Genggaman tanganku pada gagang pengeras suara itu terasa licin karena keringat. Teriknya matahari pukul dua siang di lapangan utama kampus seolah membakar ubun-ubun, tapi panas yang merambat di dadaku jauh lebih membara. Di depanku, lautan manusia dengan jaket almamater berwarna biru tua tampak bergelombang, meneriakkan satu kata yang sama berulang kali hingga udara terasa bergetar.
"Transparansi! Transparansi! Transparansi!"
Aku menoleh ke samping kiri, ke arah tangga gedung Rektorat yang dijaga ketat oleh barisan petugas keamanan kampus. Di sana, Pak Darwin, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, berdiri dengan tangan bersedekap dan wajah sekeras batu granit. Matanya menatapku dengan kilat peringatan yang sangat jelas: *Berhenti sekarang, atau karier organisasimu berakhir hari ini.*
Aku menarik napas dalam, membiarkan oksigen yang panas mengisi paru-paruku. Di sudut mataku, aku melihat Alya. Ia berdiri di garda depan massa, namun tidak ikut berteriak. Kamera DSLR-nya terkalung di leher, dan ia sedang sibuk membidik lensa ke arahku, lalu ke arah barisan keamanan. Saat mata kami bertemu sesaat, ia mengangguk kecil. Tidak ada senyum, hanya sorot mata tajam yang seolah berkata, *Jangan mundur.*
Dukungan diam-diam itu memberiku kekuatan yang tidak terduga.
"Kawan-kawan mahasiswa!" suaraku menggelegar melalui pelantang, membelah kebisingan. "Hari ini kita berdiri di sini bukan untuk merusak. Kita berdiri di sini karena kita mencint** institusi ini! Kita membayar keringat orang tua kita untuk pendidikan, bukan untuk membiayai gaya hidup mewah oknum-oknum yang menyembunyikan angka di balik laporan palsu!"
Sorakan massa pecah. Aku bisa melihat para petugas keamanan mulai merapatkan barisan, tangan mereka memegang tameng plastik dengan lebih erat.
"Keanu! Turun sekarang juga!" Pak Darwin melangkah maju ke tepi tangga, suaranya parau meski tanpa pengeras suara. "Kamu ini Ketua BEM! Tugasmu adalah menjadi jembatan, bukan memicu kerusuhan! Jangan sampai saya harus mengambil tindakan tegas yang akan kamu sesali seumur hidup."
Aku menurunkan pengeras suara sejenak, menatapnya langsung. "Tindakan tegas apa, Pak? Skorsing? Drop out? Silakan. Tapi sebelum surat itu keluar, pastikan Bapak sudah menyiapkan jawaban yang logis tentang ke mana perginya dana festival musik tiga miliar rupiah yang hanya terpakai setengahnya!"
Wajah Pak Darwin berubah pucat, lalu merah padam. Ia memberi isyarat tangan kepada komandan keamanan. Detik berikutnya, suasana menjadi kacau. Barisan petugas keamanan merangsek maju, mencoba memecah kerumunan mahasiswa yang membentuk pagar betis di sekelilingku.
"Jangan terprovokasi! Tetap rapatkan barisan!" teriakku, namun suaraku mulai tenggelam oleh suara benturan tameng dan teriakan protes.
Aku melihat seorang petugas keamanan bertubuh besar mencoba menarik jaket almamater salah satu mahasiswa baru di barisan depan. Tanpa berpikir panjang, aku melompat turun dari undakan taman yang kujadikan podium darurat. Aku menyelinap di antara kerumunan, mencoba melerai.
"Pak, jangan gunakan kekerasan!" ujarku sambil menahan lengan petugas tersebut.
"Minggir, Keanu! Ini perintah atasan!" bentak petugas itu, mendorong bahuku hingga aku terhuyung.
Di tengah kekacauan itu, aku merasakan sebuah tangan menarik lengan bajuku. Itu Alya. Wajahnya tegang, peluh membasahi pelipisnya. "Keanu, lihat ke arah balkon lant** tiga!" bisiknya setengah berteriak di telingaku.
Aku mendongak. Di balik jendela kaca besar ruang Rektor, sesosok pria berdiri tenang sambil memegang telepon seluler. Sang Rektor sendiri. Ia tidak turun, ia hanya mengamati kerusuhan ini seolah-olah kami semua hanyalah semut yang sedang bertengkar memperebutkan remah roti.
"Dia sedang menunggu kita melakukan kesalahan, Keanu," lanjut Alya, suaranya bergetar namun tetap tegas. "Kalau ada satu saja mahasiswa yang memukul petugas, dia punya alasan hukum untuk membubarkan BEM dan melaporkanmu ke polisi. Jangan terpancing."
Aku menatap mata cokelat Alya. Di sana, aku tidak lagi melihat kebencian yang dulu selalu ia tunjukkan padaku. Aku melihat kekhawatiran yang tulusβbukan hanya untuk berita yang ia tulis, tapi untukku.
Aku kembali mengangkat pengeras suara, suaraku kini lebih tenang namun penuh penekanan. "Semua, duduk! Saya instruksikan, semuanya duduk!"
Perlahan, gelombang massa itu merendah. Satu per satu mahasiswa duduk di atas aspal panas lapangan. Para petugas keamanan yang tadinya sudah siap mengayunkan tongkat, kini tampak bingung menghadapi aksi diam ini. Suasana yang tadinya bising mendadak senyap, menyisakan deru napas ribuan orang dan bunyi klik kamera Alya yang terus bekerja.
Aku berdiri di tengah-tengah mereka, tepat di hadapan barisan tameng. "Kami tidak akan bergerak dari sini sampai Rektor sendiri yang turun dan menyerahkan laporan audit asli. Jika Bapak ingin menangkap saya, tangkaplah sekarang. Tapi ingat, di belakang saya ada ribuan saksi, dan di depan saya ada lensa yang tidak akan pernah tidur."
Aku melirik Alya yang kini sedang melakukan siaran langsung melalui akun investigasinya. Jumlah penonton di layar ponselnya terus merangkak naik, menembus angka belasan ribu.
Pak Darwin tampak panik. Ia berbisik melalui radio panggilnya, wajahnya menunjukkan ketidaksabaran yang memuncak. Tak lama kemudian, gerbang utama kampus yang biasanya terbuka lebar mulai ditutup oleh petugas lain. Sebuah mobil hitam legamβmobil dinas kepolisianβtampak mema**ki area parkir samping.
"Keanu," Alya berbisik, kali ini nadanya dipenuhi ketakutan yang nyata. "Itu bukan cuma polisi biasa. Mereka membawa surat perintah."
Jantungku berdegup kencang. Aku tahu risiko ini ada, tapi melihatnya datang dalam bentuk nyata membuat nyaliku sedikit menciut. Namun, saat aku melihat tangan Alya yang gemetar namun tetap kokoh memegang kamera, aku tahu aku tidak boleh menunjukkan kelemahan.
Tiba-tiba, suara sirene m****akkan telinga merobek kesunyian lapangan. Pak Darwin kembali maju dengan senyum sinis yang belum pernah kulihat sebelumnya.
"Permainan selesai, Keanu," ucapnya dingin. "Ada laporan resmi atas nama kamu mengenai provokasi dan pencemaran nama baik institusi. Serahkan pengeras suara itu, atau kita selesaikan ini di kantor polisi."
Aku menelan ludah, menatap massa yang mulai gelisah, lalu kembali menatap Alya. Ia menatapku dengan tatapan yang seolah bertanya: *Apa langkah kita selanjutnya?*
Aku tahu, rahasia yang kami simpan di dalam flashdisk di saku jaketku adalah satu-satunya kartu as yang tersisa. Tapi jika aku tertangkap sekarang, kartu itu tidak akan pernah bisa dimainkan.
"Alya, ambil ini," bisikku sambil pura-pura memperbaiki letak tas punggungku, berusaha memberikan celah agar ia bisa mengambil sesuatu tanpa terlihat oleh kamera pengawas di atas kami. "Pergi dari sini sebelum mereka menutup semua akses."
Lanjutkan Membaca Bab 20 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!