Jemari Alya gemetar di atas papan tik, sebuah fenomena langka yang biasanya hanya terjadi jika ia terlalu banyak mengonsumsi kafein. Namun malam ini, bukan kopi penyebabnya. Di hadapannya, layar laptop memancarkan cahaya biru yang tajam, menampilkan folder-folder berisi dokumen pemindahan dana, rekaman suara amatir, dan foto-foto kuitansi palsu yang telah ia susun selama berminggu-minggu.
"Tarik napas, Al. Kau terlihat seperti orang yang lupa cara bernapas."
Suara bariton Keanu memecah keheningan di ruang redaksi pers mahasiswa yang pengap itu. Alya menoleh, mendapati Ketua BEM itu sedang bersandar di ambang pintu yang terkunci rapat. Jas almamaternya tersampir di kursi, kemeja putihnya kusut dengan lengan yang digulung hingga siku. Ada lingkaran hitam di bawah matanya, namun sorot matanya tetap setajam biasanya.
"Aku hanya memikirkan konsekuensinya," gumam Alya, mencoba menstabilkan suaranya. Ia kembali menatap layar. "Setelah aku menekan tombol *Go Live* ini, tidak ada jalan pulang. Namaku akan tamat di buku sejarah rektorat, dan kau... kau akan kehilangan lencanamu."
Keanu melangkah mendekat, berdiri di samping meja Alya. Ia meletakkan tangannya di atas meja, c**up dekat hingga Alya bisa merasakan kehangatan dari kehadirannya. "Lencana itu tidak ada gunanya jika hanya dipakai untuk menutupi borok orang-orang di atas sana. Kita sudah sepakat, kan? Kebenaran jauh lebih mahal daripada jabatan."
Alya menatap Keanu sebentar, mencari keraguan di wajah pria itu. Tidak ada. Yang ia temukan justru keyakinan yang dulu sering ia anggap sebagai kesombongan. Sekarang, ia tahu itu adalah keberanian. Alya mengangguk pelan, jemarinya bergerak lincah menyiapkan perangkat lunak siaran langsung di kanal "Lensa Mahasiswa".
"Lima menit lagi," kata Alya. Ia menyesuaikan sudut lensa kamera eksternalnya. "Ribuan mahasiswa sudah menunggu di kolom komentar. Tautan ini sudah tersebar di grup WhatsApp seluruh fakultas. Begitu siaran dimulai, data-data ini akan terunggah secara otomatis ke peladen publik. Mereka tidak akan bisa menghapusnya."
"Aku akan berjaga di depan pintu," ujar Keanu. Ia mengeluarkan ponselnya, memantau situasi di koridor gedung kemahasiswaan melalui grup koordinasi internalnya yang tepercaya. "Pastikan narasimu kuat, Al. Biarkan angka-angka itu yang bicara, tapi kau yang memberi mereka nyawa."
Alya menarik napas panjang, membiarkan oksigen memenuhi dadanya yang sesak. Ia membenarkan letak kacamata dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Di layar, angka penonton yang menunggu siaran langsung terus melonjak, meski siaran belum dimulai. 500 orang, 1.200 orang, 3.000 orang. Atmosfer di dalam ruangan itu terasa elektrik, seolah-olah udara sendiri mengandung muatan listrik yang siap meledak.
"Tiga menit," Alya berbisik pada dirinya sendiri.
Ia mulai mengetik judul siaran: *Skandal Dana Festival: Siapa yang Membeli Mobil Baru dengan Uang Mahasiswa?*
Tiba-tiba, Keanu mengerutkan kening. Ia menatap layar ponselnya dengan saksama, lalu menggoyangkannya di udara. "Al, ponselmu masih ada sinyal?"
Alya melirik bar sinyal di sudut kanan bawah layar laptopnya. "Penuh. Kenapa?"
"Ponselku tiba-tiba kehilangan koneksi. Mungkin hanya gangguan providerβ"
Belum sempat Keanu menyelesaikan kalimatnya, lampu indikator pada *router* Wi-Fi yang terpasang di langit-langit ruangan itu berkedip merah, lalu mati total. Layar laptop Alya yang tadinya menampilkan halaman dasbor *streaming* langsung berubah menjadi abu-abu dengan ikon berputar yang menyebalkan.
*Connection Lost.*
"Apa yang terjadi?" Alya menekan tombol *refresh* dengan panik. "Wi-Fi mati. Keanu, cek ponselmu lagi!"
Keanu mencoba menyalakan data selulernya, namun hanya simbol 'E' yang muncul sebelum akhirnya lenyap menjadi tanda silang. "Tidak ada sinyal seluler. Tidak ada Wi-Fi. Mereka mematikan semuanya, Al. Seluruh area kampus ini baru saja menjadi zona buta digital."
Darah Alya terasa berdesir dingin. Ia berdiri, menghampiri jendela dan melihat ke arah lapangan utama. Lampu-lampu jalan di luar masih menyala, tapi keheningan yang menyelimuti area itu terasa tidak wajar. Pihak rektorat tidak hanya tahu apa yang akan mereka lakukan, tapi mereka bergerak lebih cepat dari yang diperkirakan.
"Ini sabotase," desis Alya, giginya bergeletuk karena marah. "Mereka memutus koneksi di seluruh area universitas tepat sebelum kita mulai. Mereka mencoba membungkam kita!"
"Mereka menggunakan pemutus sinyal atau memerintahkan bagian IT pusat untuk mematikan *server*," Keanu menganalisis dengan cepat, otaknya bekerja mencari solusi. "Kita tidak bisa melakukan siaran dari sini."
"Tapi kita harus!" Alya menyambar laptopnya, mema**kkannya ke dalam tas dengan terburu-buru. "Orang-orang sudah menunggu. Jika kita batal siaran sekarang, mereka akan menganggap ini hanya hoaks atau gertakan sambal. Kita akan kehilangan momentum!"
"Tenanglah, Alya. Berpikir jernih," Keanu memegang bahu Alya, memaksa gadis itu untuk menatapnya. "Jika mereka mematikan sinyal di radius kampus, artinya kita harus keluar dari sini. Sekarang."
Alya bisa merasakan jantungnya berdegup kencang di balik tulang rusuknya. Ketakutan terbesarnyaβsuaranya dibungkamβsekarang berdiri tepat di depannya dalam bentuk tembok tak kasat mata bernama sensor birokrasi. Ia menatap Keanu, mencari celah dalam situasi yang buntu ini.
"Gerbang utama pasti dijaga ketat," kata Keanu lagi, suaranya rendah dan mendesak. "Pihak keamanan kampus mungkin sudah mendapat perintah untuk menahan siapa pun yang terlihat mencurigakan membawa peralatan elektronik malam-malam begini."
Alya menggigit bibir bawahnya. Matanya berpindah dari laptop ke jendela, lalu ke arah pintu. "Ada jalan keluar melalui laboratorium tua di belakang gedung teknik. Pagar di sana agak rusak, kita bisa menyelinap ke kafe di seberang jalan raya. Di sana ada Wi-Fi milik warga sipil yang tidak bisa mereka kontrol."
"Jaraknya hampir satu kilometer dari sini, Al. Dan kita harus melewati patroli satpam," Keanu mengingatkan.
"Lalu apa pilihan kita? Duduk di sini dan membiarkan mereka menang?" Alya menyampirkan tas kameranya ke bahu. Matanya berkilat dengan api pemberontakan yang belum padam. "Aku tidak akan membiarkan mereka mencuri suara mahasiswa untuk membayar cicilan mobil mewah mereka."
Keanu terdiam sejenak, lalu sebuah senyum tipis, hampir tak terlihat, muncul di sudut bibirnya. "Baiklah. Simpan semua datamu. Kita lari sekarang."
Baru saja Keanu meraih kunci pintunya, suara langkah sepatu bot yang berat menggema dari ujung lorong. Bukan satu orang, tapi beberapa orang. Suara radio panggil (HT) terdengar berkerisik, memecah kesunyian koridor yang gelap.
"Ruang pers mahasiswa di lant** dua. Periksa setiap sudut. Jangan biarkan ada yang membawa keluar perangkat apa pun," suara itu terdengar tegas dan dingin melalui HT.
Alya dan Keanu saling berpandangan. Napas mereka tertahan. Mereka terjebak di dalam ruangan, sementara suara langkah kaki itu semakin mendekat, berirama dengan detak jantung mereka yang kian memburu.
"Lewat jendela," bisik Keanu sambil menunjuk ke arah balkon kecil di luar. "Sekarang!"
Lanjutkan Membaca Bab 19 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!