Lampu jalan di sekitar area belakang kampus berpijar redup, menciptakan bayangan panjang yang seolah merayap di aspal yang masih basah sisa hujan sore tadi. Aku menyandarkan punggung di pilar beton gerbang belakang, mencoba menenangkan debar jantung yang tak keruan. Jaket hoodie hitam yang kukenakan terasa berat, seolah menyerap seluruh kecemasan yang bergelayut di kepalaku sejak pertemuan kami di ruang redaksi gelap tadi siang.
Alya keluar dari gerbang dengan langkah cepat. Tas kameranya disampirkan erat di bahu, jemarinya meremas tali tas itu sampai buku-buku jarinya memutih. Dia tidak tahu aku ada di sini. Dia juga tidak tahu bahwa sejak dia melangkah keluar dari gedung fakultas, ada sepasang mata lain yang mengamatinya dari balik kaca helm hitam sebuah motor matik tanpa pelat nomor.
Aku mengembuskan napas panjang, kepulan uap tipis keluar dari mulutku. Instingku sebagai anak yang tumbuh di lingkungan keras sebelum akhirnya "dijinakkan" oleh birokrasi kampus tiba-tiba berteriak nyaring. Motor itu mulai bergerak pelan, menjaga jarak sekitar sepuluh meter di belakang Alya. Pengendaranya mengenakan jaket bomber kusam, gerak-geriknya terlalu metodis untuk sekadar orang yang kebetulan lewat.
Aku mulai melangkah, menjaga jarak agar tetap berada di sisi gelap trotoar.
"Sial," umpatku pelan saat melihat motor itu menambah kecepatan ketika Alya mema**ki gang sempit menuju kosannya.
Alya mulai menyadari ada yang tidak beres. Langkah kakinya yang tadinya konstan kini berubah menjadi setengah berlari. Dia menoleh sekilas, dan dalam keremangan cahaya, aku bisa melihat kilat ketakutan di matanyaβmata yang biasanya memancarkan api pemberontakan yang membuatku kesal sekaligus kagum.
Ketika motor itu meraung lebih keras dan mulai memepet posisi Alya, aku tidak lagi berpikir dua kali. Aku berlari secepat yang aku bisa, memotong jalan melewati tumpukan kayu di sisi gang.
"Alya!" teriakku tepat saat tangan si pengendara terjulur, seolah hendak menarik tas kamera yang tersampir di bahunya.
Alya tersentak, tubuhnya limbung. Sebelum motor itu benar-benar menyentuhnya, aku menerjang maju dan menarik bahu Alya ke belakang tubuhku. Aku berdiri tegak, memasang badan, menatap tajam ke arah kaca helm gelap sang pengendara.
"Mau apa kamu?" suaraku berat, bergema di gang sempit yang sepi itu. Aku mengepalkan tangan, siap jika situasi berubah menjadi adu fisik.
Pengendara itu mengerem mendadak. Ban motornya mencit cit di atas aspal. Selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya, kami hanya saling pandang. Aku bisa merasakan napas Alya yang memburu di belakang punggungku, jemarinya mencengkeram lengan jaketku dengan kuat. Getarannya merambat sampai ke kulitku, membuat rasa tanggung jawab yang asing menyengat dadaku.
Tanpa sepatah kata pun, si pengendara memutar gas dalam-dalam, lalu memacu motornya pergi, menghilang di kegelapan ujung gang.
Hening kembali turun, hanya menyisakan suara deru napas kami yang tidak beraturan. Aku berbalik, menatap Alya yang wajahnya kini sepucat kertas. Matanya yang tajam kini tampak rapuh, berair karena syok yang baru saja menghantamnya.
"Kamu nggak apa-apa?" tanyaku, berusaha melembutkan intonasi suaraku yang masih dipenuhi adrenalin.
Alya tidak langsung menjawab. Dia melepaskan cengkeramannya dari lenganku, mencoba berdiri tegak meski lututnya terlihat gemetar. Dia merapikan tas kameranya dengan gerakan kikuk yang dipaksakan.
"Aku... aku bisa sendiri, Keanu," gumamnya, meski suaranya bergetar hebat. Kebohongan itu terdengar menyedihkan bahkan di telinganya sendiri.
"Jangan keras kepala," potongku cepat. Aku melangkah lebih dekat, mengabaikan jarak yang biasanya kami jaga sebagai 'musuh' politik kampus. "Orang itu tadi tidak hanya ingin menjambret tasmu. Dia sengaja mengikutimu sejak dari gerbang. Kamu dalam bahaya, Alya. Kita dalam bahaya."
Alya mendongak, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada amarah di sana, tapi juga ada pengakuan yang enggan. "Ini gara-gara data dana festival itu, kan? Mereka mulai mengirim orang untuk menakutiku."
"Bukan 'kamu', tapi 'kita'," aku mengoreksinya dengan tegas. "Aku yang membawa data itu kepadamu. Aku yang memintamu menyelidikinya bersamaku. Kalau sampai terjadi sesuatu padamu, itu tanggung jawabku."
Aku melihat setitik air mata menggenang di sudut matanya sebelum dia cepat-cepat menyekanya. Alya Kirana yang tangguh sedang hancur di depanku, dan entah mengapa, pemandangan itu membuat dadaku terasa jauh lebih sesak daripada saat aku menghadapi mosi tidak percaya di sidang BEM.
"Aku nggak butuh pahlawan, Kean," bisiknya lirih, tapi dia tidak melangkah pergi.
"Aku bukan pahlawan. Aku cuma nggak mau kehilangan satu-satunya orang yang c**up g*** untuk membantuku membongkar busuknya tempat ini," balasku sambil memberikan isyarat agar dia berjalan di sisi dalam trotoar, sementara aku menjaganya dari sisi jalan. "Ayo, aku antar sampai depan pintu kosmu. Dan mulai besok, jangan pernah jalan sendirian setelah jam tujuh malam."
Kami berjalan dalam diam yang canggung namun sarat akan ketegangan. Setiap suara knalpot di kejauhan membuat bahu Alya menegang, dan setiap kali itu terjadi, aku secara tidak sadar bergerak lebih mendekat, memastikan bayanganku menyelimutinya.
Sesampainya di depan gerbang kosnya yang tinggi, Alya berhenti. Dia berbalik, menatapku lama. Cahaya lampu teras kosan menyinari wajahnya, memperlihatkan gurat kelelahan yang selama ini dia sembunyikan di balik layar laptopnya.
"Kenapa kamu melakukan ini?" tanyanya pelan. "Maksudku, kamu bisa saja memberikan data itu ke orang lain, atau membiarkan aku diintimidasi supaya aku berhenti mengkritikmu. Hidupmu akan jauh lebih tenang tanpa aku yang terus-menerus mencari kesalahanmu."
Aku menatap lencana BEM yang masih tersemat di kerah kemeja di balik jaketku. Lencana yang dulu kupikir adalah simbol kekuasaan, namun kini terasa seperti beban yang menarikku ke dasar jurang.
"Karena kalau aku membiarkan mereka membungkammu, maka aku memang benar-benar hanya boneka yang mereka bayangkan," jawabku jujur. "Dan karena... aku butuh kamu tetap ada untuk mengingatkanku kalau aku salah."
Alya tertegun. Untuk pertama kalinya, tidak ada sinisme di bibirnya. Dia hanya mengangguk pelan, lalu berbalik ma**k ke dalam gerbang. Namun, sebelum pintu itu tertutup, dia menoleh sedikit.
"Hati-hati di jalan, Kean. Mereka mungkin juga mengincarmu."
Aku menunggu sampai lampu kamarnya di lant** dua menyala sebelum aku berbalik pergi. Namun, saat aku berjalan menuju parkiran motor, sebuah getaran di saku celanaku menghentikan langkahku. Sebuah pesan ma**k dari nomor tidak dikenal.
*Jangan terlalu jadi pahlawan untuk gadis itu kalau kamu masih ingin memakai lencana itu besok pagi.*
Aku menoleh ke sekeliling. Jalanan itu tampak kosong, namun aku tahu, di balik jendela-jendela gelap gedung kampus yang menjulang, ada mata yang sedang mengawasiku dengan dingin. Permainan ini baru saja berubah menjadi sangat nyata, dan taruhannya bukan lagi sekadar jabatan, melainkan nyawa kami.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!