Lampu neon di langit-langit kamar 404 berkedip sekali sebelum benar-benar padam, meninggalkan Gery dalam kegelapan yang hanya ditembus oleh cahaya remang lampu jalanan Jakarta Selatan dari balik jendela. Gery melempar tas ranselnya ke lant** dengan kasar. Suara hantaman tas itu menggema, seiring dengan napasnya yang memburu dan tak beraturan.
Di kepalanya, wajah Baskoro terus berputar—senyum sinis pemuda itu saat memenangkan posisi ketua tim untuk proyek prestisius di kantor magang mereka, serta tatapan merendahkan yang seolah berkata bahwa Gery hanyalah anak daerah yang kebetulan beruntung.
"Si****," umpat Gery lirih. Tangannya terkepal hingga buku-buku jarinya memutih. "Dia pikir dia siapa? Hanya karena ayahnya punya relasi, dia bisa menginjak-injak usahaku?"
Rasa pahit empedu naik ke kerongkongannya. Dendam itu seperti bara api yang disiram bensin; semakin ditekan, semakin berkobar. Gery melirik ke sudut kamar yang paling gelap, tempat lemari kayu tua berdiri tegak. Di sana, kegelapan terasa lebih pekat, lebih padat, dan seolah memiliki detak jantung sendiri.
"Kau tampak gelisah, Tuan Muda."
Suara itu bukan berasal dari telinga, melainkan bergaung langsung di dalam tengkorak Gery. Berat, serak, dan berbau seperti tanah kuburan yang basah bercampur aroma singkong bakar yang mulai membusuk.
Gery tidak berjengit. Rasa takutnya telah terkubur oleh harga diri yang terluka. Ia menoleh ke arah sudut itu. Perlahan, sesosok bayangan raksasa setinggi dua meter lebih mulai memadat. Bulu-bulu hitam lebat menyelimuti sekujur tubuhnya, dan sepasang mata merah menyala menatap Gery dengan binar penuh rasa lapar yang tertahan. Ki Ageng.
"Dia mengambil milikku, Ki," ucap Gery dengan suara bergetar karena amarah. "Baskoro. Dia membuatku terlihat seperti pecundang di depan semua orang. Aku butuh dia... pergi. Aku butuh posisi itu."
Ki Ageng melangkah maju. Lant** kayu kamar itu berderit di bawah beban sang Genderuwo. Bau busuk itu semakin menyengat, membuat perut Gery mual, namun ia tetap bergeming. Makhluk itu membungkuk, wajahnya yang menyerupai kera raksasa dengan taring yang mencuat kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Gery.
"Kau tahu apa yang harus dibayar, Gery," desis Ki Ageng. Tangan besarnya yang berkuku tajam menyentuh bahu Gery, terasa dingin sekaligus panas membakar kulit kemejanya. "Tak ada yang cuma-cuma di bawah atap ini. Darah harus mengalir agar jalanmu rata."
Gery memejamkan mata. Bayangan kemiskinan di kampung halaman, wajah kecewa ibunya jika ia gagal, dan tawa Baskoro yang menghina, semuanya bercampur menjadi satu dorongan gelap. "Lakukan saja. Buat dia berhenti menghalangiku. Apapun caranya."
Keheningan yang mencekam menyelimuti kamar itu selama beberapa detik. Kemudian, Ki Ageng mengeluarkan suara yang menyerupai tawa tertahan—suara parau yang mengerikan. "Keinginanmu... adalah rant** yang mengikatku. Perg***h tidur, Tuan Muda. Besok, dunia akan menjadi milikmu."
Sosok itu memudar, menyusut kembali ke dalam bayang-bayang hingga kamar 404 kembali sunyi. Gery menjatuhkan diri ke atas ka**r, jantungnya masih berdegup kencang. Ia merasa lelah yang luar biasa, seolah-olah energinya baru saja diisap habis.
Belum sempat Gery memejamkan mata selama sepuluh menit, ponselnya yang tergeletak di atas meja nakas bergetar hebat. Layarnya menyala terang, memecah kegelapan. Ada puluhan notifikasi ma**k dari grup WhatsApp kantor magangnya.
Dengan tangan gemetar, Gery meraih ponsel itu. Jarinya mengusap layar, membaca deretan pesan yang ma**k dengan kecepatan kilat.
*“Guys, sudah dengar berita? Baskoro kecelakaan!”*
*“Ya Tuhan, parah banget katanya. Mobilnya ma**k ke bawah truk di jalan layang Non-Tol Antasari.”*
*“Gue baru lewat sana, mobilnya ringsek total. Baskoro... dia nggak selamat. Meninggal di tempat.”*
Gery terduduk kaku. Sebuah foto dikirimkan ke grup. Foto itu buram, diambil dari kejauhan, namun siluet mobil sedan mewah milik Baskoro yang hancur tak berbentuk di bawah ban belakang truk tronton terlihat sangat jelas. Darah tampak mengalir di aspal yang hitam, berkilauan di bawah lampu jalanan.
Hawa dingin tiba-tiba menusuk tengkuk Gery. Ia melirik jam di ponselnya. Kejadian itu tercatat hanya lima menit setelah ia membuat kesepakatan dengan Ki Ageng. Jarak antara kamar kostnya di kawasan Jakarta Selatan dengan lokasi kecelakaan itu tidaklah jauh, tapi kecepatan maut ini menjemput Baskoro terasa sangat tidak wajar.
Gery merasa mual. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang tampak bersih, namun di dalam kepalanya, ia merasa tangan itu baru saja berlumuran darah. Ia meminta Baskoro "pergi", tapi ia tidak menyangka Ki Ageng akan mengeksekusinya dengan cara sebrutal ini.
Tiba-tiba, suara tawa halus—hampir seperti bisikan angin—terdengar dari kolong tempat tidurnya.
"Satu penghalang hilang," bisik suara itu. "Siapa selanjutnya, Gery?"
Gery melempar ponselnya ke sembarang arah dan meringkuk di pojok tempat tidur, menarik selimut hingga ke leher. Ia mendapatkan apa yang ia inginkan. Posisi ketua tim itu kini pasti jatuh ke tangannya. Namun, saat ia memejamkan mata, ia tidak melihat kesuksesan. Ia hanya melihat wajah Baskoro yang hancur di balik kemudi, menatapnya dengan mata kosong yang menuntut pertanggungjawaban.
Di sudut kamar, ia tahu Ki Ageng sedang mengawasinya, menunggu saat yang tepat untuk meminta 'makan malam' yang sesungguhnya. Gery menyadari satu hal: ia tidak lagi memegang kendali atas perjanjian ini. Perjanjian itu kini yang memegang kendali atas hidupnya.
Pintu lemari tua di sudut kamar tiba-tiba terbuka sedikit dengan sendirinya, mengeluarkan bunyi derit panjang yang m****akkan telinga di tengah kesunyian malam. Gery menahan napas, tidak berani menoleh, saat ia merasakan sesuatu yang dingin dan berbulu mulai merayap di atas kakinya dari balik selimut.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!