Angin sore di balkon lant** tiga Gedung Kemahasiswaan membawa aroma tanah basah sisa hujan tadi siang. Aku merapatkan jaket denimku, membiarkan jemariku meraba tepian pagar besi yang catnya mulai mengelupas. Di tempat inilah, tepat tiga bulan yang lalu, aku meneriakkan kata "boneka rektorat" tepat di depan wajah Keanu. Saat itu, matanya berkilat marah, dan aku merasa sangat bangga karena berhasil membuatnya kehilangan ketenangan di depan publik.
Sekarang, aku hanya merasa konyol mengingatnya.
Langkah kaki yang teratur namun berat terdengar dari arah tangga. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Ritme langkahnya sudah terlalu sering mampir di telingaku belakangan ini—di lorong-lorong gelap saat kami mengint**, atau di kafe remang-remang saat kami membedah laporan keuangan festival musik.
"Kau datang lebih awal," suara berat itu memecah kesunyian.
Aku menoleh sedikit, mendapati Keanu berdiri beberapa meter dariku. Ia tidak memakai kemeja BEM-nya hari ini. Hanya kaus hitam polos yang lengannya digulung sedikit ke atas, menanggalkan citra 'Ketua BEM yang sempurna' yang selama ini kubenci. Wajahnya tampak lelah; ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya, tapi sorot matanya tetap tajam.
"Hanya ingin menikmati pemandangan sebelum kita kembali ke neraka," jawabku retoris, kembali menatap ke arah lapangan utama kampus yang mulai sepi.
Keanu berjalan mendekat, menyandarkan sikunya di pagar, tepat di sampingku. Jarak kami c**up dekat hingga aku bisa mencium aroma samar kopi dan parfum *woody* miliknya. "Tempat ini punya sejarah buruk buat kita, ya?"
Aku terkekeh tipis, sebuah tawa yang kering. "Aku hampir melempar p****am suaraku ke kepalamu waktu itu. Kau sangat sombong, Keanu. Berdiri dengan lencana emas itu seolah-olah kau memiliki seluruh kampus ini."
"Dan kau sangat keras kepala," balasnya, melirikku dengan senyum miring yang entah mengapa tidak lagi membuatku kesal. "Kau menuduhku mencuci uang tanpa bukti yang kuat, hanya berdasarkan insting jurnalis yang—aku akui sekarang—ternyata sangat tajam."
Hening sejenak di antara kami. Bukan hening yang canggung seperti di awal kerja sama kami, melainkan hening yang penuh dengan beban yang sama. Kami bukan lagi musuh di seberang meja debat. Kami adalah dua orang yang memegang rahasia yang c**up besar untuk meruntuhkan karier orang-orang di gedung rektorat, sekaligus menghancurkan masa depan kami sendiri jika kami terpeleset.
"Jadi," suaraku sedikit bergetar, "apa sekarang? Kita sudah mendapatkan bukti tentang aliran dana dari vendor tenda ke rekening Wakil Rektor III. Besok adalah hari pendaftaran ulang semester baru. Jika kita tidak merilis ini sekarang, mereka akan kembali menaikkan biaya kemahasiswaan untuk menutupi lubang yang mereka buat sendiri."
Keanu menarik napas panjang, menatap lencana BEM yang kini ia genggam di tangannya, bukan lagi ia sematkan di dada. "Aku sudah menyiapkan surat pengunduran diri."
Aku tersentak, memutar tubuh sepenuhnya menghadapnya. "Apa? Keanu, kalau kau mundur sekarang, mereka akan lebih mudah membungkammu. Kau butuh posisi itu sebagai perlindungan."
"Tidak, Alya," potongnya lembut. Ia menatapku dengan intensitas yang membuat napas setinggi tenggorokanku terhenti. "Selama aku masih memakai lencana ini, setiap langkahku akan dianggap sebagai manuver politik. Aku ingin meruntuhkan mereka bukan sebagai Ketua BEM yang kecewa, tapi sebagai mahasiswa yang dikhianati. Aku ingin berdiri di sampingmu, tanpa ada sekat jabatan di antara kita."
Kata-katanya menggantung di udara. 'Berdiri di sampingmu'. Aku menelan ludah, mencoba mencari sisa-sisa sinisme dalam diriku, tapi nihil. Tembok pertahanan yang kubangun berbulan-bulan ini, yang penuh dengan prasangka bahwa dia hanya peduli pada citra, telah runtuh total.
"Tapi risikonya besar," bisikku. "Kau tahu mereka tidak akan tinggal diam. Reputasimu, beasiswamu..."
"Aku lebih takut melihatmu berjuang sendirian dan berakhir seperti narasi-narasi yang pernah kau ceritakan—dibungkam dan dilupakan," Keanu melangkah satu langkah lebih dekat. Tangannya bergerak ragu, sebelum akhirnya mendarat di atas jemariku yang masih mencengkeram pagar besi. Sentuhannya hangat, berbanding terbalik dengan udara sore yang mendingin. "Aku tidak ingin kita hanya menjadi rekan kerja karena terpaksa, Alya."
Aku menunduk, menatap tangan besarnya yang menangkup tanganku. "Lalu, kita ini apa sekarang? Penjahat yang bekerja sama? Atau pahlawan gadungan?"
"Hanya dua orang yang lelah dengan kebohongan," jawabnya pelan. "Dan mungkin... dua orang yang menyadari bahwa mereka tidak seburuk yang mereka kira sebelumnya."
Aku memberanikan diri menatap matanya. Di sana, tidak ada lagi Keanu sang orator yang piawai bersilat lidah. Yang ada hanya seorang laki-laki yang sedang mempertaruhkan segalanya demi sebuah kebenaran. Dan di titik ini, aku sadar bahwa aku bersedia melakukan hal yang sama bersamanya.
Aku menarik tanganku pelan, bukan untuk menjauh, melainkan untuk merogoh saku tas kameraku. Aku mengeluarkan kartu memori kecil yang berisi salinan seluruh dokumen investigasi kami.
"Aku akan mengunggahnya malam ini jam sembilan," kataku dengan suara yang kini lebih mantap. "Semua narasi sudah siap. Videomu, bukti transfernya, dan analisis aliran dananya. Tidak ada jalan kembali, Keanu."
Keanu mengangguk. Ekspresinya mengeras, memancarkan tekad yang sama. "Jam sembilan. Aku akan membagikannya melalui seluruh kanal komunikasi mahasiswa serentak."
Ia kemudian mengambil ponselnya yang bergetar di saku celana. Saat melihat layarnya, raut wajahnya berubah drastis. Alisnya bertaut rapat, dan rahangnya mengatup keras.
"Ada apa?" tanyaku, jantungku mulai berdegup kencang karena firasat buruk.
Keanu memutar layar ponselnya ke arahku. Sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak dikenal. Isinya hanya sebuah foto: foto aku dan Keanu yang sedang berbicara di balkon ini dari jarak jauh, diambil dari sudut gedung seberang, lengkap dengan keterangan singkat di bawahnya.
*‘Langkah yang manis, Ketua. Tapi sepertinya kalian lupa kalau di kampus ini, tembok pun punya mata dan telinga. Batalkan rencana jam sembilan, atau Alya tidak akan pernah sampai ke ruang sidang skripsinya.’*
Darahku terasa membeku. Keanu langsung menarikku menjauh dari pagar, melangkah mundur ke area bayangan yang tidak terlihat dari gedung seberang. Tangannya mencengkeram bahuku, protektif sekaligus gemetar.
"Mereka sudah tahu," bisikku dengan suara yang hampir hilang.
Keanu menatap ke arah gedung rektorat yang berdiri angkuh di kejauhan, lalu kembali menatapku. Matanya tidak lagi menunjukkan keraguan, melainkan kemarahan yang tenang namun mematikan.
"Mereka baru saja melakukan kesalahan terbesar," desisnya. "Mereka pikir ancaman ini akan menghentikan kita, padahal mereka baru saja memberi kita alasan terakhir untuk tidak menyisakan ampun sedikit pun."
Tapi di balik keberaniannya, aku bisa melihat ketakutan di matanya—bukan takut untuk dirinya sendiri, tapi takut karena aku kini menjadi target utama dalam permainan yang baru saja dimulai. Jam di tanganku menunjukkan pukul 17.45. Kami hanya punya waktu kurang dari empat jam sebelum badai itu benar-benar meledak, atau sebelum mereka melenyapkan kami lebih dulu.
Lanjutkan Membaca Bab 22 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!