Gagang pintu aluminium ruang rapat BEM itu terasa dingin di telapak tanganku, kontras dengan hawa panas yang seolah memancar dari balik celah pintunya. Aku bisa mendengar suara-suara meninggi, tumpang tindih dalam nada penghakiman. Aku menarik napas panjang, membiarkan oksigen memenuhi paru-paruku yang mulai terasa sesak oleh keraguan.
Ini g***. Aku, Alya Kirana, orang yang selama tiga tahun terakhir menjadi momok bagi setiap pengurus BEM, kini justru bersiap melangkah ma**k untuk menjadi tameng bagi ketuanya.
Saat aku mendorong pintu, bunyi deritnya yang nyaring seketika menghentikan kegaduhan di dalam. Belasan pasang mata menoleh serentak. Suasana yang tadinya hiruk-pikuk mendadak senyap, sejenis kesunyian yang mencekam seperti sebelum badai besar menghantam.
"Ngapain dia di sini?" Faras, Kepala Departemen Internal yang dikenal paling vokal, berdiri dengan wajah merah padam. Ia menunjukku dengan pulpennya seolah aku adalah wabah yang harus segera diusir.
Aku tidak menjawab. Mataku langsung mencari Keanu. Ia duduk di kursi utama, di ujung meja panjang yang penuh dengan tumpukan berkas dan cangkir kopi kosong. Bahunya yang lebar tampak sedikit merosot, beban jabatan itu seolah benar-benar sedang menghimpitnya secara fisik. Namun, saat matanya bertemu denganku, ada kilatan lega yang tertangkap di sanaβtipis, nyaris tak terlihat, namun c**up untuk memberiku kekuatan.
"Aku yang mengundangnya," suara Keanu terdengar bariton dan tenang, meski aku tahu dia sedang berdiri di tepi jurang.
"Kamu g***, Kean?" Faras memukul meja. "Dia ini Alya! Orang yang bikin reputasi BEM hancur lewat tulisan-tulisannya. Dan sekarang, saat kita lagi bahas masalah kebocoran dana festival, kamu malah bawa mata-mata ke sini?"
"Justru karena dia Alya," Keanu berdiri, gerakannya tenang dan terkontrol. Ia memberikan isyarat agar aku mendekat. "Karena hanya dia yang punya bukti bahwa aku bukan pelakunya."
Aku berjalan maju, langkah sepatuku menggema di lant** keramik. Aku bisa merasakan tatapan benci, curiga, dan bingung dari pengurus lain yang duduk melingkar. Aku meletakkan sebuah map cokelat di atas meja, tepat di tengah-tengah mereka.
"Aku tahu kalian semua menganggapku sebagai musuh," aku memulai, suaraku datar namun tegas. Aku menatap mereka satu per satu, tidak membiarkan sedikit pun keraguan terlihat di wajahku. "Tapi aku lebih benci koruptor daripada aku membenci birokrasi kalian yang kaku. Dan saat ini, kalian sedang berusaha mengambinghitamkan orang yang justru sedang mencoba menyelamatkan muka organisasi ini."
"Bicara apa kamu?" seorang pengurus perempuan di sudut ruangan mencemooh. "Laporan keuangan menunjukkan tanda tangan Keanu di setiap pengeluaran fiktif itu."
Aku membuka map tersebut, mengeluarkan beberapa lembar salinan dokumen dan foto-foto hasil pengint**anku selama seminggu terakhir. "Tanda tangan bisa dipalsukan, tapi jejak digital tidak. Lihat lampiran ketiga."
Aku menunjuk sebuah tangkapan layar percakapan dan alur mutasi rekening. "Dana festival itu tidak berhenti di kantong Keanu. Dana itu dialirkan ke sebuah rekening penampung milik pihak ketiga, yang jika kalian telusuri lebih jauh, terhubung langsung dengan vendor panggung yang ditunjuk oleh pihak Rektorat secara sepihak. Keanu menolak menandatangani kuitansi aslinya, makanya tanda tangannya dipalsukan dalam laporan bayangan ini."
Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Faras mengambil dokumen itu, matanya bergerak cepat membaca baris demi baris. Wajahnya yang tadi keras perlahan berubah menjadi pucat.
"Keanu diam-diam melakukan investigasi internal," lanjutku, melirik Keanu yang masih berdiri mematung. "Dia tahu kalau dia bicara tanpa bukti yang kuat, dia akan langsung didepak oleh pihak atas sebelum sempat membongkar semuanya. Itu sebabnya dia butuh orang luar. Dia butuh orang yang tidak bisa dikendalikan oleh rektorat. Dia butuh aku."
Aku melihat Keanu menghembuskan napas panjang, seolah beban seberat satu ton baru saja diangkat dari dadanya. "Aku tidak pernah mengkhianati kepercayaan kalian," ucapnya pelan namun penuh penekanan. "Semua sikap diamku selama ini adalah untuk memastikan kita tidak disapu bersih sebelum perang dimulai."
Satu per satu pengurus BEM mulai saling berbisik. Ketegangan yang tadi bersifat konfrontatif kini berubah menjadi kecemasan yang kolektif. Mereka mulai menyadari bahwa musuh mereka bukan sang ketua yang ada di depan mereka, melainkan kekuatan yang jauh lebih besar di luar gedung ini.
Faras menjatuhkan kertas-kertas itu ke meja. Ia menatap Keanu, lalu menatapku dengan tatapan yang masih sulit diartikan. "Kalau ini benar... berarti kita semua dalam bahaya. Rektorat tidak akan tinggal diam kalau tahu kita memegang bukti ini."
"Memang," sahut Keanu. Ia kemudian menoleh padaku, sebuah senyum tipisβhampir menyerupai ucapan terima kasih yang tulusβtersungging di bibirnya. "Tapi sekarang kita tidak sendiri."
Aku merasakan sesuatu yang aneh berdesir di dadaku. Ini bukan lagi sekadar mencari berita atau menjatuhkan citra seseorang. Ini adalah aliansi. Aku, si jurnalis pemberontak, dan dia, si ketua yang terjebak dalam sistem.
Tepat saat suasana mulai sedikit mencair, pintu ruang rapat digedor dengan keras dari luar. Tidak, bukan sekadar digedor, tapi diguncang seolah seseorang sedang berusaha mendob**knya.
"Ketua! Keanu!" suara teriakan dari luar terdengar panik. "Satpam kampus dan staf dekanat menuju ke sini! Mereka bilang ada penggeledahan mendadak terkait tuduhan penggelapan dana!"
Wajah Keanu menegang seketika. Ia menyambar map cokelat di atas meja dan memberikannya kembali padaku dengan gerakan cepat.
"Alya, lewat pintu belakang. Sekarang!" bisiknya tajam. "Jangan sampai mereka menemukan berkas itu di tangan kami. Jika mereka mendapatkanmu, semuanya selesai."
Aku mematung sejenak, melihat Keanu yang kini bersiap pasang badan di depan pintu ma**k, menghadapi badai yang baru saja tiba lebih cepat dari perkiraan kami. Suara sepatu bot satpam mulai terdengar mendekat di lorong, dan aku sadar, permainan ini baru saja naik ke level yang jauh lebih berbahaya.
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!