Cahaya biru dari monitor memantul di bola mata Alya yang memerah. Di luar, hujan rintik memba**h jendela kamar kosnya, menciptakan irama monoton yang menemani denting jam dinding yang menunjuk angka dua pagi. Di hadapannya, lini masa aplikasi penyunting video tampak seperti benang kusut yang perlahan mulai ia rapikan menjadi sebuah pola yang mematikan.
Jari-jari Alya menari di atas *trackpad*, menyeret potongan klip wawancara saksi kunci ke samping grafik aliran dana yang diberikan Keanu dua malam lalu. Ia menarik napas panjang, membiarkan aroma kopi instan yang sudah dingin memenuhi paru-parunya.
"Sedikit lagi," gumamnya pada diri sendiri.
Di layar, wajah Keanu muncul dalam salah satu rekaman tersembunyi yang pria itu ambil di ruang rapat BEM. Keanu tampak tegang, garis rahangnya mengeras saat ia mencoba mencecar bendahara panitia festival tentang selisih angka lima ratus juta rupiah. Dulu, Alya akan mengira ekspresi itu hanya akting untuk menjaga citra. Namun sekarang, setelah melihat tumpukan dokumen asli yang diselundupkan Keanu padanya, Alya tahu beban itu nyata. Lencana ketua yang melingkar di kemeja Keanu bukan sekadar aksesori; itu adalah sasaran tembak.
Alya mema**kkan narasi suaranya yang paling tajam. *“Transparansi adalah mitos di kampus ini, sampai kita melihat apa yang disembunyikan di balik map cokelat rektorat.”*
Saat ia hendak melakukan *render* untuk urutan lima menit pertama, kursor di layarnya tiba-tiba bergetar. Alya mengerutkan kening, menggerakkan jarinya di atas sensor, tapi kursor itu justru melompat ke sudut berlawanan.
"Ayo lah, jangan sekarang," bisiknya gusar. Ia mengira baterai *mouse* nirkabelnya habis, tapi kemudian sebuah jendela baris perintah (*command prompt*) terbuka sendiri di pojok kanan bawah. Baris demi baris kode berwarna hijau neon berlari secepat kilat.
Jantung Alya berdegup kencang. Ia mencoba menutup jendela itu, tapi *pop-up* peringatan merah muncul di tengah layar: **CRITICAL SYSTEM ERROR.**
"Sial!"
Alya mencoba menekan tombol *force quit*, namun komputernya tidak merespons. Matanya membelalak saat melihat folder bertajuk 'PROJECT_REKTORAT' di atas desktopnya tiba-tiba menghilang. Bukan sekadar pindah, tapi terhapus. Ikon tempat sampah di dock-nya langsung terisi penuh secara otomatis.
Panik mulai merayapi tengkuknya seperti es dingin. Ini bukan kerusakan perangkat lunak biasa. Ini serangan. Seseorang sedang berada di dalam sistemnya secara *remote*.
"Nggak, nggak boleh!" Alya berteriak kecil, jemarinya menghantam tombol *shortcut* untuk mematikan koneksi Wi-Fi, tapi ikon sinyal di baris atas tetap menyala penuh, seolah-olah fungsi kendalinya telah direbut.
Di layar, jendela penyunting videonya mulai menutup satu per satu. Pesan teks muncul di tengah layar, menimpa wajah Keanu yang masih membeku di sana: *HENTIKAN ATAU HILANG SEMUANYA.*
Napas Alya memburu. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya. Ia tidak boleh kehilangan data ini. Ini adalah bukti satu-satunya—hasil kerja kerasnya dan pertaruhan nyawa Keanu. Dengan gerakan nekat, ia meraih kabel pengisi daya dan mencoba mencabut baterai laptopnya yang bertipe tanam, namun ia sadar itu mustahil dilakukan dengan cepat tanpa obeng.
Ia beralih ke cara fisik. Ia meraih kabel LAN yang masih tercolok di dinding sebagai cadangan dan menyentaknya kasar, lalu menekan tombol *power* dengan ibu jari sekuat tenaga.
Satu detik. Dua detik. Layar itu masih menyala, menampilkan progres penghapusan permanen yang mencapai 70%.
"Matilah, matilah!" pekiknya penuh amarah dan ketakutan.
Tepat saat angka progres menyentuh 85%, layar itu berkedip hitam dan akhirnya mati total. Keheningan tiba-tiba terasa sangat pekak di kamar itu. Alya jatuh terduduk di kursinya, dadanya naik turun dengan tidak beraturan. Tangannya gemetar hebat saat ia mencoba menyalakan kembali laptopnya, namun hanya logo produsen yang muncul sesaat sebelum layar kembali gelap dan mengeluarkan bunyi *bip* panjang yang menyakitkan telinga.
Alya meraih ponselnya di atas meja dengan tangan yang masih gemetar. Ia harus menghubungi Keanu. Ia harus memberitahu bahwa mereka sudah ketahuan. Bahwa serangan ini bukan lagi sekadar ancaman lisan di koridor kampus.
Namun, sebelum ia sempat menekan nama Keanu di kontak, sebuah notifikasi pesan ma**k dari nomor tidak dikenal muncul di layar ponselnya. Pesan itu hanya berisi sebuah foto yang diambil dari sudut rendah, menampilkan Alya yang sedang duduk membelakangi jendela kamarnya saat itu juga.
Alya membeku. Perlahan, ia menoleh ke arah jendela di belakangnya yang tertutup gorden tipis. Di luar, di antara rintik hujan dan kegelapan taman kos, ia bisa melihat sebuah siluet berdiri diam di bawah lampu jalan yang remang.
Siluet itu memegang sesuatu yang memantulkan cahaya—seperti sebuah lensa kamera yang mengarah tepat ke jantung kamarnya.
Ponsel di tangannya bergetar lagi. Sebuah pesan baru ma**k:
*“Pintu kamarmu tidak dikunci sesempurna yang kau kira, Alya.”*
Detik itu juga, suara gagang pintu kamarnya yang ditekan perlahan terdengar dengan jelas di tengah kesunyian malam.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!