Aroma lulur rempah dan minyak esensial yang kugunakan semalam seolah masih melekat di bawah permukaan kulitku, memancarkan wangi samar yang hanya bisa kurasakan jika aku menghirup napas dalam-dalam. Aku berdiri di depan cermin besar di koridor fakultas, mematut diri. Kemeja sutra berwarna krem yang kukenakan jatuh dengan sempurna di lekuk bahuku yang kini terasa lebih halus, hasil dari ritual berjam-jam di balik pintu kamar mandi kost yang lembap. Aku bukan lagi Siska yang kusam; aku adalah kanvas yang sedang disempurnakan.
Di ujung koridor, sosok itu muncul. Pak Adrian berjalan dengan langkah panjang yang berwibawa, tas kulit cokelat tua tersampir di bahunya. Kacamata berbingkai perak yang bertengger di hidungnya memberikan kesan dingin sekaligus menggoda. Biasanya, aku akan menunduk atau pura-pura sibuk dengan ponselku saat dia lewat. Namun hari ini, jemariku yang baru saja dipoles kuku bening mengencang pada map di pelukanku.
Aku tahu satu hal yang tidak diketahui mahasiswi lain, bahkan tidak diketahui oleh Amara yang selalu merasa paling dekat dengannya. Pak Adrian sedang mengerjakan riset pribadi tentang restorasi keramik kuno Dinasti Ming—sebuah obsesi yang pernah tak sengaja kudengar saat aku bersembunyi di balik rak perpustakaan pusat bulan lalu.
"Pak Adrian," panggilku. Suaraku tidak bergetar. Itu adalah suara yang telah kulatih berulang kali di depan cermin kamar mandi.
Langkah kaki itu terhenti. Adrian menoleh, sedikit mengernyit seolah mencoba mengingat siapa aku di antara ratusan mahasiswa yang dia ajar. "Ya? Siska, benar?"
Aku tersenyum tipis, jenis senyum yang tidak memperlihatkan gigi, persis seperti yang sering kulihat dilakukan Amara saat merayu pria di klub. "Saya menemukan literatur yang Bapak cari. *The Aesthetics of Imperial Porcelain* cetakan tahun 1985. Saya punya salinan digitalnya dari arsip paman saya di Belanda."
Mata di balik lensa kacamata itu seketika melebar. Ketertarikan—sebuah percikan yang selama ini hanya diberikan kepada Amara—kini terarah sepenuhnya padaku. "Kamu tahu tentang riset itu? Saya tidak pernah membahasnya di kelas."
"Saya hanya... memerhatikan, Pak," jawabku pelan, membiarkan kalimat itu menggantung dengan makna ganda. Aku melangkah setapak lebih dekat, c**up dekat hingga aku yakin dia bisa mencium aroma melati dan cendana yang menguar dari leherku. "Saya pikir Bapak mungkin membutuhkannya untuk bab ketiga tulisan Bapak."
Adrian tampak tertegun selama beberapa detik. Dia tidak mundur. Justru, dia memiringkan kepalanya sedikit, menatapku dengan intensitas yang membuat perutku mulas karena senang. "Siska, saya terkesan. Sangat sedikit mahasiswa yang memiliki ketelitian seperti kamu."
Tepat saat suasana di antara kami mulai terasa intim, sebuah suara nyaring memecah keheningan koridor.
"Pak Adrian! Oh, untung Bapak masih di sini!"
Amara datang dengan langkah yang sengaja dibuat berisik, sepatu hak tingginya berdentang di atas lant** marmer. Dia mengenakan blus merah menyala dengan potongan dada rendah, sangat kontras dengan penampilanku yang lebih tertutup namun elegan. Dia langsung menyelinap di antara aku dan Adrian, mencoba memutus kontak mata kami.
"Pak, soal draf esai saya yang kemarin... ada bagian yang sepertinya perlu kita diskusikan lebih lanjut. Mungkin sambil minum kopi?" Amara melempar senyum andalannya, tangan lentingnya menyentuh lengan jas Adrian dengan gerakan yang sangat natural—atau setidaknya, biasanya terlihat natural.
Namun hari ini, Adrian tampak terganggu. Dia melepaskan sentuhan Amara dengan halus untuk kembali menatapku. "Maaf, Amara. Saya sedang membicarakan hal penting dengan Siska. Mungkin lain kali."
Wajah Amara berubah seketika. Semburat merah yang bukan berasal dari perona pipi muncul di lehernya. Dia melirikku, matanya menyipit penuh selidik, seolah baru menyadari bahwa 'si kutu buku yang tak terlihat' ini tiba-tiba memiliki keberanian untuk berdiri di wilayah kekuasaannya.
"Penting?" Amara tertawa kecil, nada suaranya tajam. "Siska? Sejak kapan kamu tertarik dengan hal-hal di luar buku teks, Sis? Bukannya kamu biasanya langsung pulang ke kost untuk... entahlah, mencuci baju?"
Aku merasakan gelombang amarah, tapi aku menekannya dalam-dalam. Aku hanya menatapnya dengan tenang, mempertahankan postur tubuhku yang tegak. "Ada banyak hal yang tidak kamu ketahui tentang aku, Mara. Sama seperti kamu yang tidak tahu tentang minat Pak Adrian pada keramik Ming, bukan?"
Suasana mendadak menjadi tegang. Adrian berdeham, merasa kecanggungan yang mulai memadat di udara. "Siska, kirimkan file itu ke email pribadi saya. Saya ingin mendiskusikannya lebih lanjut denganmu di jam bimbingan besok. Secara privat."
Kata 'privat' itu menghantam Amara seperti tamparan fisik. Dia berdiri mematung saat Adrian memberikan anggukan sopan padaku dan berjalan pergi.
Setelah Adrian menghilang di balik belokan koridor, Amara berbalik menghadapku sepenuhnya. Topeng keceriaannya telah tanggal, menyisakan wajah penuh kebencian yang selama ini disembunyikannya di balik kata-kata manis 'teman kost'.
"Apa yang kamu lakukan, Siska?" desisnya, melangkah mendekat hingga wajah kami hanya berjarak beberapa inci. "Kamu pikir dengan mengubah gaya rambut dan memakai parfum mahal, kamu bisa merebut perhatiannya? Jangan mimpi. Kamu tetaplah Siska yang membosankan dan menyedihkan."
Aku tidak mundur. Aku justru menikmati ketakutan yang terpancar dari matanya—ketakutan akan kehilangan status sebagai pusat perhatian. Aku mendekatkan bibirku ke telinganya, membisikkan kata-kata yang sudah lama ingin kuucapkan.
"Porselen yang indah butuh proses pembakaran yang sangat panas, Mara. Kamu hanya hiasan plastik yang mudah meleleh jika suasananya mulai memanas."
Aku berjalan melewatinya tanpa menoleh lagi, meninggalkan Amara yang gemetar karena amarah di tengah koridor. Namun, saat aku sampai di tangga, aku merasakan ponselku bergetar. Sebuah pesan ma**k dari nomor yang tidak kukenal.
*Aku melihat apa yang kamu lakukan di kamar mandi malam itu, Siska. Sangat cantik, sekaligus sangat mengerikan.*
Jantungku seolah berhenti berdetak. Aku menoleh ke sekeliling, tapi koridor sudah sepi. Rahasia yang kusimpan di balik pintu porselen itu... apakah seseorang telah melihatnya?
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!