Udara di dalam ruang rapat utama BEM terasa beberapa derajat lebih dingin dari biasanya, padahal pendingin ruangan di pojok langit-langit sudah tua dan sering batuk-batuk. Aku melangkah ma**k, membenarkan letak lencana kepanitiaan di kerah kemejaku yang terasa mencekik. Biasanya, ruangan ini riuh dengan tawa atau setidaknya gumaman diskusi tentang proker yang terbengkalai. Hari ini? Hening. Hanya ada suara gesekan kertas dan detak jam dinding yang seolah sengaja diperkeras.
Di ujung meja oval, Farhan, wakilku, duduk dengan punggung tegak. Tangannya tertaut di atas meja, wajahnya yang biasanya ramah kini sekaku manekin. Di sekelilingnya, para menteri dan staf inti berkumpul dengan raut wajah yang bervariasi: ada yang menatap lant**, ada yang gelisah memainkan pulpen, tapi tak satu pun yang berani menatap mataku.
"Kalian sudah mulai tanpa aku?" suaraku memecah keheningan, mencoba terdengar setenang mungkin meski ada sensasi dingin yang merayap di tengkukku.
Farhan tidak langsung menjawab. Ia justru mendorong sebuah map cokelat ke tengah meja. "Kami rasa tidak perlu menunggu formalitas, Nu. Ada hal-hal yang tidak bisa ditunda lagi demi stabilitas organisasi."
Aku menarik kursi di kepala meja, posisi yang biasanya memberiku rasa kendali. Namun sekarang, kursi itu terasa goyah. "Stabilitas apa yang kamu maksud, Han? Agenda hari ini seharusnya pembahasan teknis festival musik, bukan sidang darurat."
"Festival musik?" Farhan tertawa kecil, nada yang meremehkan. "Bagaimana kita bisa bahas festival kalau ketuanya sendiri sedang sibuk 'menjual' rahasia dapur kita ke pihak luar?"
Jantungku berdegup kencang. Bayangan wajah Alya yang serius saat kami membedah laporan keuangan di perpustakaan gelap semalam terlintas di benakku. Aku sudah sangat berhati-hati. Aku tahu risiko ini. Tapi melihat Farhan sekarangβtatapannya yang tajam dan berkilatβaku menyadari bahwa musuh yang kucari selama ini tidak hanya berada di gedung rektorat.
"Jangan bicara berbelit-belit," kataku tajam. "Kalau ada yang mau kamu sampaikan, katakan langsung di depan forum."
Farhan memberi kode pada staf humas di sampingnya. Detik berikutnya, proyektor menyala, memuntahkan cahaya putih ke layar kain di belakangku. Gambar-gambar muncul. Foto-foto buram, tapi c**up jelas untuk mengenali profilku. Aku sedang duduk di kafe pojok kota bersama Alya. Di foto lain, aku terlihat menyerahkan sebuah map kepadanya.
"Alya Kirana," Farhan menyebut nama itu seolah-olah itu adalah nama penyakit menular. "Gadis yang menghancurkan reputasi BEM tahun lalu dengan investigasi sampah itu. Dan sekarang, Ketua kita, orang yang kita percayai sebagai garda terdepan, tertangkap kamera sedang melakukan pertemuan rutin dengannya. Apa yang kamu berikan padanya, Nu? Bukti anggaran? Atau kamu sedang menukar posisi kami semua untuk menyelamatkan nama baikmu sendiri?"
"Itu fitnah," aku memotong, suaraku rendah namun bergetar karena amarah yang mulai mendidih. "Aku berkomunikasi dengan Alya karena dia punya data yang kita butuhkan untuk mengungkap kebocoran dana dari atas. Aku melakukan ini untuk BEM!"
"Untuk BEM? Atau untuk panggung pribadimu bersama si jurnalis itu?" Farhan berdiri, telapak tangannya menghantam meja. "Kamu bertindak tanpa persetujuan kami. Kamu menyimpan rahasia dari pengurusmu sendiri. Dan sekarang, pihak Rektorat sudah mendengar desas-desus bahwa BEM sedang mencoba melakukan 'pembangkangan' administratif. Mereka mengancam akan membekukan seluruh dana kegiatan kalau kita tidak bisa menertibkan internal kita."
Aku menatap sekeliling. "Kalian percaya padanya? Kalian tahu aku tidak pernah sekalipun mengkhianati kepercayaan mahasiswa."
Menteri Riset, yang biasanya mendukungku, hanya menghela napas panjang tanpa menatapku. "Masalahnya, Nu... kamu tidak transparan. Kamu bicara soal integritas, tapi kamu sendiri bergerak di bawah bayangan bersama orang yang paling membenci kita."
Rasa pahit menyebar di pangkal lidahku. Ini adalah jebakan yang rapi. Sangat rapi. Dan aku tahu siapa arsitek di baliknya. Aku menoleh kembali pada Farhan, yang kini memasang ekspresi prihatin yang dibuat-buat.
"Oleh karena itu," Farhan melanjutkan, suaranya kini melunak, seolah dia sedang melakukan tindakan heroik yang menyakitkan. "Berdasarkan AD/ART dan kesepakatan mayoritas pengurus inti yang hadir di sini, kami secara resmi mengajukan Mosi Tidak Percaya terhadap kepemimpinan Keanu Pratama."
Ruangan itu mendadak terasa sempit. Dinding-dindingnya seolah merapat.
"Mosi tidak percaya?" aku mendengus tak percaya. "Han, aku tahu kamu sering bolak-balik ke kantor Wakil Rektor III minggu ini. Kamu pikir aku tidak tahu siapa yang memberimu foto-foto itu?"
Wajah Farhan menegang sesaat, tapi ia cepat menguasai diri. "Siapa pun yang memberikannya tidak relevan. Yang penting adalah apa yang ada di dalamnya. Kamu sudah tidak layak memimpin kami. Kami butuh pemimpin yang bisa menjaga hubungan baik dengan birokrasi, bukan yang memancing keributan yang tidak bisa kita menangkan."
"Menjaga hubungan baik?" aku berdiri, menumpu berat badanku di meja, mencondongkan tubuh ke arahnya. "Maksudmu menjadi boneka mereka? Menutup mata saat mereka memotong dana fasilitas mahasiswa untuk kepentingan pribadi? Itu yang kamu inginkan?"
Farhan tidak mundur. "Aku ingin organisasi ini selamat. Dan kamu adalah beban bagi keselamatan itu."
Ia mengedarkan pandangan ke seluruh peserta rapat. "Siapa yang setuju untuk membekukan wewenang Keanu sebagai Ketua BEM sampai sidang umum luar biasa dilaksanakan?"
Satu per satu, tangan-tangan itu terangkat. Seperti barisan domino yang jatuh. Rasa sakitnya lebih tajam daripada dikhianati oleh musuh. Ini adalah orang-orang yang begadang bersamaku, yang berteriak bersamaku di bawah terik matahari saat demonstrasi, yang kutanggap sebagai saudara.
Tangan terakhir yang terangkat adalah milik Farhan. Ia menatapku dengan senyum tipis yang penuh kemenangan.
"Suara mayoritas, Nu. Silakan serahkan lencana dan kunci ruang kerja ini. Untuk sementara, kepemimpinan akan diambil alih oleh presidium kolektif di bawah koordinasiku."
Aku menatap lencana emas di kerahku. Logam itu terasa sangat berat, seolah terbuat dari timah yang menarikku jatuh ke dasar bumi. Aku melepasnya perlahan, merasakan jarinya menusuk ujung jempolku hingga setetes darah muncul. Aku meletakkan lencana itu di atas meja dengan denting halus yang terdengar seperti lonceng kematian karir organisasiku.
Aku berbalik tanpa pamit, melangkah keluar dari ruangan yang kini bukan lagi milikku. Namun, saat pintu jati itu tertutup di belakangku, ponsel di saku celanaku bergetar.
Satu pesan ma**k dari Alya.
*Keanu, gawat. Orang-orang Rektorat baru saja menggeledah lokerku di sekretariat pers. Mereka mencari dokumen itu. Kita sudah ma**k terlalu jauh. Kamu di mana?*
Aku menyandarkan punggung ke dinding koridor yang sepi, menatap langit-langit dengan napas memburu. Aku tidak punya jabatan lagi. Aku tidak punya perlindungan dari organisasi. Dan sekarang, mereka mulai memburu Alya.
Tanganku mengepal erat di sisi tubuh. Jika mereka pikir dengan mencopot lencanaku mereka bisa menghentikan langkahku, mereka salah besar. Kini, aku tidak punya beban birokrasi lagi untuk bermain cantik.
"Permainan baru dimulai, Han," gumamku pada kesunyian koridor, sebelum melangkah cepat menuju tempat Alya berada.
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!