Debu menari-nari di bawah sorot lampu senter ponselku, menciptakan tirai tipis yang menyesakkan paru-paru. Gudang arsip lama di lant** dasar Gedung Rektorat ini adalah tempat yang terlupakanβsebuah labirin rak besi berkarat dan tumpukan kardus yang mulai menguning dimakan usia. Bau apek kertas lembap dan kapur barus menyerbu indra penciumanku begitu aku melangkah lebih dalam.
Aku mengusap butiran keringat di dahi dengan punggung tangan. Jaket BEM yang kukenakan terasa dua kali lebih berat malam ini. Bukan karena bahannya, tapi karena lencana perak yang tersemat di dadanya. Lencana yang dulu kuanggap sebagai simbol pengabdian, kini terasa seperti target operasi di punggungku.
"Fokus, Keanu. Cari kotak label 'FM-22/23-B'," bisikku pada diri sendiri. Suaraku menggema pelan, memantul di antara tembok beton yang dingin.
Alya benar. Gadis itu selalu benar tentang instingnya, meski cara penyampaiannya seringkali setajam silet. Dia bilang ada salinan fisik yang tidak sempat dihancurkan oleh staf keuangan rektorat sebelum audit internal dimulai. Sebuah 'data cadangan' yang diselipkan di antara laporan-laporan Unit Kegiatan Mahasiswa yang sudah non-aktif. Jika aku berhasil menemukan buku besar asli itu, skandal pengalihan dana festival musik bukan lagi sekadar desas-desus digital di kanal investigasi Alya. Itu akan menjadi bukti hukum yang nyata.
Langkahku terhenti di rak paling ujung, di area yang hampir tidak terjangkau cahaya lampu lorong luar. Tanganku gemetar sedikit saat menarik sebuah kardus besar yang tertimbun map-map biru kusam. Aku berlutut, mengabaikan debu yang mengotori celana kainku. Di dalamnya, tumpukan kertas berserakan tanpa aturan.
Satu per satu map kubuka dengan cepat namun hati-hati. Jantungku berdegup kencang, seirama dengan detak jarum jam tangan yang menunjukkan pukul sebelas malam. Aku punya waktu tiga puluh menit sebelum petugas keamanan melakukan patroli putaran kedua.
Lalu, aku menemukannya.
Sebuah buku agenda bersampul hitam dengan stiker kecil bertuliskan 'Operasional Tambahan'. Begitu kubuka halamannya, mataku membelalak. Angka-angka di sana tidak berbohong. Ada aliran dana yang dialihkan ke rekening perusahaan cangkang atas nama salah satu wakil rektorβjumlah yang c**up untuk membiayai beasiswa puluhan mahasiswa selama satu semester penuh.
"Dapat kau," gumamku, sebuah senyum kecut tersungging di bibirku. Ada rasa lega yang aneh, sekaligus amarah yang membuncah. Ternyata selama ini aku hanya menjadi pion yang dipoles sedemikian rupa untuk menutupi kebusukan ini. Alya benar-benar harus melihat ini.
Aku segera mema**kkan buku itu ke dalam tas ranselku. Namun, tepat saat aku hendak berdiri, sebuah suara memecah keheningan gudang.
*Kriet...*
Suara engsel pintu besi yang berat itu bergeser. Aku membeku di tempat. Cahaya dari celah pintu yang tadinya ma**k ke dalam ruangan tiba-tiba menghilang, digantikan oleh bayangan panjang seseorang yang berdiri di sana. Aku mematikan senter ponselku secepat kilat, berusaha menyatu dengan kegelapan di balik rak.
Aku menahan napas hingga dadaku terasa sesak. Melalui celah di antara rak besi, aku melihat bayangan itu bergerak. Sosok itu tidak ma**k ke dalam. Sebaliknya, tangannya meraih gagang pintu dari luar.
*B**k!*
Pintu besi itu tertutup rapat dengan dentuman yang m****akkan telinga. Detik berikutnya, suara yang paling kutakuti terdengar: bunyi logam yang beradu, kunci yang diputar dua kali, dan gerendel berat yang digeser paksa.
"Hei! Siapa di sana?!" teriakku sambil berlari menuju pintu. Aku menghantamkan pundakku ke permukaan besi yang dingin itu, tapi pintu itu tidak bergeming sedikit pun.
"Buka pintunya! Saya masih di dalam!" Aku menggedor-gedor permukaan pintu dengan tinjuku hingga tanganku terasa kebas.
Hening.
Tidak ada jawaban dari balik pintu. Hanya suara langkah kaki yang menjauh secara perlahan, tenang, dan tanpa terburu-buru. Langkah kaki yang terdengar sangat berwibawa, seolah pelakunya tahu persis siapa yang baru saja ia kurung di dalam kegelapan ini.
Aku merogoh saku, mencari ponselku dengan panik. Sial, sinyal di gudang bawah tanah ini sangat lemah. Satu bar sinyal muncul lalu menghilang seperti sedang mempermainkanku. Aku mencoba mendial nomor Alya.
*Memanggil...*
Hanya suara mesin operator yang menjawab. Aku mencoba lagi, kali ini mengirimkan pesan singkat. *Al, aku terjebak di gudang arsip lama. Ada yang mengunci pintu dari luar. Tolong.*
Pesan itu hanya menunjukkan ikon jam kecil yang berputar. *Pending.*
Aku menyandarkan punggungku ke pintu, merosot jatuh ke lant** yang dingin. Di dalam kegelapan yang pekat ini, aku menyadari satu hal. Penyelidikan internal yang kulakukan secara diam-diam ternyata tidak sediam-diam yang kukira. Seseorang telah mengawasiku sejak awal. Seseorang yang memiliki kunci cadangan, seseorang yang tahu aku akan datang ke sini.
Udara di dalam ruangan terasa semakin tipis. Aroma kertas tua yang tadi hanya mengganggu, kini terasa mencekik. Aku memeluk tas ranselku erat-erat. Di dalamnya ada bukti yang bisa menjatuhkan penguasa kampus ini, tapi apa gunanya bukti jika aku sendiri tidak bisa keluar dari sini hidup-hidup?
Tiba-tiba, ponselku bergetar pelan di genggaman. Sebuah pesan ma**k, tapi bukan dari Alya. Sebuah nomor tidak dikenal mengirimkan pesan singkat yang membuat bulu kudukku meremang.
*βLencana itu terlalu berat untukmu, Keanu. Seharusnya kau tetap menjadi boneka yang manis.β*
Aku menatap layar ponsel dengan mata nanar. Di tengah keheningan gudang yang mematikan, aku menyadari bahwa permainan ini baru saja berubah dari sekadar skandal korupsi menjadi ancaman yang nyata bagi nyawaku. Dan saat ini, satu-satunya orang yang mungkin menyadari keberadaanku adalah gadis yang selama ini kusebut sebagai musuh bebuyutanku.
Aku hanya bisa berharap Alya tidak sedang mematikan ponselnya malam ini. Jika tidak, gudang arsip ini akan menjadi kuburan bagi kredibilitas dan rahasia yang baru saja kutemukan.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!