Lensa & Lencana: Siasat Ketua BEM

Bab 5: Bab 5 - Melakukan verifikasi independen terhadap dokume...

Pengaturan Membaca

Cahaya biru dari layar laptop adalah satu-satunya sumber penerangan di kamar kosku yang sempit. Jarum jam di dinding sudah melewati angka dua pagi, tapi mataku masih terpaku pada deretan angka di Microsoft Excel dan pindaian kuitansi yang diberikan Keanu sore tadi. Di sebelah laptop, segelas kopi instan yang sudah dingin menyisakan ampas di dasarnya, sama pahitnya dengan perasaan yang mulai menggerogoti dadaku.

Aku tidak bisa begitu saja percaya pada Keanu. Bagiku, dia tetaplah si "Anak Emas" rektorat dengan senyum pepsodent yang memuakkan. Maka, selama empat jam terakhir, aku melakukan apa yang paling aku kuasai: verifikasi independen.

Jemariku menari di atas *keyboard*, mencocokkan kode vendor pada laporan festival musik yang diunggah secara resmi di situs BEM dengan data transaksi internal yang ada di *flashdisk* Keanu. Aku membuka tab baru, mencari profil perusahaan "Cahaya Event Organizer" yang menerima alokasi dana tenda dan panggung sebesar delapan puluh juta rupiah.

"Sial," desisiku pelan.

Pencarianku di database legalitas perusahaan menunjukkan bahwa alamat kantor Cahaya EO hanyalah sebuah ruko kosong di pinggiran kota yang sudah disita bank sejak dua tahun lalu. Namun, dalam laporan resmi yang ditandatangani oleh Bendahara Umum BEM dan diketahui oleh Keanu, perusahaan ini tercatat sebagai mitra aktif.

Aku beralih ke dokumen rahasia milik Keanu. Di sana, terdapat catatan tangan kecil dan hasil tangkapan layar percakapan WhatsApp. Keanu diam-diam menghubungi pemilik asli vendor tersebut. Fakta yang kutemukan membuat jantungku berdegup kencang: dana yang keluar dari rekening BEM ternyata tidak pernah sampai ke vendor. Uang itu mengalir ke sebuah rekening antara yang samarkan sebagai 'biaya administrasi rektorat'.

Aku menyandarkan punggung ke kursi kayu yang berderit. Mataku terasa panas. Aku teringat pada video investigasi terakhirku yang ditonton oleh lima puluh ribu orang di YouTube. Di video itu, aku menampilkan foto Keanu dengan judul provokatif: *KEANU DAN KAS KAMPUS: KE MANA LARINYA UANG KITA?*

Aku secara terang-terangan menuduh Keanu menggunakan dana tersebut untuk membiayai gaya hidupnya yang glamor—meskipun "glamor" yang kumaksud hanyalah fakta bahwa dia sering mentraktir anggota BEM makan di kafe. Aku menyebutnya sebagai boneka rektorat yang sengaja membiarkan kebocoran anggaran demi mengamankan kursinya.

Kini, bukti di depanku berteriak sebaliknya.

Keanu tidak sedang menikmati uang itu. Dia sedang mengikutinya. Dia mencatat setiap sen yang hilang, menandai setiap tanda tangan yang dipalsukan, dan yang paling mengejutkan, dia menyimpan bukti bahwa tanda tangannya sendiri sering kali dipalsukan oleh oknum di bagian kemahasiswaan untuk mencairkan dana tanpa persetujuannya.

"Kenapa dia tidak bilang dari awal?" gumamku pada kegelapan kamar.

Aku merasa perutku melilit karena rasa bersalah yang akut. Aku adalah orang yang menjunjung tinggi integritas jurnalistik. Namun, kebencian pribadiku pada citra Keanu yang "terlalu sempurna" telah mengaburkan objektivitasku. Aku menyerangnya secara personal, sementara dia sedang berusaha memadamkan api dari dalam gedung yang mulai runtuh.

Aku meraih ponsel, membuka kanal digital "Suara Alya". Komentar-komentar pedas mahasiswa yang menghujat Keanu memenuhi kolom komentar di bawah videoku.

*“Keanu itu cuma modal tampang, ternyata maling juga.”*

*“Alya keren banget berani bongkar si Ketua BEM pencitraan ini!”*

Dulu, komentar seperti itu membuatku merasa menang. Sekarang, mereka terasa seperti tamparan keras di wajahku. Aku telah memberikan peluru kepada massa untuk menembak orang yang sebenarnya sedang berada di pihak yang sama denganku.

Tiba-tiba, sebuah fail tersembunyi di dalam folder 'Internal_Audit' menarik perhatianku. Nama failnya hanya terdiri dari rangkaian angka: *0412_Log.pdf*.

Aku membukanya dengan tangan sedikit gemetar. Itu adalah pindaian surat peringatan dari pihak Rektorat kepada Keanu. Isinya dingin dan mengancam: jika Keanu terus melanjutkan "audit mandiri" yang tidak sah terhadap dana kemahasiswaan, maka beasiswa prestasinya akan dicabut dan dia terancam dikeluarkan dengan tuduhan pencemaran nama baik institusi.

Napas menyentak di tenggorokanku. Dia mempertaruhkan seluruh masa depannya, sementara aku justru sibuk menghancurkan reputasinya dari luar.

Aku memejamkan mata erat-erat, merasakan denyut di pelipis. Bayangan wajah Keanu saat kami bertemu di taman belakang kampus tadi sore terlintas kembali. Matanya yang lelah, bahunya yang sedikit merosot meski dia tetap berusaha berdiri tegak, dan caranya menatapku seolah berkata, *'Tolong, kali ini saja, lihatlah faktanya, bukan aku.'*

Tiba-tiba, notifikasi muncul di layar ponselku. Sebuah pesan anonim ma**k melalui akun resmi "Suara Alya".

*“Berhenti mengorek soal dana festival, Alya. Kamu pikir kamu aman karena punya kamera? Kami tahu di mana kamu tinggal.”*

Aku tertegun. Pesan itu disert** sebuah foto yang diambil dari jarak jauh. Foto itu memperlihatkan aku yang sedang duduk di depan laptop di dalam kamarku sekarang, diambil dari balik jendela lant** dua kosanku.

Rasa dingin menjalar dari tengkuk hingga ke ujung kaki. Aku segera berdiri dan menyambar gorden, menutupnya rapat-rapat hingga tak ada celah sedikit pun. Jantungku berpacu seperti beduk yang dipukul bertalu-talu.

Ternyata ini bukan lagi sekadar soal ego atau video yang viral. Keanu tidak berlebihan saat dia bilang ini berbahaya. Dan sekarang, karena aku terlalu berisik di luar tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di dalam, aku baru saja menaruh sasaran tembak tepat di dahiku sendiri.

Aku meraih ponsel dengan tangan gemetar, mencari satu nama di daftar kontak yang tadinya sangat ingin kuhindari. Aku menekan tombol panggil.

"Halo, Keanu?" suaraku nyaris berbisik saat sambungan terhubung pada nada ketiga. "Kita harus bicara. Sekarang. Aku... aku baru saja mendapat ancaman."

Di seberang sana, keheningan sejenak menyambutku sebelum suara berat Keanu terdengar, penuh kecemasan yang tidak bisa disembunyikan.

"Tetap di tempat, Alya. Jangan keluar kamar. Aku ke sana sekarang."

Aku mematikan telepon, tapi tanganku masih bergetar. Saat itulah aku menyadari sesuatu yang lebih mengerikan. Jika mereka sudah berani mengancamku secara terbuka, apa yang sudah mereka lakukan pada Keanu selama ini tanpa aku tahu? Dan yang lebih penting, siapa sebenarnya "mereka" yang berada di balik semua ini? Karena dokumen di laptopku menunjukkan bahwa jejak aliran dana itu berakhir pada satu nama yang selama ini dianggap sebagai pahlawan di kampus ini.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca