Jari-jariku gemetar di atas layar ponsel yang membiaskan cahaya biru pucat di tengah kegelapan ruang redaksi pers mahasiswa yang pengap. Suara detak jarum jam dinding seolah berdentum dua kali lebih keras, memacu adrenalin yang sudah mencapai puncaknya. Di hadapanku, sebuah folder terenkripsi berisi rekaman suara Wakil Rektor III, salinan mutasi rekening bodong, dan foto-foto kuitansi fiktif Festival Musik Kampus siap dilepaskan ke jagat maya.
"Tinggal satu ketukan, Al," bisikku pada diri sendiri. Napas pelan yang kuembuskan terasa panas di ujung hidung.
Aku melirik bar sinyal di pojok kanan atas ponsel. Penuh. Aku telah mengatur jaringan *mirroring* ke tiga peladen berbeda dan mengirim salinan cadangan ke sepuluh alamat surel redaksi berita nasional paling berpengaruh di negeri ini. Pihak rektorat mungkin bisa mematikan Wi-Fi kampus, tapi mereka tidak bisa menghentikan gelombang udara.
Ibu jariku menekan tombol 'Broadcast'.
Satu detik. Dua detik. Lingkaran pemrosesan itu berputar seolah mengejek kesabaranku. Lalu, sebuah notifikasi muncul: *Berhasil Diunggah.*
Dalam hitungan menit, dunia digital meledak. Aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana utas yang kubuat di platform X merayap naik, dibagikan ribuan kali, dan tagar #SkandalLencana menyodok ke jajaran *trending topic*. Notifikasi ponselku berubah menjadi rentetan getaran tak putus. Pangg***n dari nomor tak dikenalβmungkin wartawan, mungkin orang suruhan rektoratβmulai ma**k.
Pintu ruang redaksi terbuka dengan sentakan pelan. Aku terlonjak, hampir menjatuhkan ponselku, sebelum melihat sosok jangkung yang berdiri di ambang pintu. Keanu.
Wajahnya tampak kuyu. Dasinya sudah melonggar, dan kemeja putihnya yang biasa rapi kini tampak kusut di bagian lengan. Ia tidak tersenyum. Matanya yang tajam menatapku dengan binar yang sulit diartikanβantara lega dan duka yang mendalam.
"Sudah selesai?" tanyanya pelan. Suaranya serak.
"Sudah," jawabku, suaraku masih bergetar karena sisa ketegangan. "Berita ini sudah sampai ke meja redaksi nasional. Besok pagi, wajah Pak Rektor akan menghiasi halaman depan surat kabar. Kita menang, Kean."
Keanu berjalan mendekat, lalu duduk di kursi plastik di depanku. Ia menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit ruangan yang berdebu. "Menang ya? Rasanya aneh."
Aku mengernyit, mencoba mencari sisa-sisa kemenangan di wajahnya. "Apa yang terjadi? Kau baru saja kembali dari gedung rektorat, kan?"
Keanu merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sebuah benda logam berbentuk perisai kecil dengan logo universitas. Lencana Ketua BEM. Ia meletakkannya di atas meja kayu yang bopeng di antara kami. Logam itu berdenting pelan, suara yang entah mengapa terdengar seperti lonceng kematian.
"Aku baru saja menyerahkan surat pengunduran diri," ucapnya datar.
Jantungku seolah berhenti berdetak sesaat. "Apa? Kenapa? Bukankah kita sudah membuktikan kalau kau tidak terlibat dalam aliran dana itu? Kau yang membantuku membongkarnya!"
Keanu terkekeh pahit, matanya kini menatapku dengan kelembutan yang menyakitkan. "Dunia birokrasi tidak sesederhana tulisan investigasimu, Al. Mereka butuh tumbal untuk meredam kemarahan publik sebelum dewan pengawas turun tangan. Rektorat menawarkan kesepakatan: mereka tidak akan menuntutmu secara hukum atas tuduhan pencemaran nama baik dan akses ilegal, asalkan aku mundur dan memikul tanggung jawab administratif atas kelalaian pengawasan."
"Itu tidak adil!" suaraku meninggi, bergema di ruangan yang sempit itu. Aku berdiri, rasa sesak mulai menghimpit dadaku. "Kau mengorbankan karier politikmu, masa depanmu di kampus ini, demi menutup borok mereka?"
"Bukan demi mereka, Alya," potong Keanu cepat. Ia juga berdiri, kini posisinya sangat dekat denganku sehingga aku bisa mencium aroma kopi dan kelelahan yang menguar darinya. "Demi kau. Dan demi mahasiswa yang sudah memberikan kepercayaan padaku. Jika aku tetap bertahan, mereka akan menggunakan posisiku untuk mematikan suaramu. Mereka akan bilang kalau investigasi ini adalah drama politik internal BEM. Tapi jika aku mundur sebagai bentuk 'pertanggungjawaban', investigasimu tetap murni sebagai suara kebenaran mahasiswa."
Aku terdiam, tenggorokanku mendadak tercekat. Aku selalu menganggapnya sebagai boneka kampus yang hanya peduli pada citra. Aku menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk membencinya, mencar-cari kesalahannya, hanya untuk menyadari bahwa di balik lencana emas itu, ada seseorang yang jauh lebih berani dariku.
"Kau tidak harus melakukannya," bisikku. Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku, menghaburkan pandanganku terhadap sosoknya.
Keanu tersenyum tipis, tangannya terangkat seolah ingin menghapus air mataku, namun ia menghentikannya di udara sebelum kembali menariknya. "Aku sudah selesai dengan lencana ini, Al. Tapi tugasmu baru dimulai. Pastikan mereka tidak hanya sekadar turun jabatan, tapi juga membayar apa yang sudah mereka curi dari mahasiswa."
Ia berbalik, berjalan menuju pintu. Langkah kakinya terdengar berat namun pasti.
"Kean!" panggilku.
Ia berhenti tanpa menoleh.
"Kenapa kau sejauh ini melindungiku? Padahal aku yang pertama kali menyerangmu di kanal investigasiku."
Keanu diam sejenak. Cahaya lampu lorong di belakangnya menciptakan siluet yang nampak kokoh sekaligus rapuh. "Karena kau adalah satu-satunya orang yang melihatku bukan sebagai Ketua BEM, tapi sebagai manusia yang bisa salah. Dan ironisnya, itu membuatku merasa benar-benar hidup."
Tanpa kata lagi, ia melangkah keluar, meninggalkan aku sendirian di ruang redaksi yang kini terasa sangat sunyi. Di layar ponselku, angka berbagi terus bertambah. Dunia sedang berpesta merayakan kebenaran yang baru saja lahir, namun di dadaku, kemenangan ini terasa hambar dan pahit.
Aku menatap lencana emas yang ditinggalkannya di meja. Kilatnya masih sempurna, namun pemiliknya kini telah pergi sebagai martir dari skandal yang kami bongkar bersama. Tanganku meraih lencana itu, menggenggamnya erat hingga pinggirannya yang tajam menusuk telapak tanganku.
Getaran ponsel kembali menginterupsi. Sebuah pesan ma**k dari nomor rahasia yang selama ini menjadi sumber informanku.
*Jangan bersenang-senang dulu, Alya. Keanu hanya pion pertama yang mereka tumbangkan. Kau target berikutnya.*
Aku menelan ludah, menatap pintu yang masih terbuka. Permainan ini ternyata jauh lebih berbahaya daripada yang kubayangkan, dan kini aku harus bertarung tanpa perisai yang selama ini berdiri di depanku.
Lanjutkan Membaca Bab 21 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!