Telapak tanganku terasa dingin dan lembap, kontras dengan udara gerah yang terperangkap di lorong lant** tiga gedung Rektorat yang sudah sepi ini. Aku melirik jam tangan digital di pergelangan kiri. Pukul delapan malam lewat lima belas menit. Seharusnya, sebagai Ketua BEM, aku sedang berada di ruang rapat organisasi, memimpin evaluasi mingguan. Namun, di sinilah aku sekarang—bersembunyi di balik bayangan pilar beton besar, menahan napas setiap kali mendengar derit lant** atau embusan angin dari ventilasi.
Lencana emas di kerah kemejaku terasa seberat timah. Benda itu adalah simbol kepercayaan ribuan mahasiswa, namun malam ini, benda itu terasa seperti target tembak yang menempel di dadaku. Jika ada petugas keamanan yang lewat dan menemukanku di sini, aku punya seribu alasan formal untuk membela diri. Tapi jika aku tertangkap basah sedang menempelkan alat p****am di celah pintu ruang kerja Wakil Rektor II, tidak akan ada narasi diplomatis yang bisa menyelamatkanku.
"Satu kesalahan saja, Kean, dan namamu akan dihapus dari sistem kampus sebelum fajar menyingsing," bisikku pada diri sendiri. Suaraku nyaris tak terdengar, tertelan oleh sunyi yang mencekam.
Aku teringat tatapan tajam Alya kemarin sore di kafe pinggir kampus. *“Kamu terlalu banyak main aman, Keanu. Kadang, untuk membersihkan lant** yang kotor, kita harus berani mengotori tangan sendiri,”* katanya saat itu, sambil menyodorkan det**l jadwal pertemuan tertutup malam ini.
Alya benar. Dan sialnya, aku membenci kenyataan bahwa dia benar.
Aku melangkah berjinjit, memastikan sepatu pantofelku tidak menimbulkan bunyi ketukan yang mencolok. Pintu kayu jati di depanku tampak megah sekaligus mengancam. Di baliknya, aku mendengar gumam suara rendah. Ada dua orang di dalam. Aku mengenali suara berat dan berwibawa milik Pak Darmawan, sang Wakil Rektor Bidang Keuangan, dan satu lagi suara serak yang asing—kemungkinan besar kontraktor yang memenangkan tender festival musik kemarin.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku mengeluarkan ponselku. Aku sudah mengatur sensitivitas mikrofonnya ke tingkat maksimal. Aku berlutut, menempelkan pinggiran ponsel ke celah tipis di bawah pintu, berdoa dalam hati agar tidak ada notifikasi ma**k yang tiba-tiba berbunyi.
"...tidak perlu khawatir soal Alya Kirana itu," suara Pak Darmawan terdengar lebih jelas sekarang. Ada nada meremehkan yang membuat rahangku mengeras. "Dia hanya mahasiswi ingusan yang haus perhatian. Masalahnya adalah dana sisa dari sponsor. Saya butuh bagian itu ma**k ke rekening yayasan sebelum audit bulan depan."
"Tapi, Pak, Ketua BEM-nya... si Keanu itu, dia mulai bertanya-tanya soal rincian biaya panggung," sahut suara serak itu.
Aku menahan napas. Jantungku berdegup begitu kencang hingga aku takut suaranya akan tertangkap oleh rekaman itu sendiri.
Pak Darmawan tertawa, tawa pendek yang kering. "Keanu? Dia anak emas. Dia tahu mana yang menguntungkan bagi masa depannya. Berikan saja dia piagam penghargaan atau janji rekomendasi beasiswa ke luar negeri, dia akan diam. Dia tipe orang yang lebih takut kehilangan jabatannya daripada kehilangan integritasnya."
Kata-kata itu menghujam ulu hatiku. Selama ini, itulah citra yang aku bangun: mahasiswa teladan yang patuh. Dan mendengar itu digunakan sebagai jaminan bahwa aku bisa disuap, rasanya lebih menyakitkan daripada tamparan fisik.
Aku menatap layar ponsel. Durasi rekaman sudah berjalan dua menit. Aku butuh angka. Aku butuh penyebutan nominal atau rencana transfer itu.
"Jadi, kesepakatannya tetap sepuluh persen dari total kontrak?" tanya si suara serak.
"Dua belas. Dua persen tambahan untuk biaya 'tutup mulut' beberapa staf administrasi. Saya akan pastikan laporannya terlihat bersih di meja rektor. Besok sore, kirimkan termin pertamanya," balas Pak Darmawan.
*Gotcha.* Aku mendapatkan variabelnya. Tanganku semakin erat menggenggam ponsel. Ini adalah bukti yang c**up untuk meruntuhkan tembok kekuasaan yang mereka bangun selama bertahun-tahun. Namun, tepat saat aku hendak menarik kembali ponselku, sebuah cahaya senter menyapu ujung lorong.
Langkah kaki berat terdengar mendekat. Itu pasti petugas keamanan yang sedang berpatroli.
Panik mulai merayap di dadaku. Jika aku lari sekarang, suara langkahku akan menggema di lorong yang sunyi ini. Jika aku tetap di sini, aku akan tertangkap basah di depan pintu ruangan yang seharusnya tidak boleh dima**ki mahasiswa di luar jam kantor. Sanksinya jelas: pelanggaran berat, pencabutan status mahasiswa, dan tamatlah masa depanku.
Aku melihat ke sekeliling dengan cepat. Tidak ada tempat sembunyi selain toilet yang letaknya sepuluh meter di belakangku, atau ma**k ke dalam ruang rapat kosong di sisi kanan. Aku memilih yang kedua. Aku menarik ponselku, bangkit dengan gerakan sehalus mungkin, dan menyelinap ke dalam ruang rapat yang pintunya kebetulan tidak terkunci rapat.
Aku menutup pintu dengan perlahan, menahan gagangnya agar tidak menimbulkan bunyi klik. Di dalam kegelapan ruangan, aku menyandarkan punggung ke daun pintu, mengatur napas yang memburu.
Cahaya senter itu melewati celah di bawah pintu ruang rapat. Aku memejamkan mata, mematung seperti patung lilin. Detik demi detik terasa seperti jam yang berjalan lambat. Langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintuku.
*Tolong, jangan buka pintunya,* batinku memohon.
Sesaat, suasana menjadi sangat sunyi. Kemudian, suara walkie-talkie berderit dari luar. "Lant** tiga aman, ganti," ucap petugas itu sebelum akhirnya langkah kakinya menjauh menuju tangga darurat.
Aku merosot ke lant**, terduduk lemas. Keringat dingin mengucur di pelipisku. Aku membuka ponsel, memastikan rekaman tadi tersimpan dengan aman di folder tersembunyi. Suara Pak Darmawan tadi terus terngiang-ngiang di kepalaku. *Dia tipe orang yang lebih takut kehilangan jabatannya daripada kehilangan integritasnya.*
Aku mengepalkan tinju. Mereka salah menilaiku. Alya juga mungkin salah menilaiku.
Aku segera bangkit, berniat meninggalkan gedung ini sebelum keberuntunganku habis. Namun, baru saja aku membuka pintu ruang rapat sedikit untuk mengintip ke luar, ponselku bergetar hebat di saku. Sebuah pangg***n ma**k.
Nama di layarnya membuat jantungku kembali mencelos: *Alya Kirana.*
Aku segera menekan tombol hijau dan menempelkannya ke telinga sambil berbisik tajam. "Al, jangan telepon sekarang, aku masih di dalam—"
"Kean, pergi dari sana sekarang!" suara Alya terdengar panik di seberang sana, napasnya terengah-engah. "Aku baru saja lihat mobil Dekan ma**k ke parkiran, dan dia tidak sendirian. Dia membawa dua orang berpakaian preman yang sepertinya orang suruhan dari luar kampus. Mereka langsung menuju lift lant** tiga. Mereka tahu ada yang bocor, Kean! Keluar dari sana sekarang juga!"
Aku mematung. Suara denting lift di ujung lorong bergema, memecah kesunyian malam. Seseorang baru saja tiba di lant** ini. Dan itu bukan petugas keamanan.
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!