Udara di dalam ruang Biro Keuangan ini terasa lima derajat lebih dingin dibandingkan koridor luar. Mungkin itu karena AC sentral yang terus menderu pelan, atau mungkin hanya imajinasiku yang sedang dipacu adrenalin. Di depanku, layar monitor setebal beberapa inci itu memancarkan cahaya biru yang menyakitkan mata, memantul di lensa kacamataku.
"Alya, cepat sedikit. Penjaga gedung biasanya berputar setiap lima belas menit," bisik Keanu. Ia berdiri di dekat pintu yang sedikit retak, matanya waspada menatap kegelapan lorong gedung rektorat.
Aku tidak menyahut. Jemariku menari di atas kibor, menciptakan bunyi klik yang ritmis dan cepat. Aku sudah berhasil melewati lapisan keamanan pertamaβkata sandi standar yang untungnya belum diganti oleh staf administrasi sejak semester lalu. Begitu ma**k ke direktori utama, mataku langsung menyisir deretan folder dengan nama-nama yang membosankan: *Inventaris_2023, Gaji_Dosen, Dana_Hibah.*
"Aku butuh folder 'Kemahasiswaan', Kean. Di mana mereka menyembunyikan laporan audit festival?" gumamku lebih pada diri sendiri.
"Coba cek di folder tersembunyi atau *drive* jaringan yang dipetakan," saran Keanu tanpa menoleh. Suaranya rendah, berat, dan anehnya memiliki efek menenangkan di tengah situasi g*** ini.
Aku mendengus pelan, tapi mengikuti sarannya. Benar saja, di balik folder sistem yang tampak tidak meyakinkan, ada sebuah partisi terenkripsi. Tanganku sedikit gemetar saat mema**kkan skrip *bypass* sederhana yang kupelajari dari forum peretas legal bulan lalu. Butuh waktu tiga puluh detik yang terasa seperti tiga jam sampai sebuah jendela baru terbuka.
"Ketemu," bisikku penuh kemenangan.
Aku mengklik dokumen berjudul *Laporan_Realisasi_Fesma_Final.xlsx*. Di atas kertasβatau setidaknya di laporan yang dipublikasikan BEM minggu laluβtotal dana yang digunakan mencapai dua ratus juta rupiah. Namun, saat mataku memindai angka-angka di kolom mentah, jantungku seolah berhenti berdetak.
"Kean, lihat ini," aku memberi isyarat padanya.
Keanu melangkah mendekat, berdiri c**up dekat hingga aku bisa mencium aroma tipis kayu cendana dari kemejanya. Ia mencondongkan tubuh, matanya yang tajam menatap deretan angka tersebut.
"Ada selisih tujuh puluh juta," ucap Keanu, suaranya kini terdengar lebih dingin. "Dan lihat kolom 'Penerima Manfaat'. Itu bukan vendor panggung atau penyewaan *sound system*."
Aku menggulir kursor lebih ke bawah, ke bagian riwayat transaksi digital. Hatiku mencelus. Selama ini, aku menaruh curiga pada Keanu. Aku mengira dia adalah Ketua BEM yang haus citra, yang mungkin menyisihkan sedikit uang kas untuk kepentingan organisasinya atau sekadar menjaga nama baik di depan rektor. Aku sudah menyiapkan narasi tajam untuk menghancurkannya di kanal investigasiku.
Namun, data di depanku berkata lain.
"Ini bukan nomor rekening mahasiswa," kataku, suaraku sedikit bergetar. "Kean, ID pengguna yang mengotorisasi transfer keluar ini... 'ADM-REKT-09'. Itu kode akses milik Bendahara Rektorat."
Keanu terdiam. Tangannya terkepal di pinggiran meja. "Pak Gunawan?"
"Dan lihat tanggalnya," aku menunjuk pada catatan waktu transaksi. "Uang itu ditarik keluar hanya dua jam setelah dana cair dari yayasan, bahkan sebelum ma**k ke rekening BEM. Mereka membuat laporan palsu seolah-olah BEM yang menerima dana penuh, padahal kalian hanya menerima sisanya."
Aku menoleh menatap Keanu. Wajahnya yang biasanya tenang dan terkendali kini tampak pias di bawah cahaya monitor. Ada gurat kelelahan yang sangat dalam di sana, sebuah beban yang selama ini ia sembunyikan di balik lencana emas Ketua BEM yang tersemat di dadanya.
"Jadi selama ini..." suaraku melemah, "kau tahu ada yang tidak beres, tapi kau tidak tahu siapa pelakunya?"
Keanu mengangguk pelan, matanya masih terpaku pada layar. "Aku dituduh mahasiswa karena transparansi dana yang buruk. Aku diam karena aku tidak punya bukti untuk membela diri tanpa menarik perhatian pihak atas yang bisa saja langsung membungkamku. Aku butuh data ini, Alya. Aku butuh seseorang yang bisa membacanya tanpa bias."
Aku merasakan hantaman rasa bersalah yang tidak terduga. Semua tajuk rencana yang kutulis, semua sindiran pedas yang kulempar padanya di media sosial... ternyata aku telah menyerang orang yang salah. Dia bukan pelakunya; dia adalah tamengnya. Dia membiarkan dirinya menjadi sasaran kemarahan mahasiswa agar pihak rektorat tidak merasa terancam dan melakukan pembersihan yang lebih ekstrem.
"Ini lebih besar dari sekadar korupsi festival, Kean," kataku sambil mulai menyalin file-file itu ke dalam *flashdisk* merahku. "Jika Bendahara Rektorat terlibat, berarti ada sistem yang melindungi ini. Ini struktural."
"Dan berbahaya," sambung Keanu. Ia kembali menatap pintu. "Alya, jika mereka tahu kita memiliki data mentah ini, mereka tidak akan hanya menjatuhkan sanksi akademik. Mereka akan menghancurkan reputasi kita, atau lebih buruk."
Baru saja aku hendak mencabut *flashdisk* itu, sebuah bunyi klik kecil terdengar dari arah pintu ma**k kantor utama di luar ruangan kecil ini. Langkah kaki yang terukur dan berat bergema di lant** marmer.
Aku dan Keanu membeku. Cahaya lampu senter menyapu celah di bawah pintu ruangan kami.
"Ada orang di sana?" Sebuah suara berat dan serak memecah kesunyian malam. Itu bukan suara penjaga gedung biasa. Itu suara Pak Gunawan.
Keanu segera mematikan monitor dengan satu gerakan cepat, membuat ruangan seketika jatuh ke dalam kegelapan total. Jantungku berdegup kencang, menghantam rusukku seolah ingin melarikan diri. Di tengah kegelapan itu, aku merasakan tangan Keanu meraih jemariku, menggenggamnya eratβsebuah isyarat tanpa kata agar aku tetap tenang.
Langkah kaki itu semakin mendekat. Suara kunci diputar di lubang pintu terdengar sangat nyata di telingaku. Aku menahan napas, menyadari bahwa apa yang baru saja kami temukan bukan lagi sekadar berita utama untuk kanalku, melainkan surat vonis yang bisa mengakhiri masa depan kami berdua jika kami tertangkap malam ini.
Pintu mulai terbuka perlahan, mengeluarkan bunyi derit yang memilukan.
"Tetap di belakangku," bisik Keanu, nyaris tidak terdengar, saat bayangan tinggi besar mulai muncul di ambang pintu.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!