Lensa & Lencana: Siasat Ketua BEM

Bab 4: Bab 4 - Mengajak Alya bekerja sama secara rahasia untuk...

Pengaturan Membaca

Cahaya pendar dari layar laptop mulai membuat mataku perih, tetapi deretan angka di hadapanku terasa jauh lebih menyakitkan. Aku menyandarkan punggung ke kursi kayu yang keras di pojok paling gelap kantin fakultas yang sudah tutup. Di bawah remang lampu jalan, lencana emas bertuliskan 'Ketua BEM' yang tersemat di kemejaku terasa seperti beban beton yang menekan dada.

Aku melirik jam tangan. Pukul delapan malam. Seharusnya dia sudah sampai.

Suara langkah kaki yang ritmis dan tegas menggema di koridor semen. Aku mengenali bunyi itu bahkan sebelum sosoknya muncul dari balik pilar. Alya Kirana berdiri di sana dengan jaket denim belelnya, tas kamera tersampir di bahu, dan tatapan mata yang seolah bisa menguliti kebohongan apa pun yang kusembunyikan.

"Sepuluh menit, Keanu," suara Alya datar, nyaris dingin. Ia tidak duduk, hanya berdiri dengan tangan bersedekap. "Kalau ini cuma upaya persuasif supaya aku berhenti mengunggah konten soal dana festival musik, mending aku pulang sekarang. Kartu memoriku terlalu berharga buat merekam omong kosong pencitraanmu."

Aku mengembuskan napas panjang, mencoba menahan ego yang biasanya meledak jika dipicu oleh kalimat tajamnya. Aku menutup laptop, lalu menggeser sebuah map cokelat yang sudah agak lecek ke tengah meja.

"Duduklah, Al. Ini bukan soal pencitraan," kataku pelan, berusaha menjaga nada suaraku tetap rendah.

Alya menatap map itu dengan curiga, lalu beralih menatapku seolah sedang memindai kejujuranku. Akhirnya, dia menarik kursi di hadapanku dengan decitan yang memilukan telinga. Ia duduk, tetapi tubuhnya condong ke depan, siap untuk menyerang kapan saja.

"Apa ini? Surat pernyataan mundur?" sindirnya.

"Buka saja."

Dengan gerakan cekatan, ia membuka map itu. Aku memperhatikan ekspresinya baik-baik. Dari sinis, berubah menjadi bingung, lalu berubah menjadi keterkejutan yang berusaha ia sembunyikan di balik kerutan dahi. Di dalamnya ada dua salinan laporan keuangan: satu laporan resmi yang ditandatangani rektorat, dan satu lagi draf mentah yang kutemukan di b**nkas ruang BEM dua malam lalu.

"Selisih dua ratus juta," bisik Alya, jari-jarinya menelusuri kolom angka yang kutandai dengan stabilo merah. Ia mendongak, matanya berkilat tajam. "Kamu mau bilang kalau kamu baru tahu soal ini? Bukankah kamu yang memegang kendali penuh atas anggaran mahasiswa?"

"Secara administratif, iya. Tapi secara teknis, aliran dana dari universitas langsung ma**k ke vendor melalui bagian keuangan rektorat," jelasku. Aku memajukan kursi, memperpendek jarak di antara kami. "Laporan yang kamu pegang di tangan kiri itu adalah apa yang mereka tunjukkan padaku. Dan yang di tangan kananmu... itu adalah apa yang sebenarnya dibayarkan."

Alya tertawa kecil, tawa yang kering dan tidak enak didengar. "Dan aku harus percaya kalau si 'Anak Emas Rektorat' ini tiba-tiba menjadi pahlawan transparansi? Jangan lucu, Kean. Ini skenario paling klasik yang pernah aku dengar. Kamu ketahuan, lalu kamu mencari kambing hitam di rektorat supaya namamu tetap bersih buat karier politikmu nanti."

Kalimat itu seperti tamparan. Aku mengepalkan tangan di bawah meja. "Kalau aku cuma mau cuci tangan, aku nggak akan menemuimu malam ini. Aku bisa saja menyuap audit internal atau memecat bendaharaku. Tapi masalahnya lebih besar dari itu, Al. Laporan yang dipalsukan ini memakai tanda tanganku. Tanda tangan yang discan tanpa seizinku."

Alya terdiam sebentar. Ia mengambil kamera di tasnya, mengambil gambar setiap lembar dokumen itu dengan cepat. Klik, klik. Cahaya blitz-nya membuat mataku mengerjap.

"Terus, apa maumu?" tanya Alya setelah menyimpan kembali kameranya. "Kenapa menemuiku? Kenapa nggak lapor ke Dekan?"

"Karena Dekan yang menandatangani laporan palsu itu," jawabku telak.

Suasana di sekitar kami mendadak terasa lebih sunyi. Hanya ada suara jangkrik dan dengung mesin pendingin ruangan dari gedung sebelah. Alya tertegun. Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu di semester satu, aku melihat keraguan di matanya.

"Aku butuh aksesmu ke kanal investigasi independenmu," lanjutku, suaraku kini lebih berupa bisikan yang mendesak. "Kamu punya jaringan di luar kampus yang nggak bisa dijangkau oleh birokrasi mereka. Dan aku... aku punya akses ke dokumen-dokumen fisik di dalam kantor mereka. Mereka nggak akan curiga padaku karena mereka pikir aku adalah 'boneka' mereka, seperti yang sering kamu bilang."

Alya menatapku lama, seolah sedang menimbang-nimbang apakah aku adalah sekutu yang berguna atau jebakan yang mematikan. Ia merapikan rambut pendeknya, lalu menghela napas.

"Ini berisiko, Keanu. Kalau mereka tahu kamu berkhianat, beasiswamu, jabatanmu, dan masa depanmu bakal habis dalam semalam. Begitu juga denganku. Aku bisa dikeluarkan dari kampus dengan tuduhan pencemaran nama baik."

"Aku tahu," kataku mantap. "Tapi aku lebih takut memakai lencana ini di atas tumpukan uang yang dicuri dari mahasiswa."

Alya terdiam, menatap lencana emas di dadaku yang memantulkan sedikit cahaya. Ia menarik napas panjang, lalu menutup map cokelat itu dan mema**kannya ke dalam tasnya.

"Satu syarat," kata Alya, nadanya kembali otoriter. "Aku yang memegang kendali atas narasi ini. Kalau aku menemukan bukti bahwa kamu sebenarnya terlibat, aku nggak akan ragu untuk menghancurkanmu bersama mereka."

Aku mengangguk tipis. "Deal."

Alya berdiri, hendak beranjak pergi, namun langkahnya terhenti. Ia menoleh ke arah kegelapan koridor di belakang kami, matanya menyipit waspada.

"Ada apa?" tanyaku, ikut waspada.

"Kamu merasa ada yang mengawasi kita sejak tadi?" bisiknya.

Aku menoleh ke arah yang sama. Di lant** dua gedung administrasi yang seharusnya sudah kosong, aku melihat sekilas bayangan seseorang yang bergerak di balik jendela kaca yang gelap, diikuti oleh kilatan cahaya kecilβ€”seperti pantulan lensa.

Jantungku berdegup kencang. Permainan ini baru saja dimulai, dan sepertinya lawan kami sudah menyadari bahwa boneka mereka sedang mencoba memutus talinya sendiri.

"Pergi sekarang, Al," perintahku pelan tanpa menoleh padanya. "Lewat pintu belakang. Jangan hubungi aku lewat nomor biasa."

Alya tidak membantah. Dengan gerakan cepat, ia menghilang ke dalam kegelapan. Aku menarik napas dalam-dalam, kembali membuka laptopku, dan berpura-pura seolah hanya seorang mahasiswa ambisius yang sedang mengerjakan tugas hingga larut malam, sementara di dalam saku kemejaku, tanganku gemetar hebat.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca