Telunjukku menggantung kaku di atas tombol *Enter*. Cahaya biru dari layar laptop memantul di kacamataku, memperjelas kantung mata yang menghitam setelah tiga malam tanpa tidur. Di layar itu, sebuah *thumbnail* video beresolusi tinggi menampilkan wajah Keanu Pradipta—Ketua BEM universitas kami—yang sedang tersenyum lebar sambil mengenakan lencana kebesarannya. Di samping wajahnya, aku membubuhkan teks tebal berwarna merah: **"FESTIVAL MUSIK ATAU LADANG KORUPSI? MENCARI 200 JUTA YANG HILANG."**
Aku menarik napas panjang, membiarkan udara dingin dari kipas angin tua di sudut kamar kosku mengisi paru-paru. Jariku gemetar, bukan karena ragu, tapi karena antisipasi. Selama ini, Keanu adalah anak emas rektorat. Dia tampan, artikulasinya sempurna saat berpidato, dan selalu tahu cara berpose di depan kamera humas kampus. Bagiku, dia hanyalah boneka porselen yang dipajang untuk menutupi retakan busuk di fondasi institusi ini.
*Klik.*
Satu ketukan ringan, dan video berdurasi lima belas menit itu meluncur ke jagat maya melalui kanal investigasiku, "Lensa Alya".
"Selamat menikmati pestanya, Pak Ketua," gumamku sinis. Aku menyandarkan punggung ke kursi kayu yang keras, memejamkan mata sejenak. Aku bisa membayangkan kekacauan yang akan terjadi besok pagi di gedung pusat kegiatan mahasiswa.
Hanya butuh waktu sepuluh menit bagi algoritma untuk melakukan tugasnya. Ponselku yang tergeletak di atas tumpukan dokumen laporan keuangan—yang kudapatkan dari sumber anonim—mulai bergetar hebat. Notifikasi beruntun ma**k bagaikan rentetan peluru.
*@Rian_Jaya: G***! Alya berani banget bongkar ini. Gue curiga emang ada yang nggak beres sama dana konser kemarin.*
*@Maba_Sambat: Pantesan harga tiket mahal, fasilitas zonk. Ternyata ma**k kantong BEM?*
*@Putriii: Keanu nggak mungkin kayak gitu, dia orang baik. Ini pasti fitnah!*
Aku mendengus membaca komentar terakhir. "Orang baik tidak membiarkan selisih anggaran dua ratus juta rupiah tercatat sebagai 'biaya tak terduga', Putri," ucapku pada layar ponsel.
Angka penonton terus merangkak naik. Seribu, lima ribu, sepuluh ribu. Namaku dan Keanu mulai memuncaki daftar tren di media sosial kampus. Di dalam video itu, aku membedah setiap kwitansi palsu dan membandingkannya dengan vendor asli yang kutemui secara sembunyi-sembunyi di pinggiran kota. Aku menunjukkan bagaimana tanda tangan Keanu tertera di setiap lembar pengesahan dana tersebut. Buktinya telak. Secara administratif, dialah yang bertanggung jawab.
Namun, di tengah euforia kemenangan kecil itu, sebuah perasaan tidak enak mulai merayap di tengkukku. Suasana kosan yang biasanya terasa aman tiba-tiba terasa mencekam. Suara gesekan dahan pohon mangga di luar jendela terdengar seperti bisikan orang yang sedang mengint**.
Ponselku bergetar lagi. Bukan notifikasi YouTube atau mention Twitter. Sebuah pesan WhatsApp dari nomor yang tidak dikenal.
**0812-xxxx-xxxx:** *Kau pikir kau pahlawan, Alya? Kau baru saja membuka kotak Pandora yang tidak sanggup kau tutup kembali.*
Jantungku berdegup kencang. Aku duduk tegak, jemariku mulai berkeringat. Aku sudah biasa menerima makian dari pendukung fanatik organisasi yang kuserang, tapi ini terasa berbeda. Pesan berikutnya ma**k sebelum aku sempat berpikir.
**0812-xxxx-xxxx:** *Hapus videonya dalam 1 jam, atau beasiswamu bukan satu-satunya hal yang akan hilang dari kampus ini.*
Aku terpaku. Bagaimana mereka tahu tentang status beasiswaku? Hanya bagian administrasi rektorat yang memiliki data itu secara mendalam. Apa hubungannya Keanu dengan orang-orang yang bisa mengancam beasiswaku secepat ini?
Aku mencoba menenangkan diri, menghirup aroma kopi instan yang sudah dingin di atas meja. "Gertakan sambal," bisikku pada diri sendiri, meski tanganku tak bisa berhenti gemetar. Aku adalah Alya Kirana. Aku tidak akan mundur hanya karena satu pesan gelap.
Aku memutuskan untuk keluar kamar, butuh udara segar untuk menjernihkan otak. Aku menyambar jaket denimku dan berjalan menyusuri koridor kos yang remang-remang. Namun, saat aku sampai di gerbang depan, sebuah mobil sedan hitam dengan kaca gelap terparkir tepat di depan pagar. Mesinnya menyala, menderu halus dalam keheningan malam.
Langkahku terhenti. Lampu jauh mobil itu tiba-tiba menyala, menyilaukan mataku. Aku mengangkat tangan untuk menghalau cahaya, dan saat itulah ponselku berdering. Pangg***n suara dari nomor yang sama.
Dengan keberanian yang dipaksakan, aku menggeser ikon hijau. "Siapa ini?" suaraku terdengar lebih parau dari yang kuharapkan.
Tidak ada jawaban di ujung telepon selama beberapa detik, hanya suara napas yang teratur. Lalu, sebuah suara pria yang berat dan tenang—suara yang sangat kukenali dari setiap rapat terbuka mahasiswa—berbicara.
"Alya, kau seharusnya tidak sedalam itu menggali."
Itu suara Keanu. Tapi tidak ada nada kemarahan di sana. Suaranya terdengar... lelah? Dan ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang terdengar seperti peringatan yang tulus.
"Keanu? Jangan berani-beraninya mengancamku setelah apa yang kau lakukan dengan dana itu!" seruku, mencoba mengumpulkan kembali serpihan keberanianku.
"Aku tidak mengancammu," potongnya cepat, volumenya merendah seolah ia takut ada yang mendengar. "Aku sedang mencoba menyelamatkanmu. Ma**k ke mobil. Sekarang. Ada orang-orang yang sedang menuju kosmu, dan mereka bukan dari pihak BEM."
Aku terpaku di balik pagar besi, menatap mobil sedan itu. Apakah ini jebakan untuk membungkamku selamanya, ataukah si Ketua BEM yang kupuja-puja kebenciannya ini baru saja menunjukkan sisi lain dari konspirasi yang jauh lebih besar dari yang bisa kubayangkan?
Lampu mobil itu mati, menyisakan kegelapan dan desis hujan gerimis yang mulai turun. Di ujung jalan, aku melihat dua sepeda motor dengan pengendara berhelm gelap melaju kencang ke arah kosku.
Pilihannya hanya dua: tetap di sini dan menghadapi ancaman yang nyata, atau ma**k ke dalam mobil pria yang baru saja kujadikan musuh publik nomor satu.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!