mandi dengan sepuluh orang lainnya. Di sini, aku adalah raja.
"Ujian besok hanya formalitas kecil," sahut Ki Ageng. Aku bisa merasakan hawa dingin yang menusuk tulang saat bayangannya bergeser mendekat. "Kau akan menjadi yang terbaik di kelasmu. Bukan, yang terbaik di kampus ini. Itu janji dariku."
Aku tersenyum lebar. Ambisi yang selama ini terpendam di bawah rasa rendah diriku sebagai anak rantau miskin kini berkobar hebat. Aku membayangkan wajah teman-temankuβterutama mereka yang sering meremehkankuβsaat melihat namaku bertengger di urutan teratas papan pengumuman nilai.
Tiba-tiba, ponselku yang tergeletak di atas ka**r bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan rentetan notifikasi dari grup WhatsApp angkatan. Biasanya, grup itu hanya berisi keluhan tentang tugas atau jadwal kuliah yang berubah. Namun, kali ini, getarannya seolah tidak mau berhenti.
Aku bangkit dan menyambar ponsel itu. Ada tiga puluh pesan baru dalam waktu kurang dari satu menit. Jempolku gemetar saat menggulir layar.
*Guys, kalian sudah dengar kabar tentang Rendy?*
*Rendy kenapa? Tadi siang dia baik-baik saja di kantin.*
*Barusan grup sebelah bilang... Rendy nggak tertolong.*
Jantungku mencelos. Rendy. Dia adalah teman satu kelompokku di mata kuliah Makroekonomi. Dialah orang yang kemarin tiba-tiba pingsan di perpustakaan saat kami sedang belajar bersama. Wajahnya yang pucat pasi dan keringat dingin yang memba****i dahinya saat itu kembali terbayang di benakku.
"Kenapa kau tampak gelisah, Gery?" Suara Ki Ageng terdengar lebih dekat, kini tepat di belakang telingaku. Aku bisa mencium aroma tanah basah dan bau anyir yang samar, seperti bau daging mentah yang sudah terlalu lama dibiarkan di suhu ruangan.
"Rendy... Rendy meninggal dunia," jawabku dengan suara bergetar. Aku menoleh ke belakang, tapi hanya menemukan kegelapan pekat yang seolah hendak menelanku.
Aku terus membaca pesan-pesan di grup.
*Katanya gagal jantung mendadak di IGD rumah sakit sejam yang lalu. Padahal dia nggak punya riwayat sakit jantung, kan?*
*G***, padahal besok ujian semester. Dia ambis banget belajar belakangan ini.*
Ponselku hampir jatuh dari genggaman. Pikiranku berputar liar. Rendy adalah pesaing terberatku di kelas. Dia selalu mendapatkan nilai A, dan dia selalu lebih unggul dariku dalam segala hal. Dan sekarang... dia pergi begitu saja?
Aku menatap tumpukan diktat di depanku, lalu beralih menatap sudut kamar tempat Ki Ageng bersembunyi. "Ki... apa ini ada hubungannya dengan bantuan yang kau berikan?" tanyaku dengan suara nyaris hilang.
Keheningan menyergap kamar itu selama beberapa detik. Hanya suara dengung AC yang terdengar, terasa lebih menyeramkan dari biasanya. Kemudian, terdengar suara tawa kecil yang parau, membuat bulu kudukku berdiri tegak.
"Dunia ini butuh keseimbangan, Gery," bisik Ki Ageng. "Untuk seseorang naik ke puncak, harus ada pijakan yang kokoh di bawahnya. Bukankah kau ingin menjadi yang terbaik? Bukankah kau benci berada di bawah bayang-bayang mereka?"
Aku terperangah. Napasku memburu. "Tapi bukan seperti ini caranya! Aku tidak minta nyawanya!"
"Kau tidak meminta secara spesifik, tapi kau setuju untuk 'melakukan apa pun' demi kesuksesanmu," suara itu kini terdengar begitu nyata, seolah-olah Ki Ageng sedang berdiri tepat di depanku, meskipun aku tidak bisa melihat wujudnya. "Satu sainganmu sudah hilang. Jalanmu kini bersih. Bukankah itu yang kau inginkan?"
Aku mundur hingga punggungku membentur meja kerja. Lampu meja mendadak berkedip-kedip, seakan ikut ketakutan. Di layar ponselku, foto profil Rendy yang sedang tersenyum lebar seolah-olah sedang menatapku dengan tatapan menuduh.
Aku melihat ke arah cermin besar di lemari pakaian. Di sana, pantulan diriku tampak asing. Aku terlihat lebih segar, lebih percaya diri, tapi di belakang pundakku, ada siluet hitam besar dengan tangan berbulu panjang yang seolah-olah sedang memelukku dengan protektif.
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan di pintu kamar. Pelan, tapi tegas.
*Tok... tok... tok...*
Aku membeku. Tidak mungkin ada orang yang bertamu tengah malam begini di kost eksklusif ini. Penjaga kost sudah mengunci gerbang sejak jam sepuluh.
"Gery... buka pintunya..."
Suara itu terdengar sangat akrab. Itu suara Rendy. Lemah, serak, dan penuh penderitaan.
"Gery... dingin..."
Aku menjerit tertahan, menutup telingaku rapat-rapat. Namun, ketukan itu tidak berhenti. Malah semakin keras, seiring dengan bau tanah kuburan yang kini memenuhi setiap sudut Kamar 404. Aku menoleh ke arah Ki Ageng, mencari perlindungan, namun sosok itu justru menghilang, meninggalkan aku sendirian menghadapi sesuatu yang sedang mencoba ma**k melalui pintu kayu yang mulai berderit itu.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!