Lant** tiga gedung kemahasiswaan selalu terasa lebih dingin dari area kampus lainnya, atau mungkin itu hanya perasaan antisipasiku saja yang sedang memuncak. Aku menyesuaikan letak tas kamera yang menyilang di bahu, merasakan beban berat lensa 70-200mm yang seolah-olah menjadi amunisi dalam perang dingin ini. Di dalam kantong jaketku, ponselku menyimpan tangkapan layar laporan dana festival musik tahunan—dokumen PDF yang kutemukan di folder tersembunyi situs resmi kampus, yang menunjukkan selisih angka lima puluh juta rupiah yang menguap begitu saja.
Aku tidak mengetuk pintu ruang BEM yang terbuat dari kayu jati solid itu. Aku mendorongnya ma**k dengan satu sentakan percaya diri yang biasa kupakai saat mengejar nara**mber nakal.
Aroma kopi instan dan tumpukan kertas langsung menyambutku. Di balik meja besar yang tertata rapi, Keanu sedang duduk menyandar. Ia tidak mengenakan jaket almamater kebanggaannya, hanya kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku, menampakkan urat-urat tangan yang menonjol saat ia membalik halaman sebuah proposal.
Ia mendongak. Tidak ada keterkejutan di matanya yang tajam itu. Hanya ada helaan napas panjang yang seolah mengatakan, *‘Ah, kamu lagi.’*
"Alya. Jam bertamu sudah lewat dua jam yang lalu," suara bass-nya tenang, namun berwibawa. Ia meletakkan pulpennya dengan bunyi *klik* yang presisi.
"Untuk sebuah skandal, kurasa tidak ada jam kunjung yang tepat, Presma," balasku pedas, melangkah mendekat hingga berdiri tepat di depan mejanya. Aku tidak berniat duduk. Aku ingin posisi dominan.
Keanu sedikit memiringkan kepalanya. "Skandal? Kata yang c**up berat untuk seorang mahasiswa jurnalistik yang biasanya hanya mengeluhkan soal parkiran motor."
Aku mendengus, tanganku merogoh ponsel dan membantingnya—dengan c**up hati-hati agar layar tidak retak—ke atas mejanya. Gambar laporan dana itu terpampang jelas. "Lima puluh juta, Keanu. Itu bukan sekadar salah ketik. Itu anggaran panggung dan *lighting* yang diklaim sudah dibayar lunas, tapi vendor aslinya mengirimkan surat tagihan kedua ke unit kegiatan mahasiswa bulan lalu. Mau berdalih apa kali ini? Kurang koordinasi? Atau memang lencana di dadamu itu butuh biaya perawatan yang mahal?"
Aku menunggu ledakan. Aku sudah menyiapkan mental untuk bantahan defensif, kemarahan, atau setidaknya pengusiran paksa. Namun, Keanu justru diam. Ia meraih ponselku, memperbesar gambar itu dengan gerakan jempol yang pelan, lalu menatapnya selama beberapa detik.
Keheningan di ruangan itu menjadi menyesakkan. Suara detak jam dinding seolah berdentum di telingaku.
"Kamu dapat ini dari mana?" tanya Keanu lembut. Terlalu lembut.
"Bukan urusanmu. Urusanku adalah memastikan mahasiswa tahu ke mana uang UKT mereka lari," sahutku sinis.
Keanu perlahan bangkit dari kursinya. Ia memiliki tubuh yang c**up tinggi untuk membuatku harus sedikit mendongak, namun aku menolak untuk mundur satu inci pun. Ia berputar menuju lemari kabinet di belakangnya, membukanya dengan kunci kecil yang ia ambil dari saku celana, dan mengeluarkan sebuah map biru tua.
"Duduklah, Alya," perintahnya. Kali ini bukan sebagai permintaan, tapi sebuah instruksi.
"Aku tidak butuh—"
"Duduk," potongnya tegas, matanya menatapku dengan intensitas yang berbeda. Bukan tatapan meremehkan yang biasanya ia berikan saat aku mengkritiknya di forum terbuka. Ini adalah tatapan seseorang yang sedang berdiri di tepi jurang.
Aku terpaksa duduk di kursi plastik di depan mejanya. Keanu melemparkan map biru itu ke hadapanku. Di dalamnya terdapat tumpukan kuitansi asli, catatan tangan dengan tinta merah, dan sebuah laporan yang formatnya serupa dengan yang ada di ponselku, tapi dengan angka-angka yang berbeda.
Aku mengerutkan kening, jemariku membalik kertas-kertas itu dengan cepat. "Apa ini? Laporan tandingan?"
"Itu laporan yang sebenarnya," ucap Keanu sambil bersandar pada pinggiran mejanya, melipat tangan di depan dada. "Yang kamu temukan di *server* kampus itu adalah laporan yang sudah 'dibersihkan' oleh bagian administrasi rektorat sebelum dipublikasikan. Mereka pikir mereka sudah menghapus jejaknya, tapi mereka tidak tahu kalau aku punya salinan asli dari vendor sebelum dikonversi oleh orang-orang di lant** atas."
Aku terpaku. Mataku terpaku pada angka-angka di kertas fisik itu. Selisihnya bukan lagi lima puluh juta, tapi seratus dua puluh juta. "Maksudmu... pihak rektorat yang bermain? Bukan BEM?"
Keanu terkekeh, namun tawanya terdengar getir dan hampa. "Kamu pikir aku sebodoh itu untuk mengorupsi dana festival di tahun terakhirku? Aku memang suka citra yang baik, Alya, tapi aku tidak serendah itu untuk mencuri uang teman-temanku sendiri."
Ia membungkuk, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dariku. Aku bisa mencium aroma samar parfum kayu cendana dan kelelahan yang luar biasa dari napasnya. "Selama dua minggu ini aku diam bukan karena aku mengabaikan masalah ini. Aku sedang mencari tahu siapa di rektorat yang menandatangani disposisi ini tanpa sepengetahuan bendahara umumku."
Aku menelan ludah, egoku yang setinggi langit perlahan retak. Selama ini aku menganggapnya sebagai antek birokrasi, boneka yang hanya bisa tersenyum di depan kamera sementara sistem di belakangnya membusuk. Ternyata, dia berada di dalam pusaran yang sama denganku, hanya saja dia sedang berusaha tidak tenggelam.
"Kenapa tidak lapor? Kenapa tidak buat rilis resmi?" tanyaku, suaraku sedikit bergetar.
Keanu menarik kembali tubuhnya, matanya menatap tajam ke arah pintu ruangannya yang tertutup rapat, seolah-olah ada telinga yang menempel di sana. "Karena kalau aku bersuara sekarang tanpa bukti siapa pelakunya, besok pagi beasiswaku dicabut, BEM dibekukan, dan data yang kamu pegang itu akan hilang selamanya dari sistem. Mereka punya kendali penuh, Alya."
Ia menatapku lagi, kali ini dengan kilatan yang belum pernah kulihat. Sebuah tantangan, tapi juga sebuah permohonan terselubung. "Kamu ingin kebenaran, kan? Kamu ingin membakar habis tikus-tikus ini?"
Aku mengeratkan peganganku pada map biru itu. Jantungku berpacu kencang. Ini jauh lebih besar dari sekadar artikel investigasi untuk blog kampusku. Ini adalah perang terbuka.
"Apa rencana kamu?" tanyaku, akhirnya mengakui bahwa kali ini aku tidak bisa berjalan sendiri.
Keanu mengambil kembali ponselku dari atas meja dan menyerahkannya padaku. Ujung jarinya sempat bersentuhan dengan jemariku, terasa dingin namun stabil.
"Aku punya akses ke ruang arsip digital malam ini, tapi aku tidak punya kemampuan untuk mem-baypass enkripsi folder keuangan mereka tanpa memicu alarm. Aku dengar kamu punya 'kenalan' di anak Teknik Informatika yang bisa melakukan itu dalam lima menit."
Aku menatapnya tidak percaya. Dia benar-benar sudah mempelajariku, sebagaimana aku mempelajarinya.
"Kita akan membobol data rektorat?" bisikku.
Keanu menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyum predator yang berbahaya namun anehnya membuatku merasa aman. "Bukan membobol. Kita hanya mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi hak publik. Jadi, Alya Kirana, apakah lensamu siap memotret sisi gelap yang tidak pernah mereka tunjukkan?"
Belum sempat aku menjawab, gagang pintu ruangan itu berputar dari luar. Kami berdua tersentak. Keanu dengan cepat menutup map biru itu sementara aku menyembunyikan ponselku. Pintu terbuka, menampakkan sosok Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan yang berdiri dengan senyum kaku yang selalu membuat bulu kudukku berdiri.
"Malam, Keanu. Oh, ada mahasiswi berprestasi kita juga di sini? Sedang membicarakan apa sampai seserius ini?" tanya pria itu, matanya berkilat penuh selidik di balik kacamata frameless-nya.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!