Aroma kopi tubruk yang terlalu manis menyengat hidungku, bercampur dengan bau asap rokok dari meja sebelah. Aku melirik jam tangan untuk kelima kalinya dalam sepuluh menit. Di sudut warung tenda pinggiran kota yang remang ini, aku merasa seperti sedang memerankan film detektif kelas dua. Bedanya, ini bukan film. Ini adalah pertaruhan karir amatirku sebagai jurnalis kampus, dan mungkin, masa depan seseorang yang duduk di hadapanku.
Pak Mulyono, mantan staf administrasi bagian keuangan Universitas Pelita Bangsa, terlihat sepuluh tahun lebih tua dari foto profil LinkedIn yang sempat kuselidiki. Kemeja batiknya tampak pudar di bagian kerah, dan jemarinya tak henti-hentinya memilin pinggiran taplak plastik meja yang bermotif bunga kusam. Matanya tidak pernah benar-benar menatapku; mereka selalu melayang ke arah pintu ma**k, waspada terhadap setiap motor yang berhenti di depan warung.
"Pak Mul," suaraku merendah, mencoba terdengar selembut mungkin namun tetap tegas. "Saya tahu ini sulit. Tapi data yang saya temukan di laporan festival itu tidak ma**k akal. Ada selisih ratusan juta rupiah yang menguap begitu saja."
Pak Mulyono tersenyum kecut, sebuah tarikan bibir yang lebih mirip ringisan kesakitan. "Ratusan juta itu hanya permukaan, Mbak Alya. Anda ini masih mahasiswa, masih punya banyak waktu untuk lulus dan mencari kerja yang tenang. Kenapa harus mengusik sarang lebah?"
Aku menggeser kursi sedikit lebih dekat, mengabaikan decit kayu yang bergesekan dengan lant** semen. "Karena sarang lebah itu dibangun dengan uang kami. Uang mahasiswa. Dan karena Bapak dipecat hanya karena menanyakan soal kwitansi ganda itu, bukan?"
Pria itu tersentak. Kepalanya menunduk dalam, menyembunyikan ekspresi yang campur aduk antara amarah dan keputusasaan. "Saya punya cicilan rumah, Mbak. Istri saya baru saja sembuh dari sakit. Mereka tidak hanya memecat saya; mereka mengancam akan memastikan saya tidak akan pernah bisa bekerja di institusi pendidikan manapun di kota ini jika saya 'bernyanyi'."
Aku merasakan denyut kemarahan di pelipisku. Pola ini selalu sama—bungkam mereka yang jujur, lindungi mereka yang punya kuasa. Aku teringat Keanu. Ketua BEM yang biasanya terlihat angkuh dengan almamaternya yang licin itu ternyata sedang menghadapi monster yang sama di dalam gedung rektorat. Bayangan Keanu yang sedang menunduk di depan tumpukan berkas rahasia malam itu di ruang BEM melintas di benakku. Jika si "boneka kampus" itu saja berani mengambil risiko, kenapa aku tidak?
"Pak Mul, lihat saya," pintaku. Kali ini, ia mengangkat wajahnya. "Saya tidak bekerja sendiri. Saya punya akses untuk mempublikasikan ini secara luas. Jika ka**s ini meledak di ranah publik, mereka tidak akan berani menyentuh Bapak karena sorotan kamera akan ada di mana-mana. Keamanan Bapak adalah prioritas kami."
"Kami?" Pak Mulyono menyipitkan mata. "Siapa 'kami'? Pers mahasiswa yang anggarannya masih disubsidi rektorat?"
Aku menarik napas panjang. "Saya dan seseorang yang punya posisi di dalam. Seseorang yang tahu persis bagaimana sistem ini bekerja dari dalam."
Pak Mulyono tertawa hambar, suaranya serak. "Janji mahasiswa selalu manis, Mbak. Tapi saat tekanan datang, saat beasiswa kalian terancam, saat ancaman DO itu ada di depan mata... kalian akan lari. Saya sudah melihatnya berkali-kali selama dua puluh tahun saya mengabdi di sana."
Ia bangkit dari kursinya, tangannya gemetar saat merogoh saku untuk mengeluarkan uang sepuluh ribu rupiah guna membayar kopinya yang bahkan belum tersentuh separuh.
"Pak, tunggu!" aku ikut berdiri, nyaris menyenggol gelas teh obengku. "Bapak adalah satu-satunya orang yang memegang bukti fisik transfer ke perusahaan cangkang itu. Tanpa kesaksian Bapak, semua ini hanya akan jadi rumor di media sosial yang akan hilang dalam dua hari."
"Maka biarkan itu jadi rumor," desis Pak Mulyono, suaranya tiba-tiba tajam karena ketakutan yang memuncak. "Kemarin malam, ada motor hitam yang terparkir di depan rumah saya sampai subuh. Mereka tahu di mana anak saya sekolah, Mbak Alya. Apa Anda bisa menjamin mereka tidak akan menyentuh keluarga saya? Apa jaminan Anda?"
Aku tertegun. Kata-kataku tertahan di tenggorokan. Idealismeku yang biasanya menggebu-gebu mendadak terasa tumpul berhadapan dengan ketakutan nyata seorang ayah. Aku ingin memberikan jaminan, tapi di dunia yang dikendalikan oleh uang dan intimidasi, apa yang bisa diberikan oleh seorang mahasiswa semester enam?
Pak Mulyono melangkah pergi, bahunya merosot, menghilang di balik kerumunan orang yang sedang mencari makan malam di trotoar. Aku terduduk kembali, merasa kalah. Ponselku bergetar di atas meja. Sebuah pesan WhatsApp ma**k.
*Keanu: Alya, jangan kembali ke kosanmu malam ini. Aku baru saja keluar dari ruang Wakil Rektor III. Mereka tahu kau menemui Mulyono.*
Jantungku mencelos. Aku menoleh ke sekeliling warung. Di seberang jalan, di bawah bayangan pohon m***ni yang besar, sebuah motor sport hitam dengan pengendara yang masih mengenakan helm *full-face* tampak diam, memperhatikan ke arah warung tempatku berada. Lampu depannya berkedip sekali, seperti sebuah kode, atau mungkin sebuah peringatan.
Aku meremas ponselku kuat-kuat, merasakan keringat dingin mulai membasahi punggung. Aliansi rahasia yang kubangun dengan Keanu ternyata telah menarik perhatian predator yang lebih besar dari yang kubayangkan. Dan sekarang, aku bukan lagi hanya sekadar pengamat yang memegang kamera; aku telah menjadi target utama dalam permainan yang mereka kendalikan.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!