Aroma sabun mahal dan sisa uap hangat merayap keluar dari celah pintu kamar mandi, memenuhi lorong kost yang biasanya berbau apek detergen murah. Aku bersandar di dinding, menyilangkan lengan di depan dada sambil memperhatikan pintu kayu kamar Siska yang sedikit terbuka. Ada sesuatu yang berubah dari gadis itu, dan instingku mengatakan bahwa perubahan ini bukan sekadar soal pemakaian *skincare* baru atau gaya berpakaian yang tiba-tiba menjadi lebih berani.
Siska yang dulu adalah bayangan. Dia adalah noda pudar di pojok ruangan yang tak akan dilirik siapa pun. Namun belakangan ini, dia berjalan dengan dagu yang sedikit lebih terangkat, meskipun matanya tetap menyimpan ketakutan yang aneh.
Aku melangkah ma**k ke kamarnya tanpa mengetuk. Siska sedang tidak ada di sana; suara gemericik air dari kamar mandi umum di ujung lorong memberitahuku bahwa dia sedang melakukan ritual "porselen"-nya yang memakan waktu berjam-jam itu. Kamarnya rapi, terlalu rapi, seolah setiap benda diletakkan dengan penggaris. Mataku tertuju pada ponselnya yang tergeletak di atas meja belajar, di samping tumpukan buku referensi mata kuliah Hukum Perdata.
Layar ponsel itu menyala. Sebuah notifikasi muncul. Hanya satu baris kalimat, tapi c**up untuk membuat jantungku berdegap lebih kencang karena rasa tidak percaya.
*“Terima kasih untuk malam ini, Siska. Kamu selalu tahu cara membuatku tenang. Sampai bertemu di kelas besok.”*
Nama pengirimnya tertera jelas: **Pak Adrian**.
Tanganku bergerak sendiri, meraih ponsel itu sebelum otakku sempat melarang. Ponsel itu tidak terkunci—mungkin Siska terlalu percaya diri atau terlalu terburu-buru tadi. Aku membuka aplikasi pesan instan tersebut. Jempolku gemetar saat menggulir percakapan ke atas. Foto-foto, pesan-pesan bernada kerinduan, bahkan jadwal pertemuan rahasia di sebuah kafe tersembunyi di pinggiran kota.
Ini bukan sekadar bimbingan akademik. Ini adalah skandal yang bisa menghancurkan reputasi siapa pun di kampus ini.
"Apa yang kamu lakukan di kamarku?"
Suara itu dingin dan tajam. Aku menoleh. Siska berdiri di ambang pintu, terbungkus jubah mandi putih tebal dengan rambut yang dibungkus handuk. Wajahnya yang biasanya pucat kini memerah karena uap air—atau mungkin karena amarah. Kulitnya terlihat sangat halus, hampir transparan, hasil dari obsesi g***nya selama ini.
Aku tidak meletakkan ponsel itu. Malah, aku mengangkatnya tinggi-tinggi, memamerkan layar yang masih menyala ke arahnya. "Jadi, ini rahasia di balik transformasi 'luar biasa' kamu, Sis? Kamu tidak hanya merombak tubuhmu, tapi juga merombak nilai akademikmu lewat ranjang dosen paling bergengsi di kampus kita?"
Wajah Siska seketika memucat, lebih putih dari porselen yang dia puja. Dia melangkah maju, tangannya gemetar mencoba meraih ponselnya, tapi aku dengan tangkas menghindar.
"Kembalikan, Amara! Itu bukan urusanmu!" suaranya m****ik, pecah di udara yang lembap.
"Bukan urusanku?" Aku tertawa, tawa yang terdengar sinis bahkan di telingaku sendiri. Aku berjalan mengelilinginya, memperhatikannya dari ujung kepala hingga ujung kaki seperti seorang predator yang sedang menilai mangsanya. "Kamu tahu betapa kerasnya aku berusaha menarik perhatian Adrian? Dan kamu, si kutu buku yang malang, tiba-tiba ma**k dan mencuri apa yang seharusnya menjadi milikku dengan cara kotor seperti ini?"
"Kami saling mencint**!" Siska berteriak, matanya mulai berkaca-kaca. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang kami!"
"Cinta? Jangan naif, Siska. Di mata pihak kampus, ini namanya pelecehan kode etik. Di mata istri Pak Adrian—oh, tunggu, dia belum punya istri, kan? Tapi tetap saja, di mata dewan etik universitas, ini adalah tiket satu arah menuju drop-out bagi mahasiswa dan pemecatan tidak hormat bagi dosen kesayangan kita itu."
Aku menekan tombol kunci di ponselnya dan menyimpannya di saku belakang celanaku. Suasana kamar itu terasa semakin sempit. Aku bisa mencium aroma mawar dan cendana dari tubuh Siska, aroma yang sangat dewasa, sangat menggoda. Dia benar-benar telah berubah menjadi wanita yang berbeda. Tapi di mataku, dia tetaplah Siska yang menyedihkan.
"Apa mau mu?" tanya Siska pelan. Dia terdengar kalah. Dia duduk di tepi tempat tidurnya, bahunya merosot seolah beban seluruh dunia baru saja dijatuhkan ke atasnya.
Aku mendekat, membungkuk hingga wajahku hanya berjarak beberapa senti dari telinganya. "Sederhana saja. Jauhi dia. Berhenti menemuinya, berhenti mengiriminya pesan, dan berhenti bertingkah seolah kamu adalah ratu di kost ini hanya karena kamu berhasil naik ke tempat tidurnya."
Siska mendongak, matanya menatapku dengan kebencian yang murni. "Kamu iri, kan? Kamu benci karena dia memilihku daripada kamu yang selalu pamer kemolekan di depannya setiap hari."
Aku menamparnya. Tidak terlalu keras, tapi c**up untuk meninggalkan bekas kemerahan di pipinya yang sehalus sutra itu. "Jangan pernah bandingkan aku denganmu. Aku punya harga diri. Sedangkan kamu? Kamu hanyalah boneka porselen yang akan pecah begitu aku menjatuhkan bukti ini ke meja Dekan."
Aku melangkah menuju pintu, berhenti sejenak sebelum benar-benar keluar. "Aku memberimu waktu sampai besok pagi untuk memutuskan. Pilih masa depanmu dan masa depan karier Adrian, atau pilih ego kecilmu yang haus perhatian itu. Jika besok aku masih melihatmu mendekatinya di kampus... aku tidak akan ragu untuk menekan tombol kirim ke grup chat angkatan kita. Bayangkan, Siska, semua orang akan tahu betapa 'berbakatnya' kamu di luar jam kuliah."
Aku keluar dari kamarnya dan menutup pintu dengan dentuman keras. Jantungku masih berpacu. Ada kepuasan aneh yang menjalar di nadiku, tapi juga ada rasa pahit yang tak bisa kujelaskan.
Saat aku berjalan menyusuri lorong menuju kamarku sendiri, aku sempat menoleh ke belakang. Pintu kamar Siska tertutup rapat, tapi aku bisa mendengar isak tangis yang tertahan dari balik pintu itu. Aku tahu aku telah memenangkan babak ini, tapi entah mengapa, aku merasa Siska tidak akan menyerah begitu saja. Gadis yang sanggup menyiksa dirinya sendiri demi kecantikan fisik tidak akan membiarkan kebahagiaannya dirampas tanpa perlawanan yang lebih ekstrem.
Aku ma**k ke kamarku, mengunci pintu, dan mengeluarkan ponsel Siska. Satu pesan baru ma**k.
*“Aku merindukanmu, Siska. Jangan lupa pakai gaun biru yang aku belikan kemarin.”*
Aku tersenyum tipis, sebuah seringai yang penuh rencana gelap. Permainan ini baru saja dimulai. Dan aku pastikan, porselen cantik itu akan hancur berkeping-keping sebelum sempat berkilau lebih lama.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!