Detak jam tangan digital di pergelangan kiriku terasa seperti dentuman palu di tengah sunyi koridor Rektorat yang mencekam. Pukul 02.15 pagi. Sebagai Ketua BEM, aku biasanya berada di gedung ini untuk rapat formal, menjabat tangan para birokrat dengan senyum sopan yang sudah kulatih di depan cermin. Namun malam ini, lencana kepemimpinan yang biasanya tersemat di kemejaku terasa seperti beban logam yang panas. Aku bukan lagi tamu kehormatan; aku adalah penyusup.
"Berhenti melamun, Keanu. Kamu menghalangi jalan," bisik sebuah suara tajam di belakangku.
Aku menoleh. Alya berdiri di sana, mengenakan jaket *hoodie* hitam yang menelan tubuh mungilnya. Mata cokelatnya yang jeli terus mengamati sekitar, seolah dia bisa melihat jejak digital di udara. Dia tidak terlihat takut. Sebaliknya, ada binar adrenalin yang terpancar dari wajahnya yang kaku.
"Aku hanya memastikan sensor gerak di lobi sudah mati," balasku dengan volume suara yang nyaris tidak terdengar.
"Sudah mati sejak lima menit yang lalu. Aku sudah meretas sistem jadwal pemeliharaannya. Kita punya waktu empat puluh menit sebelum sistem melakukan *reboot* otomatis," Alya mengayunkan dagunya ke arah pintu kaca besar bertuliskan 'Biro Keuangan'. "Ayo. Jangan sampai aku menyesal mengajakmu."
Aku mendengus pelan. Sebenarnya, aku yang lebih dulu berada di jejak ini, tapi berdebat soal siapa yang paling berjasa saat ini adalah tindakan bunuh diri. Aku mengeluarkan kartu akses universal yang kudapatkan dari seorang kontak di bagian sarana prasaranaβkartu yang seharusnya tidak boleh ada di tangan mahasiswa. Bunyi *klik* halus terdengar, dan pintu terbuka dengan desisan pelan yang membuat jantungku mencelos.
Kami ma**k ke dalam kegelapan yang pekat. Bau kertas lama dan pembersih lant** yang tajam menyeruak. Cahaya dari lampu jalan di luar menembus jendela tinggi, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding.
"Meja Pak Harris di sebelah sana," aku menunjuk ke arah bilik di pojok ruangan. "Dia bendahara festival tahun ini. Semua kuitansi asli dan laporan bayangan biasanya disimpan dalam b**nkas dokumen di bawah mejanya."
Alya langsung bergerak tanpa instruksi lebih lanjut. Dia berlutut di depan lemari besi kecil itu, mengeluarkan sebuah alat kecil yang entah dari mana dia dapatkan. Cahaya dari ponselnya yang redup menerangi profil wajahnya yang serius. Aku berdiri di dekat jendela, memantau area parkir dan jalan setapak di bawah.
"Keanu," panggilnya lirih. "Lihat ini."
Aku menghampirinya. Alya berhasil membuka laci kedua. Di sana terdapat map tebal dengan label 'Dana Hibah Sponsor β Festival Musik'. Ketika ia membukanya, lembaran-lembaran angka mulai terpampang.
"Ini tidak ma**k akal," bisik Alya, jarinya menelusuri kolom angka. "Nilai kontrak dengan vendor panggung tertulis dua ratus juta di sini, tapi di rilis pers yang kamu berikan minggu lalu, kamu bilang anggarannya tiga ratus lima puluh juta. Ada selisih seratus lima puluh juta yang menguap ke udara."
Aku merasakan dingin merayap di tengkukku. "Aku hanya menyampaikan angka yang diberikan Rektorat padaku, Al. Mereka bilang itu biaya logistik tambahan."
"Dan kamu percaya begitu saja?" Alya menatapku dengan tatapan meremehkan yang biasanya membuatku marah, tapi kali ini, tatapan itu terasa seperti tamparan kenyataan. "Kamu terlalu sibuk menjaga citra 'Ketua BEM yang Sempurna' sampai tidak sadar mereka menjadikanmu tameng untuk korupsi ini."
Aku baru saja hendak membalas ketika sebuah cahaya senter tiba-tiba menyapu dinding luar gedung. Aku tersentak, refleks menarik bahu Alya agar dia merunduk lebih rendah di balik meja kayu jati itu.
*Deg. Deg. Deg.* Jantungku berpacu liar.
"Petugas keamanan?" tanya Alya tanpa suara, bibirnya nyaris menyentuh telingaku.
"Harusnya mereka hanya berpatroli di gerbang utama jam segini," balasku, mataku terpaku pada pantulan cahaya di kaca.
Langkah kaki terdengar dari arah koridor. Berat dan berirama. Itu bukan langkah sant** petugas keamanan yang bosan. Itu adalah langkah kaki yang mantap, cepat, dan bertujuan. Ada lebih dari satu orang. Suara sepatu bot mereka bergema di lant** marmer, semakin lama semakin dekat.
"Mereka ma**k ke gedung ini," bisikku panik. "Sembunyi!"
Kami merangkak ma**k ke ruang sempit di bawah meja besar Pak Harris. Ruangannya sangat terbatas. Aku bisa merasakan napas Alya yang memburu di dadaku, dan aroma parfum jeruk tipis yang kontras dengan suasana mencekam ini. Aku mematikan ponsel Alya dengan gerakan cepat. Kegelapan total menyelimuti kami.
Pintu biro keuangan terbuka dengan bantingan keras.
"Cek semua sudut. Jangan sampai ada dokumen yang tertinggal. Bapak bilang ada kebocoran informasi," sebuah suara berat memerintah. Itu bukan suara Pak Satpam biasa. Itu terdengar seperti suara orang-orang suruhan yang lebih profesional.
Cahaya senter menyambar-nyambar di atas kepala kami, menembus celah-celah meja. Aku menahan napas, tanganku secara tidak sadar melingkar di bahu Alya, mencoba melindunginya seolah tubuhku bisa menjadi perisai jika mereka mulai menendang meja ini. Aku bisa merasakan tubuh Alya gemetar sedikit, tapi tangannya mencengkeram lengan kemejaku dengan kuat.
"Kosong, Bang," sahut suara lain dari arah rak arsip.
"Cek b**nkasnya. Tadi saya dengar suara klik."
Langkah kaki itu mendekat ke meja tempat kami bersembunyi. Jantungku rasanya ingin melompat keluar. Aku bisa melihat ujung sepatu bot hitam hanya beberapa senti dari tanganku yang bertumpu di lant**. Jika dia menunduk sedikit saja, habislah kami. Karier organisasiku, masa depan Alya, semuanya akan hancur dalam satu malam.
Tiba-tiba, suara radio panggil memecah ketegangan.
*"Unit 2, lapor! Ada pintu terbuka di sayap kiri gedung Fakultas Teknik. Segera ke sana!"*
Pria di depan meja kami berhenti. Dia mendengus kasar. "Teknik? Si****. Ayo, mungkin mereka di sana."
Langkah kaki itu menjauh dengan cepat, diikuti suara pintu yang tertutup kembali. Kami tetap membeku selama beberapa menit, tidak berani bergerak sampai suasana benar-benar sunyi.
Aku melepaskan napas panjang yang sedari tadi kutahan, baru menyadari betapa dekatnya posisi kami. Mata Alya menatapku dalam kegelapan, ada kilat ketakutan yang bercampur dengan sesuatu yang lainβsebuah pengakuan bahwa kami sekarang berada di kapal yang sama.
"Keanu," bisiknya, suaranya parau. "Pintu sayap kiri Teknik itu jauh dari sini. Kenapa pintunya bisa terbuka?"
Aku teringat sesuatu dan merogoh saku jaketku. Kosong. Kunci cadangan yang kupinjam tadi... aku tidak merasakannya. "Al, kunci aksesnya... tidak ada padaku."
Alya menarik diri, wajahnya memucat. "Kalau bukan kamu yang menjatuhkannya sebagai pengalih perhatian... berarti ada orang lain di gedung ini yang ingin kita keluar dengan selamat. Atau sengaja menjebak kita agar lebih dalam lagi."
Aku menatap pintu yang tertutup rapat. Ancaman ini ternyata jauh lebih besar daripada sekadar anggaran musik yang dikorupsi. Kami baru saja mengusik sarang lebah yang sangat besar, dan malam ini hanyalah permulaan dari perburuan yang sesungguhnya.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!