Bau apek kertas tua dan debu yang mengendap bertahun-tahun merayap ma**k ke indra penciumanku, menyesakkan paru-paru. Aku terbatuk kecil, mencoba mengibaskan udara di depan wajahku, namun sia-sia. Di ruangan berukuran empat kali empat meter ini, rak-rak besi tinggi menjulang, menampung tumpukan map cokelat yang tampak lelah menahan beban sejarah birokrasi kampus.
"Percuma, Al. Pintunya dikunci dari luar. Slotnya macet, dan kunci cadangannya pasti dibawa Pak Jaka pulang," suara rendah Keanu memecah keheningan yang mencekam.
Aku menoleh, menatapnya yang sedang duduk bersandar pada salah satu rak besi. Lampu senter dari ponselnya diletakkan di lant**, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di dinding. Keanu sudah melepas jaket almamaternya, menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini berantakan, dan untuk pertama kalinya, aku melihat guratan kelelahan yang nyata di wajahnya.
"Kita nggak bisa cuma duduk manis di sini sampai pagi," gerutuku sambil menendang pelan pintu kayu yang kokoh itu. "Gue punya tenggat waktu. Kalau draf investigasi ini nggak naik besok, momentumnya hilang."
Keanu terkekeh, suara yang terdengar hambar. "Lo selalu mikirin momentum, ya? Kadang gue penasaran, apa ada hal di hidup lo yang nggak lo sangkut pautkan dengan berita?"
Aku terdiam, memilih untuk duduk di lant** yang dingin, memberi jarak sekitar satu meter darinya. Aku memeluk lututku. "Dunia ini nggak akan bergerak kalau nggak ada yang menyuarakannya, Kean. Diam itu pengkhianatan."
"Gue setuju," jawabnya singkat. Matanya menatap langit-langit gudang yang suram. "Tapi menyuarakan sesuatu nggak harus selalu dengan cara meledakkan bom di halaman depan, kan? Kadang, perubahan butuh taktik. Butuh orang di dalam yang tahu kapan harus menarik pelatuk."
Aku mencibir, meski kali ini tanpa ketajaman yang biasanya. "Taktik? Atau sekadar kompromi sampai lo lupa apa yang lo perjuangkan?"
Keanu tidak langsung menjawab. Ia meraih lencana Ketua BEM yang tergeletak di samping ponselnya. Benda logam itu berkilau samar terkena cahaya senter. Ia memutar-mutarnya di sela jari, seolah benda itu beratnya berton-ton.
"Lo tahu kenapa gue benar-benar mau jabatan ini?" tanyanya pelan.
"Gue rasa karena lo suka jadi pusat perhatian. Foto lo di baliho depan gerbang itu... c**up menjelaskan," sindirku.
Keanu tersenyum tipis, jenis senyum yang tidak sampai ke mata. "Tiga tahun lalu, kakak tingkat gue di Teknik Mesin dikeluarkan secara tidak hormat. Dia dituduh menggelapkan dana praktikum, padahal dia cuma menemukan celah korupsi di dekanat dan mencoba melaporkannya. Dia nggak punya 'suara' seperti lo, Al. Dia nggak punya panggung. Dia dihancurkan sebelum sempat bicara."
Aku terpaku. Cerita itu... aku pernah mendengarnya samar-samar saat masih menjadi maba, tapi ka**snya tenggelam begitu saja.
"Gue lihat dia depresi. Gue lihat keluarganya hancur karena nama baiknya dirusak. Saat itu gue sadar, kalau gue cuma jadi mahasiswa biasa yang teriak-teriak di jalan, mereka cuma perlu menutup jendela ruang AC mereka supaya nggak berisik," lanjut Keanu. Suaranya kini sedikit bergetar, ada luka lama yang ia buka paksa. "Gue harus ma**k ke dalam sistem. Gue harus jadi orang yang mereka percaya, supaya gue punya akses ke laci-laci terkunci yang mereka sembunyikan. Gue pakai lencana ini bukan buat gagah-gagahan. Gue pakai ini supaya gue punya wewenang buat menghentikan kejadian yang sama terulang lagi."
Aku menelan ludah. Rasa sesak di dadaku kini bukan lagi karena debu, melainkan karena rasa bersalah yang perlahan merayap. Selama ini, aku hanya melihat Keanu sebagai "boneka rektorat". Aku menilainya dari senyum formalnya di rapat-rapat resmi, dari caranya menyalami para pejabat kampus dengan sopan. Aku tidak pernah membayangkan bahwa di balik kemeja rapi itu, ada seorang pria yang sedang menjalankan misi penyamaran yang sangat melelahkan.
"Kenapa lo nggak pernah bilang?" tanyaku, suaraku nyaris berbisik.
"Kepada siapa? Kepada jurnalis yang setiap minggu nulis tajuk rencana tentang betapa 'ompongnya' BEM periode ini?" Ia menoleh padaku, matanya berkilat jenaka namun getir. "Gue butuh musuh yang terlihat nyata, Al. Biar mereka pikir gue sibuk ngurusin kritik lo, sementara gue diam-diam nyisir laporan keuangan festival itu."
Aku memalingkan wajah, merasa bodoh. "Gue... gue pikir lo cuma peduli sama citra."
"Citra itu perisai, Alya. Kalau mereka pikir gue anak manis, mereka bakal lengah." Keanu menghela napas panjang, lalu menyandarkan kepalanya ke rak. "Tapi jujur, kadang gue capek. Gue capek harus pura-pura setuju sama keputusan-keputusan konyol Rektorat di depan umum, sementara di belakang gue harus mikir gimana caranya nyelamatin anggaran buat beasiswa mahasiswa kurang mampu yang mau dipangkas."
Suasana mendadak hening. Hanya terdengar suara detik jam tangan Keanu dan deru angin yang menyelinap dari celah ventilasi kecil di atas. Aku memperhatikan profil samping wajahnya. Ada garis kelelahan di bawah matanya, dan bahunya yang lebar tampak sedikit merosot. Untuk pertama kalinya, aku melihat Keanu bukan sebagai "Ketua BEM", melainkan sebagai seorang pemuda dua puluh satu tahun yang memikul beban yang seharusnya tidak ia tanggung sendirian.
Tanpa sadar, aku menggeser dudukku sedikit lebih dekat. "Lo tahu, Kean... mungkin gue terlalu cepat menghakimi. Gue terbiasa melihat dunia dalam warna hitam dan putih. Investigasi, fakta, salah atau benar."
"Dunia kampus ini abu-abu, Al. Banyak bayangannya," sahutnya lembut.
Aku memberanikan diri menyentuh lengan kemejanya pelan. "Gue bisa bantu. Maksud gue... kalau lo punya akses ke dokumen-dokumen itu, dan gue punya platform buat menyuarakannya tanpa bikin lo kena masalah secara langsung... kita bisa bikin mereka nggak punya pilihan selain transparan."
Keanu menatapku, matanya mencari kejujuran di mataku. Untuk sesaat, ketegangan di antara kami berubah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih hangat, lebih intim. Aku bisa merasakan detak jantungku sendiri yang mulai tidak beraturan. Keanu mengulurkan tangan, jemarinya menyentuh helai rambut yang jatuh di wajahku, menyelipkannya ke belakang telinga. Sentuhannya dingin, tapi mengirimkan gelenyar aneh ke sekujur tubuhku.
"Lo benar-benar keras kepala, ya?" bisiknya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tulus pertama yang pernah kulihat darinya.
"Itu pujian buat jurnalis," jawabku, berusaha tetap tenang meski napasku mulai pendek.
Baru saja Keanu hendak mengatakan sesuatu, suara langkah kaki yang berat terdengar dari lorong di luar. Bukan langkah sant** seorang penjaga malam. Langkah itu cepat, berirama, dan berhenti tepat di depan pintu gudang.
Kami berdua membeku. Keanu segera mematikan lampu senter ponselnya. Kegelapan total menyergap.
*Klik.*
Suara kunci yang diputar dari luar terdengar jelas. Namun, alih-alih pintu terbuka, terdengar suara benda berat yang digeser menutupi pintu, seolah-olah seseorang sedang sengaja membarikade kami dari luar agar tidak bisa keluarβatau agar tidak ada yang bisa melihat apa yang terjadi di dalam.
Lalu, bau menyengat mulai merembes ma**k melalui celah di bawah pintu. Bau yang sangat kukenali, namun sangat tidak pada tempatnya di gudang arsip yang penuh kertas ini.
Bau bensin.
Keanu mencengkeram lenganku kuat-kuat dalam kegelapan. "Al, jangan bersuara," bisiknya dengan nada yang jauh lebih mendesak dan penuh ketakutan daripada sebelumnya.
Di luar, suara korek api yang dipantik terdengar begitu nyaring di tengah kesunyian malam.
Aliansi kami baru saja dimulai, tapi sepertinya seseorang ingin memastikan bahwa rahasia yang kami simpan akan terbakar habis bersama kami malam ini.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!