Lampu neon di ruang sekretariat BEM berkedip sekali sebelum akhirnya mati total, menyisakan hanya pendar biru pucat dari layar laptop yang menyala di atas meja kayu yang dipenuhi tumpukan berkas. Keanu menghela napas, menyandarkan punggungnya pada kursi kerja yang terasa semakin keras seiring berjalannya malam. Di seberang meja, Alya masih bergeming. Gadis itu tidak lagi mengetik. Jarinya hanya diam di atas *keyboard*, sementara matanya menatap kosong ke arah deretan angka dalam draf laporan investigasi mereka.
Keanu memperhatikan bayangan Alya yang terpantul di kaca jendela yang basah oleh sisa hujan. Rambut Alya yang biasanya diikat rapi kini berantakan, beberapa helai jatuh menutupi wajahnya yang tampak pucat di bawah cahaya layar. Ada gurat kelelahan yang tidak bisa disembunyikan oleh keras kepalanya.
"Al, istirahat dulu. Kau sudah menatap layar itu selama empat jam," suara Keanu memecah keheningan, terdengar lebih berat dari biasanya.
Alya tidak menoleh. "Kalau aku berhenti sekarang, keberanianku mungkin tidak akan kembali besok pagi, Kean." Suaranya parau, nyaris bergetar. "Surat peringatan dari Dekanat itu... mereka tidak main-main. Ayahku ditelepon. Mereka bilang aku merusak nama baik kampus."
Keanu merasakan denyut di pelipisnya. Ia bangkit berdiri, melangkah pelan mendekati Alya. Keheningan di ruangan itu terasa menyesakkan, hanya diisi oleh suara detak jam dinding dan dengung kipas angin tua. Ia berdiri tepat di belakang kursi Alya, c**up dekat hingga ia bisa mencium aroma kopi pahit dan wangi sampo stroberi yang samar dari rambut gadis itu.
"Mereka menyerang titik lemahmu karena mereka takut dengan apa yang kau pegang di sini," ucap Keanu pelan, tangannya ragu sejenak sebelum akhirnya memberanikan diri menyentuh bahu Alya. Bahu itu terasa kaku, tegang seperti dawai gitar yang siap putus.
Alya akhirnya menoleh. Matanya yang tajam kini tampak berkaca-kaca, sebuah pemandangan yang jarang Keanu lihat. "Bagaimana kalau aku gagal? Bagaimana kalau aku bukan hanya menghancurkan diriku sendiri, tapi juga menyeretmu? Kau Ketua BEM, Kean. Karier organisasimu, masa depanmu... semuanya dipertaruhkan hanya karena mengikuti keg***anku."
Keanu menunduk, menatap dalam ke netra cokelat Alya. Keinginan untuk melindungi gadis di depannya ini bukan lagi sekadar urusan profesionalisme atau aliansi taktis. Ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak setiap kali melihat Alya tersudut. Tanpa sadar, ibu jari Keanu mengusap pelan pangkal leher Alya, sebuah gerakan spontan yang membuat napas Alya tercekat.
"Kau pikir aku melakukan ini hanya untuk menyelamatkan muka BEM?" Keanu berbisik, suaranya rendah dan penuh penekanan. "Awalnya mungkin iya. Tapi sekarang... melihatmu berjuang sendirian di barisan depan membuatku merasa seperti pecundang kalau aku hanya diam di balik meja."
Keanu menarik kursi kosong dan duduk di samping Alya, memperpendek jarak di antara mereka. Ia meraih tangan Alya yang dingin, menggenggamnya erat di atas meja. Kontak fisik itu terasa seperti sengatan listrik yang melumpuhkan akal sehatnya sejenak. Profesionalisme yang selama ini ia agung-agungkan mulai terasa kabur.
"Alya Kirana yang kukenal tidak pernah mundur hanya karena gertakan administratif," lanjut Keanu. Ia mencondongkan tubuh, hingga kening mereka hampir bersentuhan. "Dunia luar mungkin melihatmu sebagai pemberontak tanpa kendali, tapi aku melihat seseorang yang punya integritas lebih besar dari seluruh birokrat di gedung rektorat itu. Jangan biarkan mereka mematikan apamu."
Alya terdiam, matanya terpaku pada genggaman tangan mereka. Keanu bisa merasakan jemari Alya perlahan membalas genggamannya, seolah mencari pegangan di tengah badai. Untuk beberapa detik, waktu seakan berhenti. Aroma hujan, keheningan malam, dan detak jantung yang berpacu menciptakan ruang privat yang berbahaya bagi dua orang yang seharusnya hanya menjadi rekan kerja.
Alya menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Ketegangan di bahunya mulai mencair. "Kau selalu tahu apa yang harus dikatakan, ya? Dasar politikus kampus."
Keanu terkekeh kecil, namun tidak melepaskan tangan Alya. "Ini bukan pidato kampanye, Al. Ini janji."
Alya menarik tangannya perlahan, membuat Keanu merasakan kehilangan yang tiba-tiba. Gadis itu kembali menghadap layar, tapi kali ini sorot matanya kembali tajam. Ia menekan tombol *Save* dengan mantap. "Oke. Kita selesaikan ini. Besok kita kirim bukti transfer ini ke forum mahasiswa."
Keanu tersenyum tipis, merasa lega sekaligus cemas. Ia tahu risiko yang menanti mereka besok akan jauh lebih besar dari sekadar surat peringatan. Namun, melihat semangat Alya kembali membara, ia merasa sanggup menghadapi apa pun.
Tepat saat Keanu hendak berdiri untuk merapikan berkas-berkasnya, ponselnya yang tergeletak di meja bergetar hebat. Sebuah pesan singkat ma**k dari nomor yang tidak dikenal.
Keanu meraih ponsel itu, dan saat ia membaca pesannya, darahnya terasa membeku.
*βKeanu, pilihan yang sulit. Menyelamatkan gadis jurnalis itu, atau menyelamatkan beasiswa pertukaran pelajarmu ke London yang akan diumumkan besok pagi? Pilihannya ada di tanganmu. Temui saya di ruang Wakil Rektor III sekarang juga. Sendiri.β*
Keanu melirik ke arah Alya yang kembali fokus mengedit draf laporan. Gadis itu tampak begitu percaya padanya sekarang. Keanu mengepalkan tangannya, menyembunyikan layar ponsel dari pandangan Alya, sementara hatinya mulai berteriak mencari jalan keluar yang mungkin tidak pernah ada.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!