Detak jantungku berpacu lebih kencang daripada langkah kakiku saat kami menyelinap keluar dari pintu samping gudang perlengkapan yang pengap. Tanganku merogoh saku jaket, memastikan benda kecil berbentuk persegi panjang itu masih di sana. Ujung tajam dari *flashdisk* itu seolah menusuk kulit telapak tanganku, sebuah pengingat bisu bahwa di dalam sana tersimpan bukti-bukti yang bisa meruntuhkan karier orang-orang paling berkuasa di kampus ini.
βKeanu, cepat!β bisik Alya, suaranya parau karena debu gudang dan adrenalin yang memuncak.
Aku menoleh ke belakang sekali lagi, menatap bayang-bayang di lorong gelap gedung belakang kampus yang jarang dilewati. Keheningan malam ini terasa tidak wajar, seolah-olah tembok-tembok beton di sekitar kami punya telinga. Aku menarik napas panjang, mencoba meredam gemuruh di dadaku, lalu memberi isyarat pada Alya untuk mengikuti langkahku menuju area parkir tersembunyi di balik rimbunnya pohon angsana.
"Kita harus segera menjauh dari sini sebelum penjaga sif malam lewat," kataku dengan nada rendah.
Alya tidak membantah. Gadis yang biasanya punya seribu argumen itu kini hanya mengangguk kecil, wajahnya pucat namun matanya menyala dengan determinasi yang belum pernah kulihat sebelumnya. Rambutnya yang berantakan terkena jaring laba-laba gudang tidak mengurangi kesan tangguh yang dipancarkannya.
Begitu kami sampai di bawah bayangan pohon angsana tempat motor besarku terparkir, aku sempat menarik napas lega. Namun, kelegaan itu hanya bertahan sedetik. Saat aku melangkah mendekat dan menyalakan lampu ponsel untuk mencari lubang kunci, cahaya pucat itu menangkap sesuatu yang membuat perutku mual.
Kedua ban motorku tidak hanya kempes. Mereka terkoyak. Garis-garis panjang yang kasar dan dalam terlihat jelas di permukaan karet hitam itu, disayat secara sengaja dengan benda tajam.
"Sial," umpatku, kepalan tanganku mengeras.
Alya berjongkok di sampingku, matanya membelalak menatap kerusakan itu. "Ini bukan kecelakaan, kan?"
"Bukan. Ini pesan," sahutku pahit. Aku menoleh ke sekeliling, merasakan sepasang mata sedang mengawasi kami dari balik kegelapan jendela-jendela gedung rektorat yang menjulang di kejauhan. Lencana Ketua BEM yang masih tersemat di kemejaku terasa sangat berat sekarang, seolah-olah timah panas sedang menekan dadaku.
Tepat saat itu, langit seakan pecah. Guntur menggelegar, disusul oleh hujan deras yang turun tanpa ampun, membasahi kami dalam hitungan detik. Hujan ini bukan hanya sekadar air; ia terasa seperti tirai dingin yang mengisolasi kami dari dunia luar.
"Kita tidak bisa diam di sini," kata Alya, suaranya harus bersaing dengan gemuruh hujan. Dia mencengkeram tas kameranya erat-erat, melindunginya dengan tubuhnya sendiri. "Kalau mereka tahu kita punya *flashdisk* itu, mereka tidak akan berhenti di ban motor."
Aku menatap motor yang tak berguna itu, lalu beralih pada Alya. Air hujan mengalir di wajahnya, membuat bulu matanya basah. Dia menggigil, tapi tidak ada rasa takut yang membuat langkahnya goyah. Hanya ada kemarahan yang tenang.
"Ayo jalan," aku memutuskan. Aku melepas jaket kulitku dan menyampirkannya ke bahu Alya, mengabaikan protes kecil yang keluar dari bibirnya. "Kita harus sampai ke kosmu atau tempat mana pun yang punya koneksi internet aman. Kita tidak bisa membawa bukti ini berkeliling terlalu lama."
Kami mulai berjalan menyusuri jalan setapak di belakang kampus, menjauh dari area parkir yang terasa seperti jebakan. Air hujan meresap ke dalam sepatu, membuat setiap langkah terasa berat dan licin. Perjalanan yang biasanya memakan waktu lima menit dengan motor, kini terasa seperti pendakian gunung yang tak berujung.
"Kean," panggil Alya pelan di tengah isak hujan.
Aku menoleh, melihatnya kesulitan mengatur napas. "Ya?"
"Kenapa kau melakukannya?" tanya Alya, matanya menatapku lurus, mencari kejujuran di balik citra 'Ketua BEM yang Sempurna' yang selama ini dia benci. "Kau bisa saja mengabaikan laporan itu. Kau bisa saja tetap menjadi anak emas rektorat dan lulus dengan pujian tanpa masalah. Kenapa kau mempertaruhkan semuanya untuk ini?"
Aku berhenti sejenak, membiarkan air hujan memba**h wajahku. Pertanyaan itu sering kutanyakan pada diriku sendiri di malam-malam tanpa tidur.
"Karena lencana ini bukan cuma aksesori, Al," jawabku, suaraku terdengar lebih dalam di tengah badai. "Aku lelah melihat orang-orang yang seharusnya melindungi mahasiswa justru memeras mereka. Jika aku diam saja setelah tahu kebenaran ini, maka aku sama buruknya dengan mereka."
Alya terdiam. Untuk pertama kalinya, aku melihat sorot matanya melunak. Tidak ada sinisme, tidak ada kecurigaan. Hanya ada pengakuan. Dia mengulurkan tangannya, menyentuh lenganku sekejap sebagai bentuk dukungan yang tak terucap.
Namun, momen itu hancur saat sebuah cahaya lampu mobil yang terang tiba-tiba menyambar dari arah belakang kami. Sebuah SUV hitam melaju pelan, merayap di jalan setapak yang seharusnya terlarang bagi kendaraan umum pada jam sedini ini.
"Lari, Al!" perintahku, menarik tangannya.
Kami memacu langkah di atas aspal yang licin, sementara mesin mobil di belakang kami menderu lebih keras, seolah-olah predator yang baru saja menemukan mangsanya. Jantungku berdentum di telinga, lebih keras daripada guntur. Aku meraba saku jaketku, memastikan *flashdisk* itu masih ada di sana, sambil terus menarik Alya menuju gang sempit di antara gedung laboratorium yang gelap.
Kami harus menghilang sebelum mobil itu memojokkan kami. Namun, saat kami berbelok di ujung gedung, langkahku terhenti mendadak. Di depan kami, berdiri dua orang pria bertubuh tegap dengan payung hitam, menghalangi satu-satunya jalan keluar.
Aku menelan ludah, merasakan dinginnya hujan merambat hingga ke tulang. Tanganku refleks bergerak di depan Alya, melindunginya. Di belakang, lampu mobil itu semakin dekat, mengunci kami dalam sorotan cahaya yang menyilaukan. Kami terjepit.
Dan di dalam sakuku, data transfer gelap itu seolah berdenyut, menanti untuk dihancurkan atau diselamatkan.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!