Ruangan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan itu beraroma kayu cendana dan pendingin ruangan yang disetel terlalu rendah. Alya bisa merasakan bulu kuduknya meremang, bukan hanya karena suhu udara, melainkan karena keheningan yang sengaja diciptakan oleh pria di seberang mejanya.
Pak Baskoro, pria dengan kacamata berbingkai emas itu, masih sibuk mengaduk tehnya dengan gerakan melingkar yang ritmis. Bunyi denting sendok yang beradu dengan porselen terdengar seperti lonceng kematian bagi investigasi Alya.
"Kamu mahasiswi yang sangat cerdas, Alya Kirana," suara Pak Baskoro akhirnya memecah kesunyian. Ia meletakkan sendoknya dan menatap Alya dengan binar kebapakan yang terasa palsu. "IPK 3,9 di semester kelima, aktif di pers mahasiswa, dan punya pengaruh besar di media sosial melalui... apa namanya? *Lensa Alya*?"
Alya mengeratkan pegangan pada tas selempangnya yang sudah mulai mengelupas di bagian pinggir. "Hanya kanal investigasi kecil, Pak."
"Kecil?" Pak Baskoro tertawa ringan, sebuah suara yang tidak mencapai matanya. "Isinya sudah membuat beberapa kepala departemen saya sulit tidur. Terutama soal... desas-desus dana festival musik itu."
Jantung Alya berdegup lebih kencang. Ia sudah bersiap untuk dimarahi, diskors, atau bahkan diancam drop-out. Namun, Pak Baskoro justru merogoh laci mejanya dan mengeluarkan sebuah map biru tua yang tebal. Map itu diletakkan di tengah meja, digeser perlahan ke arah Alya seperti sebuah umpan.
"Kami di rektorat sangat menghargai idealisme anak muda. Tapi, kami juga menyadari bahwa idealisme sering kali terbentur oleh realita ekonomi," ucap Pak Baskoro tenang. "Saya sudah melihat catatan keuanganmu. Ayahmu baru saja pensiun, bukan? Dan kamu bekerja paruh waktu di tiga tempat berbeda hanya untuk membayar UKT semester depan?"
Alya merasa seolah privasinya baru saja dikuliti. Ia tetap bungkam, rahangnya mengeras.
"Buka map itu, Alya."
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Alya membuka map tersebut. Matanya membelalak saat membaca baris demi baris dokumen di dalamnya. Itu bukan surat peringatan. Itu adalah formulir Beasiswa Penuh Yayasanβskema beasiswa paling prestisius di universitas ini yang biasanya hanya diberikan kepada atlet nasional atau mahasiswa berprestasi internasional.
"Beasiswa penuh hingga lulus. Tunjangan buku, biaya hidup bulanan yang sangat layak, dan jaminan penempatan kerja di grup perusahaan mitra kami setelah kamu wisuda," Pak Baskoro merinci tawaran itu dengan nada seolah ia sedang memberikan hadiah ulang tahun. "Semua beban finansialmu akan hilang dalam sekejap."
Alya menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. Pikiran tentang wajah lelah ibunya yang selalu menghitung recehan untuk belanja dapur melintas di benaknya. Uang ini bukan sekadar angka; ini adalah kebebasan. Ini adalah masa depan yang tenang.
"Syaratnya?" tanya Alya, suaranya hampir menyerupai bisikan.
Pak Baskoro tersenyum tipis, senyum yang menunjukkan bahwa ia merasa sudah menang. "Sederhana. Kami ingin kamu fokus pada studimu. Tidak perlu lagi menghabiskan waktu malam-malam untuk mengurus *Lensa Alya*. Kami minta kamu menghapus semua konten terkait investigasi dana festival musik itu, menutup kanal tersebut secara permanen, dan menandatangani kesepakatan untuk tidak membahas isu internal kampus di ruang publik."
Alya menatap lembaran kertas putih bersih di depannya. Pena *fount**n pen* milik Pak Baskoro yang terlihat mahal sudah diletakkan di atas dokumen, siap digunakan.
"Hanya itu?" tanya Alya lagi.
"Hanya itu. Sebuah pertukaran yang adil, bukan? Karirmu sebagai jurnalis profesional akan lebih terjamin jika kamu memiliki catatan akademis yang bersih dan dukungan dari kami, daripada menjadi 'pemberontak' yang berakhir tanpa gelar."
Di kepala Alya, bayangan Keanu muncul. Ia teringat wajah lelah Ketua BEM itu saat mereka diam-diam bertemu di gudang belakang perpustakaan dua malam lalu. Keanu telah mempertaruhkan jabatannya, kredibilitasnya, dan mungkin masa depannya untuk memberikan data-data awal pada Alya. Keanu percaya padanya. Ribuan mahasiswa yang menyumbangkan uang lewat iuran sukarela itu percaya padanya untuk mencari tahu ke mana uang mereka mengalir.
Namun, ia juga melihat bayangan dirinya sendiri yang harus menunggak bayaran kost bulan depan. Ia melihat kemungkinan dirinya harus cuti kuliah karena tidak ada biaya.
Tangannya bergerak menyentuh pena dingin itu. Jari-jarinya melingkar di batangnya.
"Beasiswa ini bisa mengubah hidup keluargamu, Alya," Pak Baskoro menimpali, seolah bisa membaca keraguan di wajahnya. "Jangan biarkan ego mengalahkan logika."
Alya menatap logo universitas yang tertera di pojok kanan atas kertas itu. Lencana yang seharusnya menjadi simbol integritas, kini terasa seperti label harga untuk integritasnya sendiri. Jika ia menandatangani ini, ia akan menjadi persis seperti apa yang dulu ia tuduhkan pada Keanu: seorang pengecut yang bisa dibeli.
Ponsel di dalam tasnya bergetar. Sebuah notifikasi pesan ma**k. Alya tahu itu mungkin dari Keanu yang menanyakan perkembangan bukti baru yang mereka cari.
Alya mengangkat wajahnya, menatap langsung ke mata Pak Baskoro. Ia bisa melihat bayangan dirinya di kacamata pria ituβseorang gadis kecil yang tampak rapuh di hadapan kekuasaan besar.
"Pak Baskoro," suara Alya kini lebih stabil, meski ada getaran emosi di dalamnya. "Ayah saya selalu bilang, kalau saya kehilangan uang, saya bisa mencarinya lagi dengan bekerja lebih keras. Tapi kalau saya kehilangan kepercayaan orang dan harga diri saya sendiri... tidak ada beasiswa di dunia ini yang bisa membelinya kembali."
Ia menutup map itu dengan bunyi 'plak' yang c**up keras, lalu menggesernya kembali ke hadapan Wakil Rektor.
Senyum Pak Baskoro menghilang seketika. Wajahnya berubah menjadi sedingin es. "Kamu baru saja membuang kesempatan emas, Alya. Kamu tahu apa konsekuensinya jika kamu melanjutkan ini tanpa perlindungan dari kami?"
"Saya tahu," sahut Alya sambil berdiri. Ia menyampirkan tasnya ke bahu, merasa beban di dalamnya entah bagaimana terasa lebih ringan sekaligus lebih berbahaya. "Tapi setidaknya, saat saya menulis nanti malam, saya tidak perlu merasa malu saat melihat bayangan saya sendiri di cermin."
Alya berbalik dan berjalan menuju pintu. Namun, saat tangannya menyentuh gagang pintu, ucapan Pak Baskoro berikutnya membuatnya membeku.
"Kamu pikir Keanu ada di pihakmu? Periksa lagi siapa yang menandatangani disposisi pencairan dana festival yang 'hilang' itu, Alya. Jangan sampai kamu menjadi pahlawan untuk orang yang sebenarnya sedang menjebakmu."
Alya terdiam sebentar, jantungnya serasa berhenti berdetak. Ia tidak menoleh, langsung membuka pintu dan melangkah keluar menuju koridor yang panjang dan sepi. Di ujung lorong, ia melihat sosok Keanu sedang berdiri menyandar di pilar, menunggunya dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Alya meraba flashdisk di saku jaketnya, tiba-tiba merasa ragu pada satu-satunya orang yang ia percayai selama seminggu terakhir. Apakah Keanu adalah sekutu, atau justru dalang yang sedang membersihkan jejaknya melalui tangan Alya?
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!