Cahaya biru dari layar laptop adalah satu-satunya sumber penerangan di Kamar 404. Di luar, hujan Jakarta Selatan turun dengan sisa-sisa amarahnya, memukul-mukul kaca jendela dengan ritme yang tidak teratur. Jari-jariku membeku di atas *trackpad*. Mataku terpaku pada sebuah pesan berant** di grup WhatsApp angkatan yang baru saja ma**k sepuluh menit lalu.
*Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Telah berpulang sahabat kita, Dimas Aditya, sore tadi karena gagal jantung mendadak di kamar kosnya.*
Darahku rasanya berhenti mengalir. Dimas. Dia adalah saingan terberatku untuk memperebutkan beasiswa magang di perusahaan konsultan prestisius itu. Baru kemarin lusa, aku mengeluh di dalam kamar iniβmenggerutu betapa pintarnya Dimas dan betapa mustahilnya aku bisa mengalahkannya dalam tahap seleksi berkas.
Lalu, semalam, Ki Ageng hanya tersenyum tipis sambil menepuk pundakku, mengatakan bahwa "jalan akan terbuka lebar bagi mereka yang mau bersabar."
Pikiranku mulai merajut benang-benang merah yang mengerikan. Pertama, Bagas yang tiba-tiba kecelakaan saat aku butuh posisi ketua organisasi. Lalu, Riska yang jatuh sakit parah tepat saat presentasi kelompok yang harusnya dia pimpin, memberiku panggung untuk bersinar sendirian. Dan sekarang, Dimas.
"Ini tidak mungkin kebetulan," bisikku pada kegelapan. Suaraku gemetar, nyaris pecah.
Tiba-tiba, suhu di dalam kamar merosot tajam. Udara yang semula pengap oleh wangi pengharum ruangan elektrik berubah drastis menjadi bau tanah basah yang busuk, bercampur aroma anyir yang tajam. Bulu kudukku berdiri tegak. Aku merasa ada sesuatu yang masif sedang bergeser di sudut ruangan yang gelap, di balik lemari pakaianku.
"Kenapa belum tidur, Gery? Bukankah besok hari besar untukmu?"
Suara itu berat, serak, dan bergetar hingga ke ulu hatiku. Itu suara Ki Ageng, tapi kali ini tidak ada nada lembut manusiawi yang biasa ia gunakan.
Aku memberanikan diri menoleh. Jantungku serasa dihantam palu godam. Di sudut kamar, sosok yang selama ini menampakkan diri sebagai pria paruh baya berwajah teduh itu telah lenyap. Sebagai gantinya, sesosok makhluk raksasa setinggi dua meter lebih meringkuk di sana. Tubuhnya legam, ditutupi bulu-bulu kasar dan lebat seperti ijuk yang basah. Sepasang matanya merah menyala bak bara api yang ditiup, menatapku dengan intensitas yang melumpuhkan saraf.
Tangan makhluk ituβKi Agengβmemiliki kuku-kuku hitam yang panjang dan tajam, kini tengah menggaruk permukaan lant** ubin dengan bunyi mendecit yang memilukan telinga. Wajahnya adalah perpaduan antara kera raksasa dan mimpi buruk yang paling kelam; taringnya mencuat dari sela bibir yang lebar, meneteskan air liur yang berbau amis.
Aku terkesiap, mundur hingga punggungku membentur meja belajar. "K-Ki Ageng?"
Makhluk itu bergerak maju. Setiap langkahnya membuat lant** terasa bergetar. Bayangannya yang besar menelan seluruh ruangan, membuatku merasa seperti tikus kecil yang terpojok. Namun, yang membuatku semakin ngeri bukanlah wujudnya, melainkan nada bicaranya yang tetap tenang, hampir manis.
"Jangan takut, Cah Bagus," ucapnya. Moncong mengerikan itu bergerak, mencoba membentuk senyuman yang justru terlihat seperti seringaian jagal. "Aku hanya memastikan sainganmu tidak lagi menjadi penghalang. Bukankah itu yang kamu inginkan? Kamu ingin sukses, kan? Kamu tidak ingin kembali ke kampung sebagai pecundang yang gagal?"
"Tapi bukan dengan cara ini!" teriakku, meski suaraku hanya terdengar seperti cicitan ketakutan. "Dimas meninggal, Ki! Dia mati!"
Ki Ageng kini berada tepat di hadapanku. Bau busuk dari napasnya menerpa wajahku, membuatku mual. Salah satu tangannya yang besar dan berbulu terangkat. Aku memejamkan mata, mengira ia akan merobek leherku. Namun, yang kurasakan adalah sentuhan lembut yang ganjil. Kuku tajamnya hanya membelai pipiku dengan sangat hati-hati, seolah ia sedang menyentuh barang pecah belah yang berharga.
"Kematian adalah harga yang kecil untuk puncak dunia, Gery," bisiknya di telingaku. Suaranya kini terdengar seperti desiran angin di hutan tua. "Dunia ini kejam. Jika mereka tidak jatuh, kamu tidak akan naik. Aku hanya mempercepat prosesnya. Tidurlah... besok pengumuman beasiswa itu akan muncul, dan namamu akan berada di urutan paling atas. Bukankah itu yang selalu kamu mimpikan saat perutmu melilit lapar di bulan pertama kamu merantau?"
Aku gemetar hebat. Ingatan tentang masa-masa sulit itu sengaja ia bangkitkanβsaat aku hanya makan promag untuk mengganjal lapar karena uang kiriman habis. Dia tahu titik lemahku. Dia menggunakan ambisiku sebagai borgol yang mengikatku di kamar ini.
"Siapa... siapa selanjutnya?" tanyaku dengan bibir kelu.
Ki Ageng menarik tangannya. Ia kembali mundur ke dalam bayang-bayang, perlahan-lahan wujud raksasanya memudar, menyusut kembali menjadi siluet pria berbatik yang tampak bersahaja di bawah remang lampu jalan yang menembus jendela.
"Jangan cemaskan hal yang belum terjadi," jawabnya pelan, suaranya kembali normal, penuh wibawa. "Tapi ingat, Gery... setiap bantuan dariku menuntut keseimbangan. Dan malam ini, timbangan itu sudah miring ke arahmu. Nikmatilah kemenanganmu besok."
Ia kemudian berbaring di tempat tidurnya, memunggungiku seolah tidak terjadi apa-apa. Suara dengkurannya yang halus mulai terdengar, sangat kontras dengan badai yang berkecamuk di dalam dadaku.
Aku kembali menatap layar laptop. Sebuah notifikasi email ma**k. Subjeknya: *Selamat, Anda Terpilih sebagai Kandidat Utama Beasiswa Magang.*
Tanganku gemetar saat hendak membuka email itu. Aku menang. Aku mendapatkan apa yang kuinginkan. Tapi saat aku melihat pantulan wajahku di layar laptop yang gelap, aku tidak melihat diriku yang lama. Aku melihat seorang pemuda yang berdiri di atas gundukan tanah makam temannya sendiri.
Tepat saat itu, ponselku bergetar lagi. Sebuah pesan pribadi dari nomor tak dikenal ma**k, hanya berisi satu kalimat yang membuat jantungku nyaris berhenti berdetak:
*Gery, aku tahu apa yang kamu lakukan di Kamar 404. Aku punya rekaman saat Bagas jatuh.*
Napas pemburu itu belum berakhir, dan kini, akulah yang merasa sedang diburu.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!